Naomi Watts

St. Vincent (2014) : Weepy Slacklining in The Balance, Thanks to Life Paperwork and Steady Performances

Director : Theodore Melfi

Writer : Theodore Melfi

Cast : Bill Murray, Melissa McCarthy, Naomi Watts

Naomi Watts : what am I supposed to do to sound like Russian prostitute ?

Director : You’ve heard Eva Green’s voice ?

(REVIEW) Yep, St adalah untuk SAINT ~ seseorang yang memegang dan melakukan kebaikanblablablabla. Pertama mendengar projek film ini yang terbayang adalah sebuah period piece bersetting di old Brooklyn, dan mungkin bisa menjadi tunggangan Mellisa McCarty untuk mengeluarkan kemampuan dramanya. Setengah salah, setengah benar. St. Vincent sesungguhnya merupakan komedi kontemporer ringan yang menebar kebaikan, terancam dengan banyak jebakan sentimentality dan predictability, tetapi mampu mengimbanginya dengan performances kuat dari casting yang tepat. Plus, karakter sentral yang kaya akan “it is what it is” life paperwork yang membawa Bill Murray pada spotlight film ini.

Terdapat ranah dalam film yang merupakan overused elements ketika film berubah menjadi predictable, atau cheesy, atau cliche, atau too many jump scare, atau saccharine of sentimentality, atau happy ending (whoops ! my tendency), atau manipulative tearjerker dan lain sebagainya. Satu kata tersebut terlabel dalam satu film : rusaklah susu sebelanga. Alternatif lain adalah memperlakukan elemen tersebut sebagai sebuah bejana yang tak akan berguna jika tak diisi. St. Vincent beruntungnya aware dengan ini, film ini memang bergerak pada arena familiar tetapi tahu benar batas-batasnya untuk tak keluar.

(more…)

Sunlight Jr. (2013) : Reality Kills, Baby Bump In The Middle of “Shit Happens All Over Again”

Director : Laurie Collyer

Writer : Laurie Collyer

Cast : Naomi Watts, Matt Dillon, Norman Reedus

Comment for the poster : Look at that color tone. So warm, so hopeful, yeah, kind of ironic when that kind of thing doesn’t exist in the movie.

About
Melissa (Naomi Watts), seorang kasir di sebuah minimarket bernama Sunlight Junior harus bekerja keras shift demi shift dan menghadapi bosnya yang kurang ngajar, setiap saat, setiap waktu. Dia juga menghadapi dengan mantan pacarnya, Justin (Norman Reedus) yang terus mengikutinya. Disisi lain, Richie (Matt Dillon), seorang mantan kontraktor, dan penyandang disabilitas sehari-hari harus tinggal di motel kecil dan kumuh, sambil bekerja sebagai tukang reparasi elektronik. On top of that, dengan uang yang terbatas, tempat tinggal yang tidak layak, kurang adanya prospek ke masa depan, tiba-tiba Melissa hamil dan membuat situasi mereka berdua pun harus berubah, demi sang calon anak.

Personally, film ini termasuk out of radar, walaupun dibintangi aktris sekelas Naomi Watts.

Over authentic. It all ends bitter.

Sunlight, sinar matahari, mungkin jika kita harus menebak sunlight merepresentasikan apa, I am gonna go with “hope”. Yeah, harapan, prospek ke depan. Film ini terlihat begitu ironis dengan berani memakai sebuah judul yang begitu hopeful (ditambah dengan kata Junior), namun hampir sepanjang film storyline di film ini berkutat tentang sepasang kekasih yang harus menghadapi kenyataan demi kenyataan pahit tanpa adanya sebuah harapan perbaikan ke depan. Film ini jauh dari menyenangkan karena melibatkan banyak elemen hidup yang begitu “bitter”, lets say, pekerjaan yang memuakkan, bos yang menjengkelkan, disabilitas, mantan pacar yang stalker, orang tua yang tidak bisa diharapkan, tinggal di sebuah motel, dan masih banyak lagi. Yeah, mungkin beberapa orang menginterpretasikan sesuatu yang “pahit” ini sebagai sesuatu yang lebih real. Tanpa klise, atau bisa dikatakan there’s no happy ending in real life. In my personal opinion, something bitter doesn’t mean it must be real. Yeah, kenyataan tidak berjalan seperti itu. Jika dilihat dari segi ini, maka film ini hanya penuh dengan tekanan hidup satu ditambah dengan tekanan hidup yang lain. Where’s hope ? Where’s happines ? Where’s smile ?

