Reese Witherspoon

Reviews : Big Eyes (2014), Wild (2014), The Tale of Princess Kaguya (2014), and Two Days, One Night (2014)

Director : Tim Burton

Writer : Scott Alexander, Larry Karaszewski

Cast : Amy Adams, Christoph Waltz

Setelah melewati proses yang cukup panjang, kemudian terdengar kabar Tim Burton menduduki kursi sutradara, produser, kemudian Amy Adams dan Christoph Waltz (dua aktor spesialis supporting role) sebagai duo yang akan memimpin, dan yang terpenting tanpa Johnny Depp atau Helena Bonham Carter, Big Eyes langsung masuk dalam bursa award tahun 2014.

Jika satu gambar atau lukisan saja bisa menggambarkan ribuan kata-kata, apa jadinya dengan sebuah film yang merupakan motion picture ? Yah, dalam kasus ini – Big Eyes – mengecewakan, cukup memberikan satu kata saja : bland. Lukisan anak kecil dengan mata nanar berwarna hitam, kelam, dengan kesedihan yang tersirat, nyatanya tak mampu diangkat menjadi materi yang lebih berarti. Sama jatuhnya dengan konsep “paint by number”, tak peduli seberapa “berarti” gambar di dalamnya, arti tersebut juga dimiliki ribuan orang lainnya. Sisi spesial yang tergeneralisasi, dan inilah yang membuat kisah Margareth Keane terasa tak ada penekanan untuk meninggalkan kesan, kecuali sentuhan komedi yang rasanya seperti Tim Burton sedang memilih palet warna yang salah.

(more…)

Reviews : The Trip to Italy (2014), Men Woman and Children (2014), The Good Lie (2014), and Pride (2014)

Exquisite food, exotic place, humour ? Sounds like element of heaven.

The Trip to Italy memenuhi janjinya sebagai sebuah film tentang kuliner dan travelling. Frase yang menggambarkan : mouthwatering wanderlust. Bagaimana tidak ? Melihat perjalanan dua komedian memerankan diri mereka sendiri ; Steve Coogan dan Rob Brydon, menjelajahi setiap inchi dari negara Italy, dimana di setiap mereka singgah selalu ada saja piring dengan visualisasi makanan yang penonton hanya bisa lihat dan tak bisa merasakan adalah satu kenikmatan tersendiri.

(more…)

Election (1999) : Ethically Morally Tested, Vote Tracy Flick for This Dark Comedy High School Flick

Director : Alexander Payne

Writer : Alexander Payne, Tom Perrotta

Cast : Matthew Broderick, Reese Witherspoon, Chris Klein, Jessica Campbell

About

Election merupakan film karya Alexander Payne yang bercerita tentang pemilihan di sebuah SMA yang mengubah semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Okay, ini dia, para kandidatnya.

Candidate 1 : Tracy Flick

ImageWhat are you thinking when you see that face, yeah, this is priceless side of Reese Witherspoon. I don’t freeze it, this movie did it and this is fucking genious. Tracy Flick (Reeese Witherspoon) bisa dikatakan sebagai straight A student yang overachiever, ambisius dan juga perfectionist, and she’s a bitch (now I am judging her). Tidak heran dia mengikuti pemilihan ini, yep that’s something to put in her CV for the college.

Candidate 2 : Paul Metzler

Paul (Chris Klein) adalah Mr. Popular di sekolahnya, sekaligus mantan atlit yang sedang cidera dan sedang berusaha menemukan tujuan hidupnya kembali, salah satunya dengan mengikuti pemilihan di sekolahannya ini.

Candidate 3 : Tammy Metzler

Tammy (Jessica Campbell) tidak lain tidak bukan adalah adik dari Paul yang ingin membalas dendam kepada sahabat baiknya, yang kini menjadi pacar dari Paul.

Semuannya dikumpulkan oleh guru favorit mereka, Mr. M (Matthew Broderick).Guru dengan wajah innocent yang ternyata mempunyai pikiran “nakal” di dalam kepalanya. Disinilah, di pemilihan inilah, semua tokoh diuji. Who’s gonna win and how ?

“It has the (almost) perfect score.”

Election merupakan sebuah alat untuk menguji karakter terhadap situasi dan juga tujuan yang ingin mereka capai, entah bagaimana caranya. Dengan menyajikan multi narasi, yang ditunjukkan dari banyaknya voiceoverpara karakternya, sepertinya film ini menyajikan tontonan yang lebih dinamik dan juga mendalam untuk melihat masing-masing karakter tanpa kehilangan fokus terhadap topik utamanya.

