Nicole Kidman

Reviews : Unbroken (2014), John Wick (2014), PK (2014), and Before I Go to Sleep (2014)

Director : Angelina Jolie

Writer : Joel Coen (screenplay), Ethan Coen (screenplay), 3 more credits

Cast : Jack O’ConnellTakamasa IshiharaDomhnall Gleeson

We called her minimally talented spoiled brat in the land of the blood and honey. Yeah, Hollywood sekarang ini memberikan sisi tersebut untuk anak perempuan dari Jon Voight ini. Apa yang ia lakukan selalu berada dalam sorot lampu (Brad Pitt, Aniston, that infamous leg, humanitarian), termasuk lakonnya sebagai sutradara. Tak ada yang meragukan Angelina Jolie dalam berakting – selalu magnetik, namun bagaimanakah jika menyutradarai sebuah film ditambah dengan orang-orang ternama di belakangnya seperti Roger Deakins memegang sinematografinya, Coen Brother untuk script-nya, ditambah cerita yang seharusnya begitu moving dari Louis Zamperini ? Buzzzzzzzzzzzzzzzzz——–infinite—–zzzzzzzz.

Awal dari Unbroken adalah Forrest Gump, Louis Zamperini kecil yang selalu di-bully teman-temannya, dan masih berusaha untuk fit-in sebagai pendatang, akhirnya menemukan kecepatan berlarinya (I am dead serious there is Run Louie Run !-scene” Tak lama kemudian ia menjelma menjadi Jack O’Connel – seorang pelari Olimpiade yang memecahkan rekor kecepatan berlari, dan berharap tahun berikutnya akan pergi ke Tokyo untuk memenangkan kompetisi yang sama. Be careful what you wish for ! Bukannya ke Tokyo, ia malah ikut berperang menjadi bomber bersama teman-temannya (Jay Courtney, Domnhall Gleeson, Finn Withrock), dan melakukan pendaratan darurat di sebuah pulau ketika pesawat mereka mendapatkan kerusakan. Bukannya, bersyukur dengan pendaratan darurat yang berbahaya namun masih selamat, mereka kembali berangkat mencari tim tentara yang hilang, dan hasilnya, mereka sendiri turut hilang. Pesawat mereka hancur berkeping-keping di lautan dan menyisakan tiga orang selamat (tentu saja salah satunya Zamperini) untuk terombang-ambing di lautan. Babak Life of Pi pun dimulai.

(more…)

Advertisements

Reviews : Paddington (2014), Predestination (2014), Nightcrawler (2014), and Force Majeure (2014)

What AM I ? An institutionalized orphan ? Why I didn’t get Teddy Bear in my childhood.

Siapakah yang tak akan melihat film ini ? Anak-anak tentu akan sangat menyukainya, dan orang tua pasti akan memiliki rasa nostalgia bertemu kembali dengan sosok yang sangat kental dengan masa lalu mereka. Itulah yang membuat Paddington – layaknya film anak-anak lain- tidak hanya merangkul anak-anak namun juga sang orang tua yang notabene sebagai guardian ketika mereka menonton di bioskop. Hasilnya, Paddington merupakan a fine family drama at its best, hangat, lucu, walau memiliki storyline yang kepalang standar dan kurang kejutan besar.

(more…)

The Railway Man (2014) Works Too Hard, Misses Its Climactic Horror of War, and The Sentimentality isn’t Rewarding

Director : Jonathan Teplitzky 

Writer : Frank Cottrell BoyceAndy Paterson 

Cast : Colin FirthNicole KidmanStellan SkarsgårdJeremy Irvine 

“I am railway enthusiast.” – Eric Lomax

(REVIEW) I thought it’s a love story, at first. Partially, yes ! Itulah mungkin salah satu keuntungan menonton film tanpa mendapatkan informasi apapun tentang film tersebut. Selalu memiliki element of surprise-nya tersendiri. Eric Lomax (Colin Firth) sangat menyukai kereta api dan jalannya, ia juga begitu hapal dengan rute kereta api di Inggris. Hal inilah yang membuat Lomax memiliki keseksian tersendiri di mata Patti (Nicole Kidman), seorang wanita elegan dengan kecantikan klasik yang juga langsung menarik perhatian dan hati dari Lomax.

(more…)

The Others (2001) : House of Darkness, Photosensitive, The Other Side, and The Big Huge Twicked-ist

Director : Alejandro Amenábar

Writer : Alejandro Amenábar

Cast : Nicole Kidman, Christopher Eccleston, Fionnula Flanagan, Alakina Mann, James Bentley, Elaine Cassidy

First of all, twicked-ist = twist + wicked, I know I am fucked up.

Menjadi seorang penggemar film baru memang banyak keuntungannya, salah satunya adalah setiap hari kita bisa memilih film-film bagus tanpa harus takut kehabisan film untuk ditonton. Yah, The Others mungkin sering diperbincangkan menjadi salah satu film horror yang memiliki reputasi baik, terutama jika mendenga twist-nya. Yep, I finally watch it. FINALLY.

