Shirley MacLaine

Postcards from The Edge (1990) : Not Really A Twirled Up Comedy, Pair of Wino Mother and Doped Up Daughter

Director : Mike Nichols

Writer : Carrie Fisher

Cast : Meryl StreepShirley MacLaineDennis Quaid

“We’re designed more for public than for private.” – Suzanne Valle

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Pecandu obat-obatan, dan alkoholik, wow, sepertinya menjadi dua masalah addiction besar yang diangkat menjadi sebuah film semi biography dari Carrie Fisher. Film dibuka dengan sebuah scene bahwa masalah ini menyebabkan sebuah masalah komplikasi yang mempengaruhi segala sisi kehidupan, termasuk dalam kehidupan pekerjaan seorang Suzanne (Meryl Streep) yang sedang mengerjakan sebuah proyek film dan proyek film tersebut harus terhambat karena dirinya bisa dikatakan mengalami OD ringan (bukan overdosis juga sih). Dengan penglihatannya yang sepertinya blurry, Suzanne berusaha menata dirinya kembali ketika ia ia harus menjalani serangkaian rehab. Film ini sepertinya tidak ingin berlama-lama menanggapi proses recovery seorang Suzanne di rehabilitasi, proses recovery lebih diperlihatkan ke dalam kehidupan pekerjaan, sosial (dalam hal ini percintaan) dan juga keluarga dari Suzanne.

Drug and celebrity, yeah, terakhir kita lihat mungkin pada kasus Philip Seymour Hoffman beberapa minggu yang lalu, dan ternyata sepertinya untuk bekas junkies, termasuk Suzanne pun tidak mudah untuk mengembalikan karirnya sebagai seorang aktris selepas insiden ini, untuk menjamin para producer dan saran agents-nya pun ia harus kembali tinggal dengan Ibunya, Doris (Shirley Maclaine) yang juga seorang performer senior yang memiliki hubungan dengan Suzanne yang tidak begitu bagus. Segala bakat dari seorang Suzanne sepertinya ter-overshadow dengan karir Ibunya yang sebenarnya sangat supportif namun terlalu self-center dengan keadaan Suzanne yang sedang “hitting bottom”.

Walaupun berkaitan dengan drugs, sifat alkoholik dari Ibunya, kehidupan selebritis namun film ini tidak terlalu dikemas secara glamour, blink-blink serius namun dikemas dengan begitu ringan dan komedi, didukung dengan screenplay dengan jokes-jokes tajam namun tidak sepenuhnya efektif dapat mengundang tawa instan dari penonton.

Duo Meryl Streep dan Shirley Maclaine pun terbukti menjadi “berkah” untuk film ini. Film ini merupakan catatan sejarah nyata, ya mengapa Meryl Streep tidak hanya seorang aktris yang hebat namun juga aktris yang mampu memberikan performance yang begitu bijaksana. Didalam sebuah film yang ‘light”, seakan-akan ia menempatkan posisinya menjadi “light” pula. Walaupun karakternya memiliki “bad habit” namun Streep mampu menampilkan penampilannya yang memang lebih berkonsentrasi pada recovery-nya untuk menjadi normal ketimbang menanggapi bad habit ini dengan sisi negatif. Hasilnya, lovable. Aktris yang satu begitu masuk ke dalam genre komedi, tanpa melupakan kekuatan performance-nya yang masih begitu dominan di layar. If you wanna see Streep dabbles as weak, overshadowed actress, blurry in sight, make a bad movie, yeah this is it, her fine but sharp performance makes this movie, a lil bit irony. Karakter Streep ini juga tidak terlalu “dragging” penonton dengan masalahnya yang banyak walaupun tidak kompleks, benar-benar membuat Suzanne menjadi karakter yang lucu (effortlessly) dan tidak mencoba untuk menjengkelkan.

