Rachel McAdams

The Little Prince (2015) : Beautifully Animated Time Capsule for Children and Grown-ups

Director : Mark Osborne

Writer : Irena Brignull (screenplay), Bob Persichetti (screenplay), 1 more credit

Cast : Rachel McAdams, Benicio Del Toro, James Franco, see full cast and crew

(Review) Selalu saja ada perdebatan apakah sebuah animasi hanya bisa memuaskan orang tua atau anak-anak yang mereka ajak ? Dalam kasus Inside Out, film terkadang dinilai terlalu kompleks untuk dimengerti otak-otak muda, sedangkan untuk kasus lainnya semacam Minions, film dinilai terlalu dangkal untuk otak-otak tua yang mengharap lebih dari sekedar hiburan. Namun, disisi lain, animasi memang salah satu media yang bisa mempersatukan orangtua dan anak dalam satu layar yang sama. Disinilah, keputusan The Little Prince dirubah menjadi versi animasi merupakan keputusan yang tepat.

Kita mungkin sering menjumpai orang tua yang memberikan wejangan “tinggi” untuk anak-anak yang memang tak seharusnya mengerti, kuncinya adalah mereka tak perlu mengerti sekarang. Berinvestasi dengan waktu layaknya buku dimana film ini diangkat. The Little Prince aka. Le Petit Prince menjadi buku ketiga yang paling banyak diterjemahkan dalam perjalanan beberapa dekadenya dan telah diubah dalam berbagai medium termasuk play, pertunjukkan balet dan sebagainya. Bertahannya novel ini memang tidak dipungkiri karena membahas hal-hal yang dasar dan terus dialami manusia, tak peduli perubahan zaman yang dilaluinya.

(more…)

A Most Wanted Man (2014) : Uprightness of Espionage World but It Disperses As Bland As It Becomes

Director : Anton Corbijn

Writer : Andrew Bovell (screenplay), John le Carré (novel) 

Cast : Philip Seymour Hoffman, Rachel McAdams, Daniel Brühl, Grigoriy Dobrygin, Willem Dafoe, Robin Wright

It takes a minnow to catch a barracuda, it takes a barracuda to catch a shark, and the problem is I don’t even like fishing, so I’m gonna use a bomb instead, to catch all of them.

(REVIEW) A Most Wanted Man – feel THAT title ! So intense, so focus, namun inilah hal pertama yang misleading dari film ini, ketika film ini sesungguhnya ingin menyuguhkan gambaran realistis nanggung tentang dunia espionage lengkap dengan birokrasi dan tetek bengek prosedurnya. Dan, jika dicermati kembali A Most Wanted Man sesungguhnya adalah Phillip Seymour Hoffman yang menjadikan film ini sebagai salah satu penampilan terakhir dalam karirnya, selain God’s Pocket dan franchise The Hunger Games.

You know why I like a thriller ? Simple, because it’s thrilling. Sesuatu yang tidak akan didapatkan dari A Most Wanted Man, namun hal itu tak menjadi masalah jika film ini memiliki hal lain yang ditawarkan, sayangnya A Most Wanted Man terlalu ter-disperse ke segala arah, terkonsentrasi pada kegiatan mata-mata yang terlalu mengandalkan diskusi dengan atasan, van dan penjagaan 24/7. Bagusnya, hal otentik tersebut sangat mahal untuk subgenre spy, sebuah film yang berkonsentrasi ke dalam organisasi mereka, ketimbang bergerak keluar mencari target yang biasanya sulit untuk dikejar. Organization’s paranoid dan trust adalah dua hal mahal lainnya yang mencoba dipertunjukkan di sepanjang film.

(more…)

About Time (2013) : Another Romantic Time Travel Movie, Combo of McAdams and Curtis

Director : Richard Curtis

Writer : Richard Curtis

Cast : Domhnall Gleeson, Rachel McAdams, Bill Nighy

About

Owen Wilson, Eric Bana, and Domhnall Gleeson are lucky guys. Yeah, disandingkan dengan Rachel McAdams yang notabene mempunyai track record “tidak asing” dengan genre komedi romantis, sekaligus tema time travel. Ditambah Richard Curtis yang menyutradarai dan menulis film ini, tidak sebuah kejutan jika film ini layak ditunggu.

