Olivia Wilde

Her (2013) : Forever Alone-Guy, Sexy as Hell-Voice and Real-Unreal “Romantic Overload” – Relationship

Director : Spike Jonze

Writer : Spike Jonze

Cast : Joaquin Phoenix, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, and Scarlett Johansson as Samantha

About

Comment for the poster : Look at that face, pink background, with Joaquin Phoenix’s puppy eyes, this poster is so perfect. One of nice poster with big head of its leading actor.

Who the fuck is this guy ? Mantan istri, Rooney Mara. Teman baik, Amy Adams. Teman kencan, Olivia Wilde, bahkan operating sistemnya, Scarlett Johannson. Yeah, film diawali dengan muka “forever alone” Joaquin Phoenix yan, seorang penulis surat (yeah, this job is like future version for Tom Hansen’s job), yang sedang berada dalam proses perceraiannya dengan Catherine (Rooney Mara). Bersetting di masa depan dengan banyak kelebihan gadget, Theodore (Joaquin Phoenix) akhirnya menemukan sebuah operating system yang menyediakan jasa pertemanan berbasis suara. Beruntungnya, sesosok suara seksi penuh personality Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johannson) pun mulai menemani hari-hari Theodore, termasuk menyetting kencannya dengan seorang perempuan (Olivia Wilde) sampai meng-compile semua surat Theodore untuk dijadikan sebuah buku. Hubungan mereka pun semakin nyata di dunia maya. Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh teman dekatnya Amy (Amy Adams) yang menjalin hubungan dengan sebuah/seorang operating system.

“Depressing yet romantic. So far yet so close. Bitter, ironic and sweet. Top notch chemistry between Phoenix and Johannson. If future could be this charming, bring it on, faster.”

Sejarah melihat filmnya Spike Jonze memang sangat jauh dari kata “mengecewakan”. Walaupun untuk Adaptation. dan juga Being John Malkovich, Spike Jonze banyak dibantu oleh Charlie Kaufman yang menyediakan screenplay super jenius dan inovavatif. Her adalah feature yang harus benar-benar mengandalkan Spike Jonze baik dari segi penyutradaraan dan juga penulisan. Dan untuk ini Spike Jonze benar-benar mengambil high risk, namun dengan high return yang sangat memuaskan (I am not talking about investation). Her benar-benar harus mengandalkan segi chemistry dari Phoneix dan juga bakat suara dari Johannson, jika chemistry itu gagal, this movie is gonna be fucking travesty. Her merupakan karya masterpiece yang bersetting di masa depan namun terasa dekat dan tidak adanya rasa “strange terhadap masa depan” namun tetap spesial. Kedekatan kita denganfilm ini sedikit banyak karena kita merasa fenomena dalam film ini benar-benar sedang terjadi dan terus berkembang, bagaimana setiap orang lebih dekat dengan gadget mereka, kata lainnya lebih memiliki hubungan intens dengan gadget mereka. Hanya saja fenomena sekarang masih terlalu one sided karena gadget masih terlalu pasif, nah disini, Spike Jonze mengambil kesempatan untuk menjalin sebuah relationship yang two sided, dinamik.

Special credit for Scarlett Johannson. Siapa yang meragukan keseksian mantan istri Ryan Reynold ini. Masuk dalam berbagai list “the sexiest” dan juga mendapatkan peran yang banyak mengekplorasi citra dirinya sebagai wanita seksi. Namun, ketika dia tidak dapat menggunakan fisiknya (salah satu issue karakter Samantha di film ini) dan harus 100 persen mengandalkan suaranya, hasilnya adalah she’s sexy as hell. Karakter Samantha tidak hanya sebuah suara. Samantha memiliki personality, character, bahkan intelligence, namun yang paling mengejutkan adalah she has heart. Bagaimana penggambaran Spike Jonze terhadap karakter Samantha ini harus diacungi jempol, membuat sebuah operating system yang canggih bukan hanya sebagai dummy instrument namun memperlakukannya lebih sebagai sebuah karakter yang real namun terjebak di dunia nyata. Karakter Samantha ini banyak menimbulkan pertanyaan untuk kita, “Is she pretentious ? “Is she faking it ? Yeah, she’s mysterius. Well done, Ms. Johannson, your sexy image (in real world) and your vulnerability make this voice comes true.