Seorang Ibu yang peduli dengan anaknya ? Almost completely shutted out by her daughter ? Yeah, pemilihan aktris Shirley Maclaine mungkin menjadi pilihan casting yang aman mengingat sebelumnya ia juga seorang Ibu plus Oscar di film Terms of Endearment. Bagaimana dua karakter ini menciptakan “tek-tok-an” dialog namun dalam waktu bersamaan seakan-akan menciptakan jarak antara Ibu dan anak ini juga harus diacungi jempol. Shirley Maclaine merupakan lawan sebanding untuk leading actress sekelas Meryl Streep. Berbeda dengan perannya di Terms of Endearment sebagai old, mean lady, disini ia begitu supel dan glamor sebagai seorang performer senior. Thumbs up for Maclaine.

Sebenarnya sisi Ibu dan anak ini menjadi sisi yang paling menarik dari Postcards from The Edge, namun film ini seakan-akan “too long to hold its horses”, hasilnya, ketika telah ditekan oleh durasi, film ini langsung men’simplify” solusi ibu dan anak, terjebak dalam sentimentilitas yang sebenarnya heartwarming namun cenderung terlalu sederhana. Mengingat ini sebuah film semi biopic, kesederhanaan cerita dan problem solving ini membuat seakan-akan film ini kurang memiliki cerita yang worth it jika dilihat melalui ukuran sebuah biopic atau semi-biopic.

Subplot cerita seperti hubungan percintaan Suzanne dan Jack Falkner (Dennis Quaid) juga terkesan kurang penting dan essential, namun untung saja berkat subplot cerita ini banyak-banyak moment-moment komedi yang tertangkap kamera termasuk penampilan singkat namun langsung “on click” antara Meryl Streep dengan Annette Bening, just fuck yeah.

This movie is one of reasons why Streep deserves more than a fucking Mama Mia. Film ini memang bukanlah film musikal, namun terdapat beberapa moment musikal yang kebetulan di perform langsung oleh Meryl Streep dan untuk moment-moment yang seperti ini, it is really better than Indonesian Idol plus another reason why Streep is good because she can sing.

Film ini memang sekedar hiburan yang terkesan dangkal, namun diperkuat oleh cast-nya. Film ini juga sepertinya melakukan “mocking the cliche, but doing the cliche” pada waktu yang bersamaan. Yeah, life is not like movie where it changes in seconds.

A not really twirled up comedy, and a too simplified heart, but good enough to be a decent one.

The Secret Life of Walter Mitty (2013) : Ben Stiller’s Most Ambitious Project as Adventurous Daydreamer, UNBELIEVABLE

Director : Ben Stiller

Writer : Steve Conrad, James Thurber

Cast : Ben Stiller, Kristen Wiig, Adam Scott, Shirley MacLaine¸Sean Penn

About

Comment for the poster : This movie release great teaser trailer, great teaser posters, but this poster is just, hmmmm, truly disappointing, too much ask attention.

Sempat menjadi film yang paling diantisipasi di tahun 2013, namun kemudian seakan-akan berakhir menghilang dikarenakan awal review yang kurang menyenangkan, dan seketika mengeluarkan film ini dari Oscar race membuat ekspektasi untuk film ini turun secara tajam. Walter Mitty (Ben Stiller) adalah seorang karyawan yang telah mengabdi bertahun-tahun di majalah LIFE. Sebuah pekerjaan untuk mengelola negative dari setiap foto telah menyita waktunya, membuat ia menjalani setiap waktu kerjanya dengan banyak melamun (daydreaming). Kebanyakan ia melamun tentang petualangan seru yang hanya ada di pikirannya, terkadang ia juga melamun tentang wanita pujaannya, Cheryl (Kristen Wiig). Suatu ketika, perusahaannya berganti platform menjadi majalah online, dan cover terakhir pun akan segera dirilis. Sebuah foto dari seorang fotografer idealis dan petualang pun didapuk sebagai foto terakhir. Sayang, ketika Sean (Sean Penn) mengirimkan sejumlah negatif, no.25 yang manjadi cover terakhir pun entah menghilang kemana. Tanpa ada banyak pilihan Walter Mitty pun menjalani berbagai petualangan sebelum ia benar-benar dipecat oleh bosnya yang songong, Ted Hendrick (Adam Scott).

“What an almost empty adventure.”