About Time bercerita tentang Tim (Domhnall Gleeson) yang beranjak usia 21 tahun dan mulai menyadari bahwa ia dan keluarganya mempunyai kekuatan untuk melakukan perjalanan waktu. Lewat ayahnya (Bill Nighy), Tim mulai belajar bahwa ia hanya melakukan perjalanan waktu di masa lalu. Kemampuannya ini ia gunakan untuk memanipulasi gadis pujaannya sepanjang musim panas namun gagal, sebuah pelajaran lain bahwa dengan time travel tidak semudah untuk mengubah perasaan orang lain. Hingga akhirnya Tim bekerja sebagai pengacara muda dan pindah ke London dan bertemu dengan Mary (Rachel McAdams), gadis dengan pesonanya sendiri. Untuk mendapatkan hati Mary, Tim pun melakukan perjalanan waktu berkali-kali hingga ia mau menikahinya. Masalahnya, Tim hanya mempunyai moment terbatas ketika banyak orang yang ia sayangi ingin ia “selamatkan”.

“This movie takes the highest achievement, personal.”

Berbicara tentang time travel, pasti kita akan diundang untuk mengujinya secara logic (yeah, walaupun tema ini lebih cenderung menjadi tema fantasi), namun dalam film time travel pasti ada RULES yang membuat kita berpikir. Tidak jarang time travel berubah menjadi benang kusut atau jika film itu bagus dikatakan thought provoking, walaupun kalau kita sengaja berpikir tidak akan ada jalan keluar secara logika. About Time sepertinya ingin menyederhanakan istilah “time travel” dengan banyak hal yaitu dengan tidak diizinkannya perjalanan ke masa depan, ketika melakukan time travel tidak ada kehadiran ganda (maksudnya tidak akan ada dua versi Tim dalam satu moment), perjalanan waktu ini merubah segalanya, dan juga terdapat milestone (???) yang membuat perjalanan waktu mempunyai konsekuensi untuk dilakukan. Untuk ukuran bukan film action/thriller atau sebagainya, film ini memang tidak terlalu mengambil pusing dengan mekanisme time travel itu sendiri. Yeah, sama dengan Time Traveler’s Wife, film ini mengambil sisi-sisi sentimental dan menyentuh dari sebuah kegiatan “mengulang dan merubah moment”.

Ketika berhadapan dengan nama Rachel McAdams, pasti paling tidak ingat The Notebook, nama Rachel McAdams bisa dijadikan sebagai ukuran menariknya sebuah komedi atau drama romantis (at least for me). Tidak peduli dengan pengulangan karakter atau cerita, Rachel McAdams sepertinya ditakdirkan untuk bermain film seperti ini ketimbang genre yang lain (the last time I see her in Passion, and the movie itself is big disappointment). Comedy and romantic things are in her bones. Tentu saja, ekspektasi awal dari film ini adalah cerita yang “been there, done that”, namun ternyata film ini mempunyai cara tersendiri untuk membuat kejutan.

Dari awal film sampai setengah film, Tim memang berpusat pada kisah cintanya, termasuk dengan Mary, setelah cerita ini selesai dan settle, About Time mengambil sisi lain dari kehidupan Tim, sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang lebih dalam. Yeah, Tim bukanlah karakter milik Mary seorang, ia mempunyai ayah, ia mempunyai adik, ia mempunyai paman. Bagaimana Richard Curtis melibatkan komponen ini membuat Tim sebagai karakter yang memiliki tanggung jawab tidak hanya pada kisah cintanya kepada Mary namun kepada hidupnya. Yeah, untuk usahanya ini, Richard Curtis berhasil mengeksplor sisi menarik dan menyentuh terutama hubungan Tim dan ayahnya yang sangat menarik. Ekspektasi awal “it’s love story” kemudian berubah menjadi “it’s family story” menjadi sebuah sisi yang benar-benar merenggut hati penonton secara personal dan itulah level tertinggi dari sebuah film.