About

Film yang turut diproduseri oleh Tom Cruise selepas high profile divorce-nya dengan Nicole Kidman ini bercerita tentang seorang wanita, Grace (Nicole Kidman) yang ditinggal suaminya untuk berperang. Terisolasi di sebuah pulau, ia akhirnya merekrut tiga orang pelayan (Fionulla Flanagan, Eric Sykes, Elain Cassidy) untuk mengurus rumahnya yang sangat besar. Grace semakin terisolasi ketika dua orang anaknya, Anne (Alakina Mann) dan Nicholas (James Bentley) yang mengidap penyakit photosensitive, yaitu sebuah penyakit yang membuat mereka tidak bisa terkena matahari dan harus beraktivitas di kegelapan. Konflik bermunculan, ketika Anne mulai berinteraksi dari alam lain yang harus menguji “keimanan” Ibunya yang sangat religius. Misteri apakah yang berada di dalam rumah itu ?

Film ini banyak menorehkan prestasi, mulai dari Nicole Kidman yang berhasil menembus nominasi Golden Globe dan juga BAFTA, dan juga sebagai film Spanyol yang berhasil menorehkan angka dua ratus juta dollar untuk perolehan box office worldwide. Tentu saja sebuah prestasi yang memukau, apalagi jika melihat genre film ini yang tidak terlalu familiar dengan awards.

“Very, very nice a horror movie. Kidman assures.”

Pada awal film, film ini dengan sabar memandu rumah yang bisa dikatakan menjadi salah satu objek yang dieksplor. Selayaknya sebuah tour, film ini sepertinya menginginkan penonton menjadi familiar dari ruang per ruang, dan tidak terasa asing. Secara personal, hal ini menjadi salah satu bagian penting untuk sebuah film horor yang menceritakan tentang haunting house.

Nicole Kidman, salah satu aktris yang paling disegani di Holywood tentu saja menjadi daya tarik tersendiri, ketika aktris sekalibernya bermain dalam sebuah film yang bergenre horror. Yep, dan penampilan Kidman sebagai istri relijius, setia, sekaligus kesepian berhasil meyakinkan penonton bahwa ada yang salah di rumah itu. Lewat sifat skeptisnya, Kidman seolah-olah berubah menjadi peran protagonist sekaligus antagonist yang menjadi dua sisi berlawanan. Ditambah dengan ketidakstabilan dari emosinya, Kidman disini berhasil memberikan sisi misteri terhadap karakternya dan juga menambah cerita, selain cerita hantu di keseluruhan film.

Faktor pendukung untuk sebuah old fashioned horror bertebaran, mulai dari lingkungan kabut yang membawa kengerian tersendiri, sebuah rumah kuno dengan banyak pintu (dan tentu saja piano), dan yang paling unik adalah bagaimana film ini menimimalkan penggunaan cahaya namun juga disertai dengan alasan yang diterima, yaitu menyisipkan cerita penyakit “photosensitive” yang membuat film ini memang harus dibuat dalam lingkungan yang gelap. Atmosfer yang sangat mendukung ini bisa dikatakan sebagai ujung tombak film sehingga film ini tidak perlu menggunakan visual effect yang aneh-aneh bahkan keberadaan “hantu” di film ini juga bisa dikatakan benar-benar halus dan tidak kasar.

The Others merupakan sebuah film horor yang memiliki misi bahwa ada sebuah cerita yang benar-benar ingin diceritakan. Tidak hanya berkonsentrasi pada keinginan menakut-nakuti namun The Others juga tidak mengeyampingkan sisi karakter yang terlibat. Skeptism mungkin menjadi salah satu bagian yang menyebalkan, apalagi jika dilihat pada sebuah film horor, mungkin juga terlihat ironis. Beberapa film menggunakan sifat skeptis ini sebagai tindakan bodoh, “Where’s the ghost ? I don’t believe in that kind of thing BUT I will scream if I see them, ANYWAY.” Namun, The Others berhasil menyeimbangakan sifat skeptis dari karakter utamanya dengan sisi relijius yang membuat perpaduan ini bukanlah sebuah tindakan menyebalkan, namun menjadi sebuah karakter yang menarik.

Salah satu bagian terbaik dari film ini adalah twistnya, namun disisi lain film ini juga tidak ingin memanipulasi penonton untuk memikirkan sesuatu sebaliknya dan di akhirnya lebih seperti membodohi penonton. Tidak, film ini bisa dikatakan mengalir secara natural, bahkan ketika revelation ketiga karakter pembantunya, film ini bisa dikatakan terlalu jujur. Yeah, film ini sepertinya ingin gambling dengan penonton, jika penonton bisa mengetahui twistnya, ya sudah, it’s still a win win solution for the movie.