Yeah, The Secret Life of Walter Mitty memang selayaknya bisa menjadi sebuah sajian crowd pleaser dari para penontonnya. Beberapa elemen ini terlihat dari sajian visual yang benar-benar “wow”, berbagai dialog yang “quotable”, sampai petualangan-petualangan keliling dunia yang tidak bisa lagi ditolak keindahannya.

Okay, I said UNBELIEVABLE, because of this. Something goes wrong ? Yeah, mau tidak mau Walter Mitty merupakan sajian yang entertaining, dengan ending yang menyentuh. Namun terdapat satu yang membuat film ini hanyalah sekedar adventure biasa, yeah, karakter Walter Mitty itu sendiri. Walter Mitty digambarkan sebagai karakter yang terlalu flat,  hmm tidak mengeherankan jika peran ini diambil oleh Ben Stiller yang juga bertindak sebagai sutradara. Namun, film yang terlihat ambisius ini kemudian terasa kosong oleh karakter Walter Mitty yang cenderung kurang ambisius, kosong, datar, tidak mempunyai sebuah motif yang cukup untuk melakukan perjalanan. Ia hampir dimakan hiu, loncat dari helikopter, diterjang asap vulkanik demi sebuah negatif ? Really ?  Really ? Really ? REALLY ? UNBELIEVABLE . Sean Penn yang memiliki screentime cukup sebentar terbukti menjadi sebuah karakter yang lebih kaya ketimbang Walter Mitty itu sendiri. Entah karena materi screenplay, atau Ben Stiller yang cenderung terlalu lemah untuk memerankan karakter ini, sebenarnya terdapat banyak hal yang melingkupi seorang Walter Mitty, mulai dari hubungannya dengan ayahnya, dengan ibunya (Shirley Maclaine) dan mungkin yang paling utama tujuan dari film ini adalah self invention dari seorang daydreamer menjadi seorang “do-er”. Entah mengapa, faktor yang harusnya bisa dieksplor ini malah tertutupi dengan keindahan petualangan dan juga kisah cinta yang cenderung mediocre.

Big heart, but a lot of shortcuts for the sentiment thing. It’s not about the negative is all about. Film ini akan membawa penonton berlinang air mata menuju ending, sebuah akhir yang mengejutkan. Namun, ketika ditilik lagi,lagi, lagi, hubungan antara Sean dan Walter Mitty malah kurang terkesplor. There’s something missing between two people. Penyajian moment-moment sentimental namun terasa dangkal tanpa disertai background dari sisi sentimentil itu sendiri.

Film ini pada awalnya menghadirkan scene-scene daydreaming dengan Ben Stiller loncat gedung, adegan menghajar bosnya yang cukup menarik yang benar-benar mematri di pikiran penonton bahwa apapun yang dilakukan Ben Stiller di film ini hanyalah fantasi. Sisi buruknya, terkadang kurang adanya tension/sensasi petualangan yang bisa dirasakan mengingat penonton sudah berpikir, “Meh, dia cuman melamun.” Bahkan di genre fantasi sekalipun, ketika penonton sudah menganggap sesuatu yang terjadi adalah sesuatu yang tidak real, it doesn’t matter anymore, dan adegan ini dilakukan berkali-kali, sebuah tindakan melangkah ke depan, namun kemudian mundur lagi, tidak membawa penonton kemana-mana. Sisi baiknya, ketika film mulai kicking, film ini memberikan ambiguitas kepada penonton, apakah adegan Ben Stiller (mulai ia perjalanan ke Greenland) adalah sebuah petualangan yang nyata (dalam artian tidak melamun), dari sinilah film ini mulai enak untuk dinikmati.

I am not saying it’s a bad movie. Dengan banyaknya adegan artistik, plus scoring yang adventure-ish, ditambah dengan sisi misteri lewat puzzle-puzzle foto, “Dimanakah Sean berada ?, walaupun misteri puzzle ini kurang cerdas namun cukup membawa penonton untuk tetap penasaran.