Dark comedy yang diangkat dengan sentuhan komedi yang unik sekaligus tanpa melupakan sisi menghibur. Dark comedy tentang yang benar dan apa yang salah, menurut moral atau juga menurut etik (Honestly, I don’t know the differences) digabungkan dengan konsep “fate”, film ini berhasil menjadi film thoughtful, dan secara pribadi sepertinya “membuka mata”.

Film bersetting di SMA atau high school ini berhasil menyalurkan energi untuk berhingar bingar lewat variasi karakter, mulai dari Tracy Flick merupakan sosok siswa yang paling “mendapatkan ujian” di sepanjang film, ditampilkan dengan nyaris sempurna oleh Reese Witherspoon. Sebuah karakter yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan Elle Woods, seperti di Legally Blonde, tidak kejutan jika dua karakter yang bertolak belakang ini sama-sama dinominasikan di ajang Golden Globe. Tracy Flick merupakan tokoh yang bisa dikatakan paling “dark” dan menciptakan energi (mostly, negatif) di sepanjang film. Walaupun menjadi tokoh antagonist utama dalam film, karakter Tracy Flick ini juga sedikit banyak mengundang simpati dengan karakternya yang cenderung memiliki shallow purpose dalam hidupnya dan merubah prinsip “menghalalkan segala cara”-nya menjadi sesuatu yang ironis. Dua karakter kandidat lainnya, walaupun terlihat mencolok, namun berhasil mengimbangi dominasi Tracy Flick ini. Paul yang naif, Mr. Brightside disandingkan dengan adknya yang seperti bola liar dan berperan sebagai twist dalam jalan cerita.

Dilihat lagi, film ini sebenarnya bagaimana karakter Mr. M versus Tracy Flick sendiri. Jika para kandidat pemilihan mewakili sisi menggebu remaja, Mr. M merupakan sisi “adult” yang memiliki masalah lebih kompleks karena harus berhadapan terhadap efek komplikasi dari karir ke rumah tangganya. Karir mewakili bahwa ia harus bermain secara politik dengan para siswanya, sementara masalah-masalah rumah tangganya merupakan masalah seksualitas yang dipengaruhi oleh karirnya. Disinilah mengapa film bertema “high school” memiliki sebuah visi yang lebih luas dalam melakukan penyampaian pesan berceritanya, sekaligus membuat film ini berada di atas rata-rata dari film-film bertema serupa yang hanya membahas masalah remaja dari kulit luarnya saja.

Ditulis oleh sang sutradara, film ini berhasil memadatkan materi menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak dalam setiap scene-nya. Tentu saja, tanpa melupakan sisi komedinya yang dipenuhi dengan dialog-dialog supersharp namun tetap enak untuk ditelinga, tanpa terlihat terlalu dibuat-buat.

Komedi ini dikemas sangat menarik dengan berbagai banyak treatment yang simple namun juga memorable, seperti bagaimana film ini meng-efreeze ekspresi Tracy Flick, itu merupakan hal yang sangat jenius.  Disajikan dengan fast-pace namun masih nikmat untuk diikuti, tidak salah memang jika film ini menjadi salah film high school terbaik.

Trivia

Perbedaan etik dan moral adalah menjadi salah satu topik yang menarik di film ini. Tidak tahu perbedaannya, I googled for you. Enjoy !

Quote

Jim McAllister    :  Tracy Flick. Tracy Flick. I’d seen a lot of ambitious students come and go over the years, but Tracy Flick, she was a special case.

Erin Brokovich (2000) and Legally Blonde (2001) : Both are Blonde, Legal is New for ‘em but They’re Great at It

 

Sebuah film bertemakan meja hijau ternyata sama menariknya dengan film bertema politik, gangster atau football. Salah duanya adalah Erin Brockovich yang muncul pada awal milenium dan Legally Blonde yang rilis pada satu tahun setelahnya. Keduannya di bintangi oleh dua aktris berbakat yang telah meraih piala Oscars. Di dalam kedua film ini, Julia Roberts dan Reese Witherspoon adalah blonde yang harus terjun di bidang hukum, walaupun mereka lebih cocok sebagai ‘ratu kecantikan’. Walaupun harus berkutat dengan hukum yang notabene serba serius, ternyata film semacam ini mempunyai cara sendiri untuk mengocok perut para penontonnya.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Erin Brockovich (2000)

Director :  Steven Soderbergh

Writer : Susannah Grant

Cast :  Julia RobertsAlbert Finney, Aaron Eckhart

“Shining Roberts in steady hand of Soderbergh.”