Pleasant cast. Mengambil Joaquin Phoenix sebagai seseorang yang kesepian merupakan salah satu tindakan yang bijaksana di department casting. You don’t need American Sweetheart to make this movie works. Dengan jangkauan yang luas dari aktor yang satu ini, Theodore merupakan karakter “tersweetheart” yang mengunci emosi penonton di sepanjang film. Theodore merupakan karakter yang bisa dikatakan “he says good thing but he doesn’t know if he means it”. Sebuah karakter yang sulit juga, ketika ia harus “juga” berinteraksi via suara dengan karakter utama yang hanya berupa suara. It’s like maybe he has to act “on the phone” for the whole time. Ditambah, bakat-bakat seperti Amy Adams, Rooney Mara, dan Olivia Wilde, this movie is fucking charming with serene atmosphere.

Serene atmosphere, film tentang masa depan ini merupakan salah satu film yang paling hangat. Tidak perlu gedung-gedung dengan model over futuristik (bahkan film ini tidak takut untuk mengajak penonton untuk berkeliling kota masa depan yang minim visual effect, tidak hanya sebagai set production, kota-kota ini juga banyak merefleksikan kesendirian dan emosi Theodore yang dikontraskan dengan keramaian kota besar), atau make up wardrobe ala Effie Trinket, set production dibuat berwarna dengan mempertahankan banyak sisi “masa sekarang” yang membuat film ini masih terasa dekat, ditambah dengan costume design yang sehangat rajutan nenek Spongebob membuat karakter-karakter di film ini menjadi irresistible. Joaquin Phoenix dengan celana dengan pinggang tinggi, wew ! What a fashion. Plus ternyata peniti tidak akan punah sampai masa depan.

Kemampuan Spike Jonze men-generate scene-scene flashback di setting masa depan, dipadukan dengan “so comforting scoring” merupakan salah satu faktor yang membuat film ini begitu emosional untuk penontonnya. Sangat emosional namun juga begitu indah, seakan-akan film ini tahu cara lain untuk berpuisi. Sebuah cara berpuisi yang tidak kehilangan kata-kata (scene) indah namun juga tetap bisa dimengerti oleh penontonnya.

Berpikir film ini hanya akan berkutat pada stagnant relationship ternyata salah, film ini banyak memberikan bumbu-bumbu romantis tentang sebuah hubungan seperti ekspektasi personal, betrayal, doubt, bahkan sampai sex. Mungkin sedikit terjadi ketimpangan antara paruh pertama dan juga paruh kedua, I am not gonna say it’s in negative perspective. Namun paruh pertama film ini benar-benar menarik perhatian terutama chemistry Theodore dan Samantha yang menjadi hal yang benar-benar refreshing, di paruh kedua sedikit turun terutama ketika Theodore kini harus beinteraksi dengan karakter-karakter yang lain. Film ini adalah sebuah film yang memiliki cara tersendiri untuk menjadi romantis yang didukung oleh semua faktor di film, termasuk brilliant writing of Spike Jonze. Overall, I should add this movie to my favorite movie all the time. Yay !!!!

Sweet but not saccharine.

Trivia

Carey Mulligan harus keluar dari projek ini karena konflik schedule dan harus digantikan oleh Rooney Mara.

Quote

Samantha: It’s like I’m writing a book and it’s a book I deeply love. But I’m writing it slowly now.

Advertisements

Drinking Buddies (2013) : Line Between “Friends” And “More Than Friends” Really Blurry ? Beer

Director : Joe Swanberg

Writer : Joe Swanberg

Cast : Olivia WildeJake JohnsonAnna Kendrick, Ron Livingston

About

Joe Swanberg, seorang sutradara sekaligus aktor muda yang mungkin sedang hot-hotnya tampil dalam film slasher You’re Next minggu ini (goddamn it, I fucking want it), membesut film komedi drama dengan artis paling produktif saat ini yaitu Olivia Wilde (sebut saja 9 projek ia yang bintangi untuk tahun 2013 saja, salah satunya drama Rush, yang juga lagi hot-hotnya). Tidak hanya duduk di kursi sutradara, Swanberg juga menduduki posisi screenwriter, editor bahkan sempat muncul sebagai cameo.