Yeah,mungkin film ini menghadapi trouble yang dilakukan oleh film You See Me Now. Keduanya keren secara visual, kedunnya menghibur, keduanya penuh teka-teki (di sisi ini You See Me Now lebih unggul). Namun, jika You See Me Now lebih terlihat seperti acara sulap yang tidak ada penjelasan logis di belakangnya, film ini kurang ada karakter yang lebih bisa berpetualang di film tentang petualangan ini. Yeah, mungkin karena nila setitik, rusak susu (hampir) sebelanga.

Ben Stiller is quite impressing as director, but not as actor, and this movie could do a lot, a lot, a lot, better. Movie as entertainment ? Yeah, it’s fucking a hit. Movie as something more, maybe not.

Trivia

Jim Carey sempat dipertimbangkan untuk memerankan Walter Mitty. Hmmm, why not ? I think the character will be so much, uuuuuuhm, attractive.

Quote

Sean : Beautiful things don’t ask attention.

Terms of Endearment (1983) : Mother Daughter Relationship with Eleven Oscars Nominations

Director : James L. Brooks

Writer : James L. Brooks, Larry McMurtry

Cast : Shirley MacLaineDebra WingerJack Nicholson, John Lithgow

About

Film ini memenangkan lima dari sebelas nominasi, termasuk Best Picture, Best Director, sampai Best Writing. Tidak hanya itu saja, film ini juga diperankan beberapa aktor/aktris yang juga mendapatkan empat nominasi di kategori akting dimana Shirley Maclaine memenangkan Oscar pertamanya, dan Jack Nicholson memenangkan Oscar keduannya setelah berperan di One Flew Over the Cuckoo’s Nest.

Tidak salah jika ekspektasi akan film ini lumayan besar selain film ini juga dianggap salah satu film tear-jerker terbaik dengan penampilan solid para pemainnya.

Kehidupan tentang ibu dan anak dibahas dalam film ini dan bisa dikatakan sebagai main course-nya. Aurora (Shirley Maclaine), seorang ibu yang sangat protektif dan sangat “freak control” terhadap anaknya, Emma (Debra Winger). Setelah kematian suaminya, Aurora semakin posesif termasuk ketika Emma telah beranjak dewasa dan siap menikahi laki-laki pilihannya, Flap (Jeff Daniels). Karena sifatnya, tentu saja Aurora tidak setuju bahkan tidak menyukai Flap, namun saking mengertinya Emma akan sifat ibunya, hal itu tidak menjadi masalah. Pasangan Ibu dan anak ini kemudian dipisahkan ketika Emma harus mengikuti suaminya yang bekerja di luar kota Texas. Sementara Emma menjalani kehidupan rumah tangga di Texas yang tidak mulus karena masalah keuangan, mengurusi ketiga anaknya, hingga hadirnya orang ketiga, kehidupan Aurora kini tinggal sendiri dan cenderung kesepian. Hingga ia menjumpai tetangga, yang merupakan mantan austronot, dan penjerat wanita, Garett (Jack Nicholson), seorang laki-laki unik yang membuat Aurora mempunyai minat kembali terhadap laki-laki walaupun usianya sudah menjelang tua.

“It has charms, good acting (especially Maclaine and Nicholson, they have no difficulties to act this kind of character), but I think it’s a little bit overrated, I think.”

Okay berbicara tentang Jack Nicholson di film ini, sepertinya tidak ada yang spesial dengan aktingnya, hanya saja sepertinya karakter Garret yang womanizer, sepertinya mendapatkan aktor yang cocok untuk memainkannya. Tentu saja, Jack Nicholson sepertinya tidak mendapatkan kesulitan untuk memainkan karakter yang bisa dikatakan “menyerupai dirinya”, apalagi ditambah ketika ia memakai tuxedo dan kacamata, yeah it’s him ! Kurang lebih sama dengan Jack Nicholson, Shirley Maclaine, memerankan ibu posesif dengan sifatnya yang sedikit judes (hmmmm, yeah, I watched Bernie and Steel Magnolias first), yeah peran seperti itu sepertinya sudah familiar untuk Shirley Maclaine.