Film ini mempunyai cara-cara tersendiri untuk menjadi romantis, salah satunya lewat pemilihan lagu yang menjadi soundtrack. I like it so much. Dimulai dari scoring dari lagu The Luckiest dari Ben Fold, sampai penggunaan scoring Spiegel Im Spiegel dari Sebastian Klinger. Yeah, crucial life moment plus Spiegel Im Spiegel and BAAAAM, it’s fucking gold. Scoring yang satu ini memiliki magic, dan paling tidak tiga film menggunakannya di tahun 2013, The East, trailer Gravity dan film ini.

For you, who interested with the soundtrack, here is the tracklist….

1. The Luckiest – Ben Folds (My favorite)

2. How Long Will I Love You – Jon Boden, Sam Sweeney, Ben Coleman

3. Mid Air – Paul Buchanan

4. At The River – Groove Armada

5. Friday I’m In Love – The Cure

6. Back To Black – Amy Winehouse

7. Gold In Them Hills – Ron Sexsmith

8. The About Time Theme – Nick Laird-Clowes

9. Into My Arms – Nick Cave & The Bad Seeds (good song)

10. Il Mondo – Jimmy Fontana

11. Golborne Road – Nick Laird-Clowes

12. Mr. Brightside – The Killers (My second favorite)

13. Push The Button – Sugababes

14. All The Things She Said – T.A.T.U.

15. When I Fall In Love – Barbar Gough, Sagat Guirey, Andy Hamill, Tim Herniman

16. Spiegel Im Spiegel – Arvo Pärt (Another favorite)

17. How Long Will I Love You – Ellie Goulding

Film ini berdurasi kurang lebih dua jam, namun dengan pacing yang stabil, dan Rachel McAdams, I won’t consider it as an OVERLONG one.

Trivia

Salah satu karakter membaca buku Trash, sebuah buku yang juga dikerjakan Richard Curtis screenplay-nya.

Quote

Dad : You can’t kill Hitler or shag Helen of Troy.

The Time Traveler’s Wife (2009) : Uncontrolled Strange Gene Brings Librarian’s Marriage Complication

Director : Robert Schwentke

Writer :  Bruce Joel Rubin

Cast : Eric BanaRachel McAdamsRon Livingston

About

Time travel, yep, ada dua film yang akan rilis (salah satunya sudah rilis) yaitu para burung yang kembali ke masa lalu untuk mencegah Thankgiving lewat Free Bird, dan film besutan Richard Curtis, About Time. But, I won’t review those (I have no chance to see it). Berbicara tentang About Time, salah satu daya tarik dari film ini adalah kehadiran Rachel McAdams, yang sepertinya sudah menjelma menjadi ratu romantic comedy. Lihat saja filmographynya yang sudah lengkap dengan adapatasi Nicholas Sparks, Woody Allen, sekarang Richard Curtis, dan next projectnya bersama Cameron Crowe.

Sebelum About Time, Rachel McAdams juga pernah bermain dalam sebuah film berjudul Time Traveler’s Wife yang diangkat dari acclaimed novel dengan mengambil perspektif berbeda tentang konsep fantasi ini.

Time Traveler’s Wife bercerita tentang seorang librarian, Henry (Eric Bana) yang mengalami kelainan genetik yang membuatnya dapat melakukan time travelling sewaktu-waktu, kembali ataupun mendatangi masa depan. Ketika kemampuan ini tidak dapat ia kendalikan, ia bisa muncul dan menghilang dimana saja, kapan saja. Hingga akhirnya ia menjumpai seorang gadis, Clare (Rachel McAdams) yang tahu dan mau menerima dirinya apa adanya. Kemampuan ini menjadi berkah sekaligus kutukan untuk pernikahan mereka berdua, mulai dari Clare yang terus keguguran (karena diduga bayinya juga bisa melakukan time travelling) sampai ketika mereka tahu bahwa di satu titik mereka harus berpisah di masa depan.

“Wing-less, yet magical romantic story.”