Screenplay yang begitu “pahit menjalani hidup” ini beruntungnya diperankan oleh aktris dan aktor yang pada suatu titik masih memberikan hiburan pada penonton. Yeah, Naomi Watts and Matt Dillon are strong enough. Kedua aktor aktris ini sampai hampir tiga perempat durasi terus menebarkan pesona positif mereka seakan-akan menyeimbangkan jalan cerita yang terus ditempa oleh hal negatif. Chemistry keduannya juga berjalan menyenangkan bagaimana mereka menghadapi “bayi yang akan datang” dengan keceriaan, harapan, dan juga sepertinya mengharapkan bayi ini akan datang. Beberapa kesenangan kecil pun dihadirkan di film (most of them are sex scene). Yeah, sex scene digunakan sebagai ajang mencari hiburan dan kesenangan ketika kedua karakter utama dilanda banyak keterbatasan. Yeah, this scene works. Berbagai dialog-dialog yang memicu konflik namun kemudian di reverse menjadi sesuatu yang intim dan mesra juga dihadirkan. Hingga akhirnya, boom ! Film ini selayaknya kapal yang sudah bolong sana-sini dan menanti untuk meledak dan tenggelam. Karakter Richie juga lambat laun berubah menyerang karakter Melissa, membuat Naomi Watts harus berjuang sendiri untuk menarik perhatian penonton sampai akhir.

Potential roles yang disandang oleh Watts dan Dillon ini memang sepertinya bisa dikatakan sebagai “uji kemampuan” akting mereka. Strong but not powerful. Keduannya mengantarkan penampilan yang memikat. Melissa sebagai seorang wanita yang kuat, yang sudah tidak demanding lagi tentang kehidupan, hanya menjalani hari demi hari, dan beberapa harapan kecil agar hidupnya lebih baik. Sisi lain, Richie, penyandang cacat yang menyenangkan menjalani hari, kemudian harus berhadapan dengan situasi yang bertambah buruk walau keadaan fisiknya tidak bertambah baik. Kedua aktor aktris ini adalah penopang utama film ini, depressing, dan sisi baiknya, kedua aktor aktris ini mampu merangkul sisi “depresif” itu menjdi sebuah sisi yang bisa dilihat ketimbang penonton harus berkonsentrasi dengan jalannya cerita yang cenderung menunjuknnya sebagaimana jelek dan kejamnya kehidupan yang sebenarnya.

Wasted supporting role. Terdapat satu persamaan dengan berbagai karakter yang mengelilingi karakter utama. Justin, diperankan oleh zombie hunter kita, secara fisik Norman Reedus begitu menantang sebagai sisi mengancam dari kehidupan Melissa, namun seiring berjalannya cerita karakter ini sepertinya tiada guna. Ibu Mellisa, bos Melissa, yeah, semuannya hanya kontributor terhadap segala masalah yang harus dihadapi tokoh utama.

In the end, jika film ini ingin memperlihatkan sebuah gambaran masyarakat kelas bawah yang berjuang di pinggir kota, maka film ini terlalu berkonsentrasi pada hubungan Melissa-Richie tanpa mengijinkan pihak luar untuk mengambil porsi yang lebih besar (instead of all those mean-ness), namun jika film ini ingin memperlihatkan gejolak hubungan Melissa-Richie yang lebih internal, sepertinya juga kurang eksploratif.

Sebuah film yang berkonsentrasi pada sisi hidup yang depresif namun kurang bisa menikmati dan mengisi prosesnya. Over-authentic.