Jika disebut dengan film “ibu dan anak” mungkin film ini kurang tepat, jika diekspektasikan seperti itu maka harapan untuk film ini akan sedikit meleset. Porsi berinteraksi dan juga berbagi layar antara Aurora dan Emma sendiri mendapatkan batasan long distance relationship yang mereka jalani. Hubungan Ibu dan anak hanya mendapatkan perlakuan di awal dan akhr film, sedangkan di sepanjang film, hubungan ini hanya berupa komunikasi lewat telepon. I gotta say, walaupun porsinya sedikit namun hubungan ibu dan anak ini adalah bagian terbaik dari film.

Film ini lebih banyak menunjukkan bagaimana kehidupan rumah tangga Emma dengan Flat sebagai pasangan muda yang cenderung dinamis, penuh dengan konflik, dan juga terkesan membosankan, walaupun diperankan oleh Debra Winger yang memiliki charm tersendiri di layar sedangkan Shirley MacLaine mewakili generasi berumur yang mempunyai hubungan statis di kehidupannya yang cenderung kesepian sampai ia menemui tokoh Garret dan menjalani hubungan “tanpa status”, dan ketika MacLaine plus Nicholson berbagi layar, i know, i know, it’s kind of awkward than romantic, namun sisi positifnya, paling tidak film ini berani dalam mengekplorasi hubungan mereka berdua.

Terdapat juga satu karakter yang juga dinominasikan Oscar namun hanya memiliki porsi yang kecil di film, dia dalah John Lithgow, berperan sebagai Sam Burn, tokoh yang menjadi lawan affair dari Emma, walaupun dia benar-benar mendapatkan karakternya sebagai seorang laki-laki yang awkward sekaligus kurang puas terhadap perkawinannya, namun ketika ia mendapatkan nominasi untuk porsi ini, I am still surprise. Sebenarnya bukan masalah intensitas waktu di layar, he’s good but is he good enough ? Ketika Viola Davis dinominasikan di Doubt untuk karakter yang cenderung sedikit porsinya, I got the reason, tapi untuk tokoh yang satu ini ? Yeah, kita tidak tahu kompetisi Oscar 1983, sekali lagi.

Berbicara tentang awards yang dimiliki film ini, yeah I am totally impressed. Yeah, walaupun memenangkan kategori utama, I gotta say, I don’t find something special here. Dikatakan overrated atau tidak, yah, Oscars 1983, I haven’t born yet, even I don’t know others nominees. Film ini bukan film yang memiliki best moment di sepanjang film, namun sekali lagi, film ini harus berterimakasih pada cast-nya yan membuat film ini terasa solid sampai akhir. Untuk kategori film tear-jerker, film ini gagal, I don’t cry, I feel so-so.

Kuncinya dalam melihat film ini, jangan berekpektasi banyak dari awards yang didapat. Yah mungkin inilah yang sering menjadi masalah bagi generasi yang lahir sedikit belakangan, ketika banyak orang membicarakan film lama, atau klasik, rating tinggi, award banyak, namun setelah kita melihatnya, kita merasa biasa saja, yeah I know, we all got our own taste.

Trivia

Tokoh Emma sebenarnya ditulis untuk aktris Sissy Spacek

Quote

Aurora : Grown women are prepared for life’s little emergencies.

Steel Magnolias (1989) : Star Studded Chick Flick, Close-Knit Circle of Beauty Parlor-friends

Director : Herbert Ross

Writer : Robert Harling

Cast : Shirley MacLaineOlympia DukakisSally Field, Dolly Parton, Daryl Hannah, Dylan McDermott, and Julia Roberts

About

Steel Magnolias mungkin menjadi salah satu film dengan star studded di zamannya. Bagaimana tidak, film ini dibintangi oleh nama-nama besar (dulu, dan sekarang) seperti Shirley Mclaine, Sally Field, Dolly Parton, Olympia Dukakis, serta dua aktris yang sedang mekar di zamannya seperti Daryl Hannah dan juga Julia Roberts.