Untuk sebuah konsep time travel, konsep perjalanan waktu di film ini seakan-akan sudah dibatasi dari awal, membuat konsep time travel sendiri tidak banyak berkembang, wingless. Time travel disini hanyalah fenomena loncatan Henry dari waktu ke waktu secara acak, TANPA ia dapat merubah sesuatu di masa lalu atau masa depan. Jadi, jika banyak film time travel, yang lebih thought provoking, membuat kita berpikir, di film ini tidak akan dijumpai hal yang seperti itu. Namun, salah satu kunci untuk dapat menikmati film ini adalah biarkan emosi itu mengalir, biarkan sepasang kekasih ini berinteraksi, tanpa penonton harus berpikir keras tentang kelogisan cerita, paradoks, atau bla bla bla, karena memang film ini tidak akan men-challenge penonton untuk berpikir demikian (selain “konsep time travel” juga masih berlabelkan fantasy yang belum bisa dijelaskan dengan akal sehat.)

Walaupun Henry melakukan beberapa kali (atau mungkin malah sepanjang film) mengalami loncatan waktu, yang dikhawatirkan banyak plot hole atau pacing berantakan, The Time Traveler’s Wife cukup disusun dengan rapi dan tidak complicated. Menjadikan timeline Clare sebagai timeline utama, yang mengalir sepanjang film, dan menjadikan loncatan waktu yang dialami oleh Henry sebagai selingan.

Berbicara tentang romantic, memang Rachel McAdams sepertinya memang berbakat untuk membintangi film jenis ini. Chemistry yang dilakukan Adams selalu kuat, tidak peduli siapa tokoh lawan mainnya, lihat saja seperti pasangannya dengan Gosling ataupun Tatum yang bisa dikatakan berhasil. Dan, kali ini Eric Bana. Mengingat, film ini bisa dikatakan film yang jujur akan dibawa kemana film ini pada akhirnya, dan tidak melakukan perubahan, film ini benar-benar mengandalkan naik turunya hubungan pasangan ini sebagai sajian utama dalam film. Dan, Bana serta Adams sepertinya lebih dari cukup untuk menyajikan moment-moment romantis (terkadang menyedihkan) yang membuat penonton tetap bertahan di tempat duduknya.

Kembali seperti di awal, film ini menghadirkan perspektif baru dalam mengangkat tema science fiction namun tidak ingin membawa hal-hal yang bersifat rumit. Film ini memberikan pendekatan emosional seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya yang terkadang menghilang begitu saja, dan kemudian muncul lagi. Pendekatan ini memang terkesan sangat melankolis, namun dalam saat yang bersamaan sang sutradara dan novel materialnya juga membawa suasana magical. Scene-scene seperti di meadow dimana Henry menemui Clare kecil, ataupun Clare remaja bisa menjadi scene favorit, atau saat Henry bertemu putrinya. Scene-scene di meadow ini mungkin akan mengingatkan kita pada film Benjamin Button, dimana sepasang kekasih bertemu atau berinteraksi pada usia yang berbeda, namun tidak kehilangan sisi romantisnya.

Yah, sisi negatifnya, jika tetap memaksa, adalah banyaknya pertanyaan yang tidak terjawab, beberapa part cerita yang terkesan plain tanpa perkembangan, soapy, sappy, whatever you call it. But I like it.

Trivia

Ketiga kalinya Rachel McAdams berperan dalam film time travel dan kedua kalinya Rachel McAdams berperan dalam film, dimana scene pembukanya berhubungan dengan kecelakaan. Film yang hampir sama adalah The Vow.

Quote

Clare Abshire : The last time that I saw you, I was 18. Seems that you go back to the same places a lot.

Henry DeTamble : Yeah, it’s like gravity. Big events pull you in.

Morning Glory (2010) : Struggling Producer for Dying Show with Warring Co-Hosts

Director :  Roger Michell

Writer : Aline Brosh McKenna

Cast :  Rachel McAdams, Harrison Ford, Diane Keaton

About

Film tentang rekan kerja memang sudah banyak ditemui. Sebut saja Devil Wears Prada yang dibintangi Meryl Streep dan Anne Hathaway mampu menyedot perhatian ketika interaksi antara boss dan bawahannya ini menjadi lucu. Sama saja dengan film yang menceritakan workplace di sebuah industri broadcasting juga sudah banyak dibuat. Sebut saja, salah satu yang paling kocak dan akan dibuat sekuelnya di akhir tahun ini yaitu The Anchorman. Atau, mungkin yang pernah menjadi hits di tahun 2011, The Ugly Truth, yang dibintangi oleh Katherine Heigl dan juga Gerard Butler.