Trivia

Dirlis pada Tribeca Film Festival, bulan April 2013.

Quote

Woman : (on Melissa’s pregnancy) Oh well, good luck, or congratulation.

I Heart Huckabees (2004) : Existential Comedy About Coincidence Dismantling and Universe

Director : David O. Russell

Writer : David O. Russell, Jeff Baena

Cast : Jason SchwartzmanJude LawNaomi Watts, Isabelle Huppert, Mark Wahlberg, Dustin Hoffman

About

Yah, berbicara tentang David O Russel, pastinya tidak akan lepas dengan komedi moving yang diwakili penampilan top notch dari para aktor aktrisnya. Paling tidak untuk dua karya terakhir Russel, hampir jajaran aktornya mendapatkan nominasi Oscar, begitu pula dengan perannya sebagai screenwriter maupun sutradara. Sementara menunggu karaya Russel yang lain, yang dipenuhin banyak bintang, yang belum tayang namun sudah menjadi prediksi Oscar, American Hustle di bulan Desember nanti, film inilah yang menjadi karya Russel sebelum drama boxing, The Fighter.

I Heart Huckabees, dari judulnya saja sudah imut, lucu, ditambah dengan banyaknya jajaran aktor mulai dari yang tua sampai muda, tidak heran jika I Heart Huckabees menjadi salah satu film yang mempunyai “magnet” ditonton. Jika Silver Linings Playbook bermain dengan “signs”, terapi, superstitious, I Heart Huckabees mempunyai jalan cerita yang tidak kalah unik.

I Heart Huckabees diawali dengan Albert (Jason Schwartzman) yang bekerja di sebuah koalisi yang mendukung public open space. Posisinya sebagai seorang leader di koalisi tersebut mulai tergeser dengan kharisma Brad (Jude Law), yang merupakan perwakilan executive dari Huckabees yang notabene akan menggusur banyak open space menjadi sebuah gedung. Di selang kebingungannya, Albert menyewa dua detektif aneh, Bernard (Dustin Hoffman) dan juga Vivian (Isabelle Huppert) untuk menyelidiki kejadian “coincidence” dalam hidupnya. Dalam salah satu sesinya, ia bertemu dengan firefighter yang menentang penggunaan bahan bakar minyak, Tommy (Mark Wahlberg). Sementara investigasi berjalan, semua karakter di film ini mulai mempertanyakan “siapakah diri mereka” di tengah susunan universe ini ? WHAT THE HELL, RIGHT ? I KNOW IT’S COMPLEX.

“I heart fuck-abees. Why am I watching this ? (That’s the biggest question, when I was watching it.)”

Jika dilihat dari jalan ceritanya, film ini layak mendapatkan predikat original. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sbjek yang terlalu absurd dan juga membingungkan membuat penonton bertanya, “Apakah film ini akan benar-benar memberikan payoff di akhir film, di film yang mempunyai durasi lebih dari dua jam ini ?”

Terlintas mungkin screenplay ini sedikit mirip-mirip dengan screenplay gaya Charlie Kaufman yang sering dikombinasikan dengan elemen super strange, namun unik dan memberikan kejutan di akhir. Namun tidak, I Heart Huckabees lebih mirip observasi atau percobaan tentang karakter-karakter di dalamnya, yang sangat susah untuk diikuti (dari jalan cerita). Cerita melibatkan banyak karakter dan juga melibatkan banyak pendekatan, dan kata-kata absurd membuat komedi ini sangat asing. Film ini membangun cerita melalui karakter-karakter ekstrem para pemainnya, seperti pecinta lingkungan, seorang brand ambassador (atau semacamnya) yang mempertanyakan kecantikannya, seorang pemadam kebakaran yang anti penggunaan bahan bakar, plus para detektif aneh. Salah satu karakter yang paling real adalah karakter Jude Law sebagai seorang executive manipulatif yang mempunyai dua sisi, untuk korporasinya, dan juga untuk koalisinya. Hanya itu. Yang lain, karakter ini bertindak dan berpikir diatas “pemikiran” nalar manusia.