Pada awalnya Drinking Buddies, seperti sekelibat, dengan melihat trailernya, akan menjadi fuck buddy atau friend with benefits atau semacamnya, namun ternyata Drinking Buddies mempunyai cerita yang berbeda. Kate (Olivia Wilde) bekerja pada sebuah perusahaan beer, yang membuatnya menjadi super supel dengan para pekerja yang didominasi oleh kaum laki-laki, salah satunya adalah Luke (Jake Johnson). Keduanya memiliki chemistry yang pas, tidak hanya sebagai teman, bahkan juga sebagai pasangan. Masalahnya keduannya telah memiliki pasangan, Kate berpacaran dengan Chris (Ron Livingston), seorang produser dengan perawakan innocent dan juga polite. Sementara Luke berpacaran dengan Jill (Anna Kendrick) yang telah memasuki pada tahapan matang. Ketika keduannya menjalani double date di sebuah cabin dekat danau, sebuah peristiwa terjadi dan mengubah semua hubungan diantara keempatnya.

“For a story where not so much happens, this is so smooth, play with interaction’s details and reveal the interpersonal’s interaction.”

Sebenarnya saat melihat poster pertama kali, tentu saja yang menjadi pusat perhatian bukanlah Olivia Wilde, namun kehadiran Anna Kendrick. This is gonna be stupid statement, Anna Kendrick yang mulai merambah leading lady, seperti bertukar posisi dengan co-starnya Olivia Wilde, yang lebih banyak berperan sebagai supporting role, namun inilah titik spesialnya. Tidak hanya bermain dengan siapa yang lebih di-recognize, departemen casting sepertinya membaca aktris mana yang cocok untuk karakter mana, begitu pula yang dilakukan pada cast cowoknya.

Bermain dengan tema yang sepertinya sudah banyak sekali dibahas, ditambah dengan interaksi cinta segi empat, Drinking Buddies melalui hambatan terbesarnya, yaitu menjadi sebuah tontonan yang menghibur realistis, tanpa tindakan berlebih, tidak terjebak pada suasana cliche, dan juga mampu memanfaatkan durasi yang lebih dari satu setengah jam. Rahasianya adalah kekuatan interaksi para karakternya serta dialog-dialog lancar yang dilontarkan.

Pada awal cerita kekuatan antar tokoh terlihat kuat, dengan tambahan pada separuh cerita sisanya ditambah dengan misteri relationship dari kedua hubungan. Walaupun terkesan realistis, film ini tidak ingin melewatkan semua moment menjadi kosong tanpa arti, bagaimana satu karakter menanggapi satu karakter lain setelah kejadian satu moment juga cukup menarik untuk disimak jika anda memang jeli. Jika tidak jeli, yah film ini hanyalah film sembarang lalu, yang mungkin anda sendiripun tidak tahu masalah / konflik apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Enganging di setiap scene membuat film ini memiliki flow yang tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Jika menilik kebelakang, dengan kehadiran cabin, cinta lebih dari 2 orang, “sebuah moment”, yah film ini mengingatkan pada Your Sister’s Sister, walaupun memang bakat improvisasi dan tingkat dramatisasi didalamnya, tidak sehebat Your Sister’s Sister.

Drinking Buddies tidak hanya berfokus pada dua leading role-nya, namun justru masalah datang dari para supporting role-nya, kemudian film berusaha mengeksplor bagaimana para leading role ini menanggapi umpannya. Tidak hanya berkisah tentang percintaan melulu, Drinking Buddies juga lebih mendekatkan pada hubungan buddies atau pertemanan.

Trivia

Semua aktor yang terlibat memilih nama karakter mereka sendiri. Haha, this director wants to have fun, really.

Quote

(none) this is really no movie-quote machine. Seriously.