Michael Fassbender

Frank (2014) : Off Key, Nails-on-Blackboard You Want to Hear, Weirdness Redeems its “Big Headed” Mission

Director : Lenny Abrahamson

Writer : Jon Ronson (screenplay), Peter Straughan(screenplay)

Cast : Michael Fassbender, Domhnall Gleeson, Maggie Gyllenhaal

Remember that scene where Elizabeth Shaw put Fassbender’s head in the bag ? She still has it.

(REVIEW) Jika Magneto memakai helmet agar kepalanya tidak terbaca dan dipengaruhi Charles, kali ini dia memakai kepala besar imut yang menutup 100% kepalanya dan mempengaruhi isi kepala penonton. Melihat kepala Frank ibarat melihat senyum Monalisa : secara fisik dan visual menarik perhatian ; dan membawa sisi misteri yang selalu mem-provoke untuk melihat isi di dalamnya. What if being “ourselves” means being “somebody else ?”, what if being “original” means being “un-original to ourselves ?“, yeah pertanyaan random itulah yang muncul seusai menonton Frank.

Jon (Domnhal Gleeson), uninspiring musician without any song, bisa mencari inspirasi bermusik dari apa saja, tapi tak satupun menjelma menjadi satu lagu utuh. Ia hidup normal dengan keluarga, dan pekerjaan serta hidup lewat ekspektasinya “akan menjadi terkenal”. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan social media-nya yang memiliki reality – virtual gap yang begitu besar (besides, he plays with narcissistic hashtag, though he only has 18 followers). Hingga akhirnya, secara accidentalia bergabung pada satu band unik yang digawangi leader eksentrik yang memakai kepala palsu sepanjang waktu – Frank (Michael Fassbender) dan anggota band lain yang tak turut kalah aneh, salah satunya Clara (Maggie Gyllenhaal).

(more…)

Advertisements

12 Years A Slave (2013) : Solomon Northup’s Biography, Is This The Best Picture of American Brutal History ?

Director : Steve McQueen

Writer : John Ridley, Solomon Northup

Cast : Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Sarah Paulson, Lupita Nyong’o, and Brad Pitt

Seperti sebuah projek balas dendam ketika Shame di tahun kemarin menjadi salah satu film yang ter”underrated” dan kurang terbawa oleh arus awards. Kini, 12 Years A Slave tampil dimana-mana, berpredikat sebagai “fruntrunner” untuk berbagai award, untuk berbagai kategori.

Apa yang kita lakukan menghadapi sebuah lose-lose situation yang terjadi di daratan Amerika sekitar 200 abad silam ? Memang tidak semua orang menghadapi situasi ini, hanya berbagai “kalangan”. Penduduk kulit hitam harus menghadapi perdagangan budak dan diperparah ketika sebagian dari mereka “bebas”, mereka akan diculik kemudian dijadikan budak. Yeah, tema slavery memang menjadi salah bahan untuk dibuat film yang tidak pernah ada habisnya.

Solomon (Chiwetel Ejiofor), seorang musisi kulit hitam yang sukses dan cukup beruntung di masanya karena memiliki keluarga yang bahagia seketika menghadapi kenyataan mimpi buruk ketika ia diperdaya dan masuk dalam jual beli budak. Tak ada yang percaya atau memilih untuk pura-pura tidak percaya ketika ia menjelaskan bahwa ia adalah seorang “freeman” yang tidak terikat siapapun. Solomon pu  dijual oleh Freeman (Paul Giamatti) ke seorang pemilik perkebunan yang baik namun terjebak pada situasi slavery, Ford (Benedict Cumberbatch). Kepintaran dan bakat Solomon berhasil menarik hati sang pemilik kebun, namun di sisi lain, ia juga menimbulkan konflik pada pengamat budak, Tibeats (Paul Dano) yang mengancam akan membunuhnya. Demi untuk menyelamatkan Solomon, ia pun dipindahtangankan ke pemilik tanah penuh perhitungan dan kejam Edwin Epps (Michael Fassbender). Disinilah runtutan-runtutan kejadian brutal dan “lebih kejam” harus disaksikan Solomon, termasuk situasi rumit yang dihadapi salah seorang budak Patsey (Lupita Nyong’o) yang mendapatkan perilaku spesial dari Edwin dan juga istrinya (Sarah Paulson). Ketika harapan demi harapan mulai pupus, seorang kulit putih, Bass (Brad Pitt) datang dan mungkin bisa menjadi kesempatan terakhir untuk Solomon kembali ke keluarganya, berhasilkah ia ?