Beruntunglah pacing dalam film ini cukup cepat sehingga film ini masih dinikmati (namun kurang bisa untuk diikuti.) Film yang benar-benar ditopang cast-nya ini cukup membantu ketika mereka bisa menopang karakter karakter tidak lazim dengan atraktif, terutama penampilan Isabelle Hupert yang menarik perhatian.

Film yang memperdebatkan antara “dunia ini saling terhubung” versus “dunia ini merupakan susunan random” nyatanya kurang terjawab di akhir film. Mungkin film ini akan sangat cocok dengan mereka yang memahami tentang filosofi atau pembelajaran karakter, namun I Heart Huckabees is too weird, too strange, unexplainable, and I don’t know what it means, not for me, just not for me.

Walaupun begitu, film ini paling tidak memberikan satu indikasi bahwa Russel adalah sutradara yang mumpuni, dengan tema yang sama sekali tidak familiar, dan bisa dikatakan sangat aneh, sangat susah untuk disampaikan, film ini mampu berjalan selama 2 jam, tanpa terlalu menyiksa penonton. Yah, sekali lagi, thanks to its cast.

Trivia

Film debut untuk aktor Jonah Hill, dia mendapatkan sedikit peran kecil disini (I thought it’s cameo).

Quote

(first line) Albert Markovski         : Mother-fucking, cocksucker, mother-fucking, shit-fucker, what am I doing? (sounds promising, right ?)

The Orphanage (2007) and The Impossible (2012) : Mother’s Loves are Being Tested in Different Approach (and Genre)

 

Director : Juan Antonio Bayona

Writer : Sergio G. Sánchez

Penulis skenario dan sutradara ini bekerja sama dalam dua film yang mempunyai persamaan tentang arti keluarga, terutama cinta Ibu kepada anak-anaknya, dengan cerita berbeda dalam genre yang berbeda pula.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

The Orphanage (2007)

Cast :   Belén RuedaFernando CayoRoger Príncep

“A ghost story (uhm, maybe not) with intelligence and Spanish horror flick like this plus Del Toro always has its own touch.”

About

Laura (Belen Rueda) kembali ke sebuah rumah kuno yang dulunya pernah ia tinggali sebagai panti asuhan saat ia masih kecil. Dengan keinginan membuat sebuah panti asuhan kecil, Laura bersama suami (Fernando Cayo) dan anak angkatnya mulai menetap di rumah ini. Misterius, anak angkat Laura, Simon (Roger Princep), mulai berbicara dan bermain dengan teman imajinasinya yang ternyata bukan sekedar fantasi anak-anak semata. Petualangan mulai dimulai ketika Simon menghilang secara tiba-tiba dan memaksa Laura untuk menggali misteri di balik rumah bekas panti asuhan ini untuk kembali bertemu dengan anaknya.

Tidak dipungkiri, nama besar Guillermo Del Toro yang saat itu (berhasil membawa Pan’s Labyrinth ke kancah Oscars) memang sedang dalam puncak ketenaran membawa film ini menjadi sangat menggoda untuk di tonton, walaupun ia hanya berperan sebagai executive producer.

This movie describes “mother’s love is forever”.

Jika penonton mengharapkan sesuatu yang sadis berdarah-darah maka tidak akan banyak ada di film ini. Film ini lebih menyajikan sisi dramatis dari sebuah cerita yang sesungguhnya akan sangat memuaskan bagi para penggila drama. Ceritanya lebih dapat diterima dengan akal sehat (tentu, saja dengan ukuran akal sehat melihat film horror) dan tiga puluh menit terakhir ketika semua dikuak akan sangat memuaskan bagi para penonton.