About

Diangkat dari sebuah kisah nyata, Erin Brockovich (Julia Roberts) pada mulanya hanyalah single parent dengan tiga anak yang sedang putus asa, tanpa pekerjaan, tanpa uang. Dengan modal nekad, ia memaksa pengacaranya, Ed Masry (Albert Finey) untuk memperkerjakannya sebagai file clerk di kantornya. Sebuah kasus tiba-tiba datang dan menarik Brockovich untuk menyelidikinya lebih lanjut, sebuah kasus yang berkaitan dengan sebuah perusahaan energi raksasa yang ‘diduga’ mencemari lingkungan dan membuat beberapa orang mengalami gangguan kesehatan. Tak disangka, kasus ini jauh lebih besar dari yang Brockovich, bahkan Masry, bayangkan. Sebuah kasus yang menyangkut keadilan untuk seluruh penduduk kota. Bisakah Brockovich menangani kasus raksasa ini sementara ia sendiri tidak mempunyai kapabilitas diri di bidang hukum ?

Film ini diarahkan oleh salah satu sutradara yang paling stabil dan produktif walaupun sebentar lagi dikabarkan akan pensiun sebagai sutradara, Steven Soderbergh. Film ini tidak hanya mengantarkan Julia Roberts mendapatkan Oscar setelah dua nominasi sebelumnya namun juga mengantarkan ia sebagai aktris pertama dengan bayaran 20 juta pada masa itu.

Roberts is amazing, this movie owes her so much.

Dengan perannya sebagai single mother yang frustasi dengan tekanan hidup dengan fouled mouth-nya, tidak membuat Roberts kehilangan karisma, warmth dan charm-nya yang membuat penonton ikut frustasi atau kehilangan simpati terhadap karakter Erin Brockovich. Roberts adalah magnet di film ini dan yang lebih utama lagi, magnet itu terus menarik penonton sepanjang durasi film. Beberapa lines yang catchy dalam film disampaikan dengan kekuatan Roberts membuat beberapa moment begitu memorable. Tidak lupa, Roberts juga mendapatkan lawan yang sepadan, seorang Robert Finney yang memerankan Ed Masry, keduannya membangun chemistry yang baik walaupun dalam film ini hubungan antar tokoh ini terkadang tidak stabil. Dengan cerita yang bersifat crowd pleaser dengan nilai plus bahwa cerita dalam film ini adalah true story, membuat sebuah jaminan banyak penonton terkagum-kagum dan akan menyukainya. Hal ini akan menjadi sebuah sisi kompensasi bagi penonton untuk masalah sebuah film yang mengangkat true story, terkadang jalan ceritanya klimaxnya kurang terasa. Dengan tangan dingin dari Soderbergh, film berjalan stabil walaupun terdapat beberapa part film yang mengalami jalan di tempat di sisi storyline-nya. Sisi yang mengganggu adalah sisi hubungan percintaan antara Brockovich dan George (Aaron Eckhart) yang terkesan sangat artificial dalam film dan sedikit mengganggu. Karakter George sepertinya hanya dihadirkan benar-benar sebagai ‘nanny’ agar Brockovich dapat hampir 100 persen berkonsentrasi pada kasus yang manjadi inti cerita, walaupun akhirnya sisi ini menjadi sisi klise dari sebuah kisah nyata.

Trivia

Julia Roberts adalah salah satu artis yang menyabet Academy Award, Golden Globe, Critic Choice Award, SAG, dan BAFTA untu satu peran yang sama. Aktris lainnya adalah Renee Zellweger (Cold Mountain), Reese Witherspoon (Walk The Line), Helen Mirren (The Queen), Jennifer Hudson (Dreamgirls), Kate Winslet (The Reader), Mo’Nique (Precious), Natalie Portman (Black Swan) dan Octavia Spencer (The Help).

Quote

In early movie, Brockovich : Did they teach lawyer to apologize ? Because you suck at it.

In the end of movie, Masry : Did they teach beauty queen to apologize ? Because you suck at it.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Legally Blonde (2001)

Director : Robert Luketic

Writer : Karen McCullah Lutz, Kirsten Smith

Cast : Reese Witherspoon, Luke Wilson, Ali Larter

“Shallow wits, entertaining yet no surprise.”