Giliran Rachel Mcadams berperan sebagai Becky Fueller, seorang pekerja media yang baru saja dipecat dari stasiun televisi kebanggaannya walaupun ia sudah setengah mati bekerja keras. Setelah beberapa kali mencoba melamar pekerjaan, akhirnya ia mendapatkan sebuah pekerjaan menjadi seorang eksekutif produser di sebuah acara morning show yang selalu mendapatkan rating yang sekarat. Untuk menaikkan rating, Becky merekrut seorang reporter yang sudah kawakan namun grumpy, yaitu Mike Pomeroy (Harrison Ford) yang ternyata mempunyai attitude sedikit agak “challenging”. Masalah menjadi serius, ketika program morning show tersebut akan dicabut jika rating acara tidak membaik sementara masalah kian bertambah ketika co-host Mike Pomeroy, Colleen (Diane Keaton) ternyata juga tidak akur.

Film ini juga diproduseri oleh J.J Abrams.

“At least, Rachel McAdams can compete with her co-workers.”

So this is the problems, sebuah screenplay yang begitu lemah mencoba menaikkan kualitasnya dengan menggandeng bintang yang memang sudah talented. Cerita yang begitu flat tanpa sedikit adanya kejutan, dan ternyata diakhiri dengan sebuah ending yang begitu formulaic.

Grumpy, grumpy, grumpy. Hubungan antara karakter Rachel McAdams dan Harrison Ford tidak mampu membuat penonton untuk bisa tertarik untuk mengikuti kelanjutan mereka. No challenges in story and we know how it ends. Hanya saja, thanks to Rachel McAdams mampu tampil lebih dari cukup dan bisa mengimbangi dua rekannya yang memang cukup telah mempunyai pengalaman. Hanya saja, Rachel McAdams is not enough.

Harrison Ford tampil dengan meyakinkan sebagai seorang reporter jurnalist dengan nada yang kasar dan tidak termotivasi (Yeah, it reminds me of how grumpy Tommy Lee Jones at Golden Globe last year). Chemistry-nya dengan Diane Keaton juga cukup menarik, dengan Diane Keaton tampil gemilang untuk akting secara komedik.

Ketika tidak ada yang baru dari segi “isi”, film ini kurang bisa enganging dari segi emosional antar karakter dan ketika ingin ada pengembangan karakter di sisi Mike Pomeroy, ternyata pengembangan tersebut tidak cukup menarik.

THANK GOD ! The romance is just subplot here. Bayangkan jika unsur romansa juga ditambahkan sebagai plot utama di film ini kemudian berakhir dengan predikat “predictable” ? Unsur romansa di film ini untungnya hanya sebuah sampingan yang juga tidak membawa konflik tambahan yang sepertinya jika ada, kayaknya hal tersebut sudah cukup “tired” untuk disertakan.

Yep ! It plays too safe and too safe to work.

Trivias

No ! I don’t want give you trivia about movie itself. Tahukah kamu jika Morning Glory adalah sebuah nama fenomena jarang dari bentukan awan ?

Image

source : wikipedia.com

Morning Glory juga nama tanaman ?

Morning Glory juga sebuah istilah informal untuk aktivitas “bangun” di pagi hari. If you’re a guy, you must know about it. NO PICTURE FOR IT !

Selain itu, Morning Glory juga ternyata nama sebuah film lawas yang dibintangi oleh Katharine Hepburn.

Quote

Mike Pomeroy : I’m not saying the word fluffy!

Passion (2012) : The Rivalry Between The Dragon Tattoo-ed Girl and The Mean Girl

Director : Brian De Palma

Writer : Brian De Palma, Natalie Carter

Cast : Rachel McAdamsNoomi Rapace, Paul Anderson

m

About

Bagaimana ya jika The Girl with Dragon Tattoo melawan seorang Mean Girl ? Yup ! Passion jadinya, film remake dari film Perancis berjudul Crime Love yang salah satunya di bintangi oleh Kristin Scott Thomas.

Film ini menjadi usaha lain dari Brian De Palma yang sedang mengalami penurunan karir terus-menerus.  Sutradara dari horor classic Carrie ini terakhir kali berjaya ketika ia sukses membawa Tom Cruise dalam Mission : Impossible, dan terakhir terjungkal (not documentary) pada film murdering, The Black Dahlia.