Dengan cerita yang sebenarnya telah sangat klasik berupa rumah kuno, teman imajiner, anak menghilang, tentu saja penonton sebenarnya telah tahu akan dibawa kemana cerita horor ini. Bisa dikatakan, segi cerita untuk genre ini benar-benar “subtle” dan tidak terasa dipaksakan. Ditambah, penampilan dari Belen Rueda yang cukup menjanjikan membawa film ini ke sebuah perjalanan ibu untuk menemukan kembali anaknya, yang disertai dengan pengorbanan, juga ketakutan dan frustasi.

Film yang tidak jualan muka setan ini benar-benar klimax ketika Laura harus kembali bermain permainan semacam petak umpet untuk mengundang penunggu rumah angker ini, hanya untuk mendapatkan sedikit clue dimanakah Simon berada. 1…2…3…Knock on the wall.

Trivia

Dipremierkan di Cannes Film Festival dan mendapatkan standing ovation selama 10 menit. (Though, in my thought, it is a good movie, but this trivia makes it a little bit too overrated.)

Quote

Aurora :  Seeing is not believing,  it’s the other way round. Believe and you will see.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

The Impossible (2012)

Cast : Naomi WattsEwan McGregorTom Holland

“I call it a natural script makes this movie (especially the tsunami wave itself) looks real-er.”

About

Masih diolah oleh sutradara yang sama, dengan penulis  yang sama juga menceritakan salah satu bencana terbesar di tahun 2000an. Masih ingatkah dengan gempa bumi yang melanda Aceh kemudian dilanjutkan dengan sebuah terjangan tsunami di pagi hari tanggal 26 Desember, tepat satu hari setelah Natal ? Bencana ini menewaskan ribuan jiwa dengan beberapa negara tetangga Indonesia juga mendapatkan dampaknya. Salah satunya adalah Thailand, dikisahkan seorang sebuah keluarga sedang menikmati liburan di saat dan waktu yang salah. Diangkat dari kisah nyata Maria Belon, wanita berkebangsaan Spanyol yang mengajak suami dan ketiga anaknya untuk berjuang melawan dahsyatnya gelombang tsunami.

Film Spanyol namun berbahasa Inggris ini kembali menyatukan Naomi Watts dan Ewan McGregor yang sebelumnya telah bermain bersama dalam film Stay. Watts sendiri berhasil menyabet nominasi Oscars dan Golden Globe untuk perannya sebagai seorang Ibu yang ‘nyaris’ kehilangan kakinya dan beberapa anggota keluarganya.

The script is not special, but natural, though at some parts, there are “real” dramas.

Film yang cukup simple sebenarnya mengambil keseluruhan cerita untuk film yang berdurasi kurang lebih 100 menit ini. Sebuah keluarga dihantam tsunami kemudian terpisah satu sama lain dan mencoba untuk menemukan satu sama lain di tengah kondisi bencana yang sebenarnya terlihat menutup kemungkinan untuk mereka kembali bersama, oleh karena itu judulnya adalah The Impossible. Terlihat membosankan untuk plot selama 100 menit ? Mungkin. Namun dengan penampilan para aktornya, penonton lebih mudah untuk melewati film ini.

Dengan script yang sederhana, membuat film disaster ini terasa natural dan mudah dicerna oleh penontonnya. Sisi positif lainnya adalah penonton bisa berkonsentrasi untuk merasa terharu di beberapa bagian menyaksikan pengorbanan anggota keluarga satu untuk anggota keluarga lainnya. Chemistry Ibu dan anakpun berhasil dibangun dengan baik antara Naomi Watts dan Tom Holland yang memerankan sebagai anak tertua, Lucas.

Scene terbaik tentu saja ketika tsunami mulai menyerang (jika dilihat ternyata detilnya luar biasa) dan adegan survive antara Ibu dan anak, Watts dan Holland plus beberapa adegan tearjerker yang sukses mengharukan.

Trivia

Naomi Watts, Ewan Mcgregor dan cast lainnya bertemu dengan keluarga Maria Belon di Toronto Film Festival.

Quote

Henry : When I came up, I was on my own. That was the scariest part. And when I saw the two of you climbing to the tree, I didn’t feel so scared anymore. I knew I wasn’t on my own.