About

Ditangani oleh tangan debutan Robert Luketic, sutradara yang kebanyakan menggarap genre romcom, film ini bercerita tentang Elle Woods (Reese Witherspoon) yang terpaksa terjun ke sekolah hukum di Harvard hanya untuk mengejar mantan pacarnya. Elle Woods adalah gadis muda kaya yang harus melawan labelling “dumb blonde” dari lingkungan kampusnya. Ketika ia terus dicap bodoh, hanya karena ia blonde, cantik, fashionable, ia menekatkan diri bahwa ia dapat mengatasi apapun, termasuk menjadi mahasiswi hukum yang berprestasi. Ketika ia berhasil mendapatkan sebuah internship, ia dan timnya harus menangani sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan mantan pelatih fitnesnya, Brooke (Ali Carter). Bisakah ia membebaskan Brooke dari tuduhan sementara ia adalah satu-satunya dalam timnya yang mempunyai faith bahwa Brooke sebenarnya tidak bersalah ?

Funny, but everything just come up like it should be. I gotta say Woods isn’t smart blonde, but she’s a lucky blonde.

Ketika sebuah film bergenre komedi dengan hanya seorang leading actor/actress dengan screenplay yang cenderung familiar dan predictable, beban seorang leading actor/actress begitu besar. Dia tidak bisa hanya menampilan sebuah performa yang biasa saja karena penonton sudah jelas tahu cerita akan berjalan kemana. Beginilah yang dialami Reese Witherspoon. Bisa dikatakan Witherspoon berhasil membuat karakter Elle sebagai anti depresan untuk penonton dengan tingkat percaya diri dan keceriannya yang sangat tinggi walaupun Witherspoon hanya mampu meng-cover karakter ini di luarnya saja (but she did the best with the material). Penampilan Witherspoon ini penyelamat bagi “too good too be true” storyline dengan selingan beberapa jokes, scene berlebihan dari ke-feminiman Elle, dan wits yang dangkal dan kurang analytical untuk film legal seperti ini.

Film ini sangat segmented, sebuah chick flick yang akan memuaskan untuk para gadis-gadis remaja yang peduli dengan fashion dan lain sebagainya, namun untuk segmen penonton lain, terutama cowok, film ini hanya akan menjadi film yang terlalu feminin yang tidak menawarkan kedalaman kasus atau witty sides seperti halnya film tema legal seharusnya dan hanya akan berakhir sebagai film komedi biasa yang tidak berkesan.

Trivia

Empat puluh gaya rambut yang berbeda ditunjukkan oleh karakter Elle Woods sepanjang film. Surely, men don’t give a shit about this trivia.

Quote

Woman in boutique : There’s nothing I love better than a dumb blonde with Daddy’s plastic.

This Means War : A Combination Among Comedy, Action, and Romance

Sutradara : McG

Penulis : Timothy Dowling (screenplay), Simon Kinberg (screenplay)

Pemain : Reese WitherspoonChris PineTom Hardy

“It combines action, romance, and comedy, but it’s never being a full glass, right ? NO SHIT !”

About

Tuck (Hardy) dan FDR (Pine) adalah dua mata-mata yang telah bersahabat sejak lama dan sudah seperti keluarga sendiri. Suatu saat, mereka menyukai gadi yang sama Lauren ( Witherspoon). Segala daya upaya mereka lakukan untuk merebut hati sang gadis, tentu saja dengan cara seorang mata-mata.

Pro’s

Film ini bisa dibilang adalah sajian yang cukup menghibur untuk seorang movigoers yang tidak banyak menuntut. Berbagai suguhan aksi, komedi atau romantic semuannya ada disini.

Con’s

Walaupun hampir semuannya ada, komedi, romansa atau aksi, namun semuannya bias dikatakan dalam porsi ‘nanggung. Dibintangi oleh bakat-bakat  hebat, terutama Witherspoon yang merupakan pemenang Oscar, ternyata tidak cukup membuat film ini hanyalah sekedar film. Performance Pines sekedar biasa, performance Hardy cukup baik, namun Witherspoon malah gagal menjadi seorang gadis yang mampu memancarkan aura memukau untuk menjerat dua orang ini.  Ditambah editan adegan-adegan yang layaknya dibuat montage, menambah ketidaknyamanan saat menonton film ini berupa adegan terus bergantian antara adegan Pine-Witherspoon, adegan Hardy-Witherspoon, adegan Pine-Hardy, terus dilakukan berulang-ulang, namun tidak ada satupun yang intens dan menciptakan gelak tawa.

Trivias

Bradley Cooper dan James Franco pernah dipertimbangkan untuk bermain dalam film ini.

Quote

Tuck : Sometimes, falling is the best part.