Film ini bercerita tentang rivalry antara dua wanita yang mempunyai ambisi dalam sebuah agen periklanan, Christine (Rachel McAdams) dan Isabelle James (Noomi Rapace). Christine yang merupakan dari Isabelle berusaha memanipulasi apa yang dikerjakan Isabelle dan mengambil credits dari kerja kerasnya. Tidak hanya itu, ketika Isabelle mulai melakukan perlawanan, Christine mulai mempermalukan Isabelle di depan umum, mengintimidasi, sampai memfitnahnya. Rivalry antar mereka berdua bahkan sampai berujung pada tindak pembunuhan yang ternyata membuka banyak misteri dari rivalry itu sendiri.

“Presenting its two distinctive leads, but not quite an erotic “erotic” movie, and the finale is a little bit ludicrous.”

Dengan magnet dua bintangnya, Rachel McAdams dan Noomi Rapace, kemudian digabungkan dalam satu film yang ingin mengambil sentuhan “erotic”, tentu saja film ini masih kurang nendang. Dan, jika film ini bergenre thriller, maka this movie isn’t thrilling at all.

Rachel McAdams terlihat kurang “evil” walaupun dia begitu luminous as usual. Karakter seorang Christine sebagai boss yang manipulatif sepertinya akan mengingatkan kita pada karakter sukses McAdams sebagai Regina di Mean Girls. Namun, di film ini ia masih terlalu standar, kurang mengintimidasi Isabelle.

Karakter Isabelle, yang diperankan Noomi Rapace adalah karakter dengan sejuta sisi. Ia seperti innocent, fragile, sedih namun mempunyai vulnerability layaknya seorang Lisbeth Salander yang mau menyerang. Tentu saja, sebagai karakter tama, sejuta karakter ini membuat Rapace kurang mempunyai depth unuk memerankan Isabelle. Transisi satu sisi Isabelle ke sisi lain Isabelle sepertinya masih terlalu kasar sehingga membuat kita berpikir “Ia langsung menjadi karakter lain” bukan “Ia ‘secara lambat’ berubah menjadi karakter yang lain.

Film ini memiliki dinamika sepanjang film, paruh pertama dengan menyenangkan menceritakan persaingan dua perempuan ini, bahkan diselipi dengan musik-musik yang kadang terlalu “menyenangkan” untuk sebuah thriller. Di paruh sepertiga kedua, cerita kurang bisa meruncingkan konflik yang ada pada dua karakter utama. Kurang banyaknya porsi untuk Rachel McAdams dan Noomi Rapace untuk bisa face to face secara intens. Di sepertiga berikutnya, sepertinya menjadi bagian yang cukup thought provoking sekaligus membingnungkan sekaligus manipulatif namun kurang investigatif (is there word “investigatif” ? Haha). Palma berani mengambil sisi klimax film (okeh, adegan murdering) dengan memakai ciri khasnya yaitu split screen. Walaupun mungkin pasti mendapatkan sisi estetika lewat adegan balet, namun scene klimax ini terlalu membingungkan dan masih sedikit menyebalkan ketika sebuah cerita berusaha memanipulatif dengan menghubungkannya dengan adegan “bangun dari tidur”. Thought provoking memang, namun ketika penonton malah menjadi bingung (bukan cenderung berpikir), apalah artinya sebuah thought provoking.

Satu lagi di adegan terakhir adalah character revealing yang begitu konyol. Sepertinya dari segi cerita, penulis terlalu malas untuk bisa melakukan sebuah pengungkapan yang lebih investigatif dan meninggalkan clue-clue. Terlalu shortcut dan yah, jatuhnya terlalu menggampangkan.

Jika dilihat dari secara keseluruhan, film ini sangat-sangat Brian De Palma, namun film yang sangat-sangat Brian De Palma is not enough anymore (now).

Trivia

Karakter Noomi Rapace akan mengingatkan kita pada karakter Rooney Mara pada Side Effect di sisi character revealingnya. Baik Rapace dan Mara juga pernah memerankan Lisbeth Salander pada film The Girl with Dragon Tattoo.

Quote

Isabelle James : There’s no backstabbing, Christine. Just business.