MAYBE SPOILER

Dengan tahun rilis sesudah Sixth Sense, mungkin twistnya akan mengingatkan pada film tersebut. Namun, berbeda dengan Sixth Sense, The Others selayaknya sebagai penjawab dai film-film sebelumnya. Tidak hanya berperan sebagai twist di dalam film ini sendiri, The Others sepertinya ingin memberikan jawaban terhadap film-film sejenisnya. Tentu saja, walaupun masih banyak hal yang absurd, film ini berhasil menjawab pertanyaan, “Mengapa sebuah rumah bisa dihantui ?”, “Mengapa hantu di sebuah rumah tidak mau pindah ?” dan sebagainya. Suka tidak dengan twistnya, it’s still a very special twist.

Trivia

Xerodema Pigmentosum atau photosensitive dalam film ini merupakan penyakit yang nyata walaupun memang tergolong sangat langka.

Quote

Grace: The only thing that moves here is the light, but it changes everything.

Stoker (2013) : Don’t Disturb The Family, The Dark Secret of Mysterious Uncle

Director : Chan-wook Park

Writer : Wentworth Miller

Cast :  Mia WasikowskaNicole KidmanMatthew Goode

About

Stoker merupakan langkah awal untuk sutradara yang terkenal lewat film Old Boy (yang juga bakal jadi made in Holywood karena bakalan diremake) untuk menjejakan karir di Holywood. Tidak tanggung-tanggung, ia menggandeng Nicole Kidman, Mia Wasikowska dan Matthew Goode sebagai pengisi karakter-karakter “dark” untuk film bergenre thriller mystery ini.

Berkisah tentang sebuah keluarga yang “sedikit” gila, Stoker diawali dengan India (Mia Wasikowaska) memakai sepatu heels memandang pematang dengan narasi yang sedikit tidak biasa. India yang baru saja menginjak usia 18 tahun harus kehilangan ayahnya di hari ulang tahunnya sendiri. Tidak hanya itu, dunianya seketika berubah ketika Charlie (Matthew Goode), paman yang tidak pernah diketahuinya, tiba-tiba datang tinggal bersama ibunya yang secara emosional kurang stabil, Evie (Nicole Kidman).

Serentetan kejadian aneh mulai terjadi ketika satu-persatu orang yang berkaitan dengan Charlie, seperti housekeeper dan bibi India, Auntie Gin (Jacki Weaver) menghilang secara misterius satu persatu. Charlie pun mulai mendekati India dengan maksud tertentu sementara India sendiri mulai mencium keanehan di dalam diri paman misteriusnya.

Siapakah Charlie sebenarnya ? Who’s really this Stoker family, why we should not disturb the family ?

“Stylish, yet stiff. With impressive camera work, this movie becomes less enganging, though it’s still a nice dish of mystery.”

Karya Chan-wook Park ytang satu ini memang undeniably beautiful dengan teknik pengambilan kamera yng tidak biasa dan selalu special di tiap scenenya ditambah dengan teknik editing yang tidak biasa. Walaupun begitu, film ini menjadi terkadang terlalu kaku dengan narasi atau obrolan yang terlalu “mungkin” quote-machine ditambah dengan ekspresi para pemainnya yang sedikit comical namun membawa misteri.

Film yang turut membawa tema “kedewasaan” ini juga membuktikan kedewasaan acting bintang utama, Mia Wasikowaska yang cukup konsisten dari awal film sampai akhir (juga menyisipkan beberapa scene adult yang membuktikan Alice ini memang sudah dewasa). Casting-nya pun cukup tepat mendapuk seorang Matthew Goode sebagai tokoh utama yang misterius, killer dengan style, dan seorang yang FREAK !!! Salah satu kekecewaan dari para tokohnya, datang di dalam karakter Evie yang tidak dikembangkan untuk mempunyai porsi yang lebih besar di dalam film (hal ini tentu saja akan sangat berbeda dengan ekspektasi yang terbentuk dari melihat trailer film ini dimana karakter Evie cukup mendominasi).

Kecerdikan sang sutradara ketika film ini menjadi tipe film yang “semakin mengerti ketika semakin dinikmati.” Walaupun terkesan terkadang menyelipkan scene-scene yang tidak penting, sebenarnya scene-scene kecil itu mempunyai makna tersendiri seperti bunga berwarna merah pada awal film atau scene karakter India sedang terbaring di kamar tidurnya kemudian menggerakkan kedua tangannya.

Lebih jauh lagi, film ini juga menghadirkan semacam filosofi “perburuan” untuk storyline, bagaimana sebuah karakter menunggu untuk final act, kapan sebuah karakter akan menarik trigger.

Terlepas dari semunnya, film ini cukup thrilling dengan semua karakter dan tema dark yang diusung dan juga tidak mengandalkan gore atau darah atau klise.

Trivia

Carey Mulligan, Kristen Steward, Rooney Mara, Emily Browning, Emma Roberts, Bella Heathcote dan Ashley Greene semuannya dipertimbangkan untuk memainkan India Stoker.

Quote

India Stoker : Just as a flower does not choose its color, we are not responsible for what we have come.