“Painfully acted, and quite a “picture” for something that really happened.”

Dengan catatan hanya pernah melihat Shame dan juga 12 Years A Slave, salah satu kelebihan dari Steve Mcqueen adalah bagaimana mengolah sesuatu yang tergolong disturbing menjadi sebuah sajian yang begitu mengalir dan enak untuk disimak tanpa kehilangan “kedalaman” dari tema yang diangkat. Yeah bagaimana Steve Mcqueen menghadirkan adegan threesome antara Brandon dan dua gadis lainnya di Shame bukanlah sekedar adegan seks biasa namun lebih dalam lagi yaitu keadaan psikologis dari Brandon sang tokoh utama. Sama seperti di Shame, 12 Years A Slave bisa dikatakan dari awal sampai akhir durasi menghadirkan berbagai torture siksaan yang begitu sadis dan begitu brutal. Sempat berpikir pada sebuah ekspektasi “I am gonna stuck at some slavery-circumtance” yang membosankan namun film ini mampu menampilkan berbagai circumtances perbudakan yang menarik sekaligus mengalir.

Salah satu sisi menarik yang berhasil ditampilkan adalah ketika kita melihat sebuah film dengan tema seperti ini, kita sering berasumsi sendiri “yeah, the white guys are the bad guys, the black guys are the victims”. Pemandangan yang sangat menarik ketika melihat salah satu cerita menceritakan tuan tanah Ford yang digambarkan sebagai tuan tanah yang penuh kasih sayang namun juga terjebak pada situasi perbudakan yang membuatnya seakan berperilaku sama. Sisi inilah yang sedikit “membuka mata” bahwa sebagian orang kulit putih juga terjebak dengan situasi ini, ketika mereka ingin membela kulit hitam sama halnya mereka harus memerangi ras mereka sendiri. Ironis.

12 Years A Slave memang menghadirkan scene-scene torture yang “menyakitkan mata” namun dengan kekuatan para aktor dan aktrisnya sepertinya scene-scene ini berhasil diekploitasi menjadi sesuatu yang tidak hanya sebatas siksaan namun juga lebih dalam ke psikologis mereka. Bagaimana karakter Paul Dano (he’s fucking asshole in this movie) menggantung Solomon kemudian untuk beberapa saat Solomon harus berjuang agar tubuhnya tidak tergantung sementara lingkungan sekitarnya berjalan sangat normal, that is one of the best scene in the movie. Film ini tahu benar sepertinya bagaimana menjelaskan sebuah situasi tanpa harus berkata-kata.

Kekuatan para aktor dan aktris tidak usah diragukan lagi terutama Lupita Nyong’o yang walaupun mendapatkan screentime sangat terbatas namun mendapatkan kesempatan dalam scene paling ekstrem di film ini, ia dicambuk di film ini disandingkan dengan gejolak batin Chiwetel Ejiofor yang “sempat” mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkannya namun ia tidak lakukan. Sekali lagi, Steve Mcqueen juga menampilkan bagaimana darah dan daging terkoyak membuktikan bahwa ia merupakan sutradara yang tanpa takut untuk menunjukkan point ceritanya. Lupita Nyong’o merupakan gambaran seorang budak yang memiliki “pain” lebih dalam dari semua budak. Ia benar-benar memberikan sebuah akting memukau dengan menampilan “I enjoy the pain” yang terbukti sangat ironis.

Steve Mcqueen pun sepertinya ingin benar-benar memberikan berbagai alat untuk para pemainnya untuk bermain total. Close up selama beberapa detik yang hanya menunjukkan ekspresi Chiwetel Ejiofor merupakan sebuah usaha yang harus diacungi jempol. Chiwetel Ejiofor sendiri tampil meyakinkan sebagai seorang budak yang mendapatkan siksa sana sini, namun dari kekuatan aktingnya, penonton dapat melihat harapan ketika situasi mulai memburuk. Yeah, hope. (I gotta quote what President Snow said, little hope is effective, yeah that kind of “little hope is effective” face is what Ejiofor shows us).

Parades of fucking antagonists. Jajaran pemain pendukung seperti kolaborator tetap Mcqueen, Michael Fassbender is fucking big dick here, sepertinya karakter Edwin ini memiliki sisi kegilaan namun masih berada pada sebuah keadaan yang real, tidak ditampilkan secara comical, yang membuat karakter tidak hanya ekstrem namun juga masih relevant untuk sebuah “kisah nyata”. Paul Dano kembali tampil dengan “punchable face”nya setelah sukses membuat penonton emosi di Prisoners, Sarah Paulson tidak lebih baik, seorang istri yang penuh dengan kecemburuan, menggabungkan sisi “kejam’ dengan wajah ‘polos’.

Sebuah situasi yang menghadirkan sisi ugly dari penyiksaan budak ini kemudian dikontraskan dengan cinematografi yang indah lewat beauty shot dan keindahan alam yang memukau, dilengkapi dengan haunting scoring dari Hans Zimmer, yeah Hans Zimmer yang membuat film ini terasa begitu penting dan intens untuk ditonton (walaupun mengingatkan pada Inception), untuk beberapa titik, scoring ini benar-benar sebuah distraksi, at least good distraction.

Mungkin saking bagus dan mengalirnya film ini, entah apa, film ini seperti tidak mencerminakn sebuah situasi dengan rentang waktu 12 tahun, 12 tahun ini terasa singkat dan dinamik. Dengan sering pindahnya Solomon dan juga kurang adanya transformasi berarti pada tubuhnya mungkin yang menjadi penyebabnya. I don’t know it’s good or bad thing but it’s 12 Years A Slave. Mungkin karena saking “sibuk”nya karakter Solomon sebagai budak membuat seperti milestone waktu di film ini menjadi hilang.

Oh yeah, actually I miss the “based on true story” in the beginning, and in the ending I said, WHAT THE FUCK, it truly happened ??

Trivia

Debut film untuk Lupita Nyong’o. Jika ia menang Oscar ia akan menyusul Julie Andrews, Jennifer Hudson, Barbra Streissan, Anna Paquin dan lain-lain yang memenangkan Oscar di debut performance mereka.

Quote

Solomon Northup: I don’t want to survive. I want to live. (I think movie A Walk to Remember has this quote too.)

Shame (2011) : Humilliation is Getting Deeper for Sex Addict

Sutradara : Steve McQueen

Penulis : Abi Morgan (screenplay), Steve McQueen (screenplay)

Pemain : Michael Fassbender, Carrey Mulligan, James Badge Dale

“Watching Shame is like you got double benefits, you watch the popcorn, you got the popporn with a bunch of emotional package, that’s for sure.”

About

Film yang disutradari oleh Steve McQueen ini berkisah tentang seorang laki-laki, Brandon (Fassbender), yang mengalami kecanduan seks berlebih di tengah kesuksesan karirnya. Kehidupannya mulai terganggu ketika Sissy (Mulligan), adiknya perempuannya menumpang di apartment-nya dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Beberapa kali kepergok sedang berbuat sesuatu yang “pribadi” oleh adiknya, Brandon mulai tertekan oleh rasa malunya sendiri.

Film dengan tema sensitive ini hampir mustahil bisa ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia karena di Amerika Serikat sendiri mendapatkan rating NC-17.  Rating yang menandakan bahwa di dalam film ini banyak adegan vulgar dan penggunaan kata yang tidak “senonoh”. Selain, film ini hanya berlabelkan limited release dengan penghasilan kotor sekitar 4 juta dolar di seluruh Amerika.

Good Things

Film ini mempunyai kemampuan menggali sisi psikologis sang pemain utama, Brandon, dan mampu dipertunjukkan dengan apik oleh Fassbender, ditambah penampilan memukau Mulligan yang menyempurnakan. Dialog-dialog dalam filmpun panjang, tanpa dipotong, menambah kekaguman penonton akan penampilan pemain di dalam film ini. Salah satu scene paling panjang terbaiknya adalah ketika Sissy menyanyi “New York New York” dengan emosi yang sangat memukau.

Bad Things

Untuk penonton yang tidak biasa, adegan seks berdurasi lama dan sedikit mengganggu walaupun adegan-adegan tersebut memang diperlukan untuk membangun plot.

Trivias

  • Carrey Mulligan melakukan adegan menyanyi “New York New York” di-shot secara real time dan ekspresi yang ditunjukkan Fassbender dan Dale adalah real expression melihat Mulligan menyanyi untuk pertama kali.
  • Fassbender mendapatkan nominasi Golden Globe pertamanya, walaupun dikalahkan George Clooney untuk penampilannya di The Descendants.

Best Quote

“We’re not bad people. We just come from a bad place.”