Steel Magnolias sendiri diambil untuk melambangkan sesuatu yang terkesan feminim, lemah lembut namun berhati baja. Dan, iya, cerita di film ini seputar persahabatan para perempuan ini dalam menghadapi segala permasalahan di kehidupan mereka. Shelby (Julia Roberts), seorang penderita diabetes akhirnya memutuskan menikah dengan laki-laki yang dicintainya, Jackson (Dylan McDermott). Persiapan pernikahannya pun dilakukan oleh ibunya yang sangat protektif terhadap semua keadaan Shelby, M’Lynn (Sally Field). Di lingkungan tempat tinggal mereka, terdapat beauty parlor (salon mungkin ya kalau sekarang) yang dikelola oleh Truvy (Dolly Parton) dan juga pegawai barunya, Annelle (Daryl Hannah). Beauty Parlor ini juga mengurusi bagian “dandan” untuk pernikahan Shelby. Cerita semakin dilengkapi oleh dua janda, janda bahagia Clairee (Olympia Dukakis) dan juga janda galak Ouiser (Shirley MacLaine). Enam wanita ini menjalin persahabatan dan berbagi cerita ketika mereka berkumpul dalam moment beauty parlor.

Okay, I hate make synopsis.

“This movie has really hard job. Wanna tears and laugh in the same time, maybe, it’s less succeed but since the ladies here has clicks, I don’t have problem with that.”

Film ini mengalami banyak loncatan waktu mengingat film ini ingin mengambil moment-moment penting dari kehidupan enam wanita ini, terutama dari sisi Shelby dan Ibunya. Moment tersebut dibagi menjadi moment pernikahan, moment mengandung, moment mempunyai anak, moment “menyedihkan” dan moment “life must go on”. Loncatan waktu ini mungkin akan membuat penonton merasa kehilangan “main event” yang sedang dibangun. Yah, walaupun memang ada peristiwa akhir yang bakal dihadirkan di ending film. Namun, sepertinya penonton terkadang harus me-reset feeling ketika konflik tiba-tiba harus kembali menuju nol lagi.

Tone awal dari film ini, lebih menghadirkan tone comedic yang terjadi di pernikahan Shelby dan scene-scene perkenalan masing-masing karakter. Walaupun di sepanjang film, sebagian besar konflik berasal dari Shelby dan ibunya namun film ini menghadirkan perkenalan setiap karakter dalam jumlah yang setara, sehingga di scene awal, sepertinya tidak ada karakter-karakter yang menonjol. Barulah, sebuah scene (dimana merupakan scene terbaik dalam film ini, dan sepertinya scene inilah yang membawa Julia Roberts pada nominasi pertamanya di Oscars) mulai dihadirkan, yaitu saat karakter Shelby mengalami “kumat” untuk penyakit diabetesnya.

Film ini memiliki sebuah misi yang cenderung berat, yaitu ingin menghadirkan konflik di dalam film secara menyedihkan yang membuat penonton menangis, namun juga membuat penonton tertawa lewat line-line dan akting yang dilontarkan para pemainnya. Memang terkadang tidak berhasil, atau kurang berhasil, namun kualitas akting dan chemistry dari para pemainnya cukup menyelamatkan film. Dengan lebih membahas event event dalam kehidupan sehari-hari, dibandingkan sesuatu yang feminim, film yang cenderung female-sentris ini juga bisa dinikmati oleh para pria juga (I know, i know you guys, you don’t see this kind of chick flick, but give it a try).

Shirley Maclaine mengingatkan pada perannya di Bernie (yah I know, kebalik, nonton Bernie duluan soalnya) yang bisa dikatakan menjadi ice breaker disini dan mengeluarkan banyak banyolan tentang “ketidakbersyukurannya” terhadap hidupnya. Shirley Maclaine diimbangi oleh teman sejawatnya yaitu Olympia Dukakis yang mempunyai kepribadian berkebalikan, sebagai janda sukses bahagia, dan selalu tertawa. Dolly Parton melakukan tugasnya dengan baik sebagai pemilik salon juga Daryl Hannah yang bisa bertransformasi layaknya seorang “geek” dengan kacamatanya, kemudian menjadi seorang wanita atraktif, kemudian menjadi seorang Kristiani yang baik, mungkin diantara semua karakter, karakter Annelle inilah yang paling banyak mengalami perubahan, walaupun pengembangan karakter Annelle ini masih terlalu kasar. Pasangan Ibu dan anak, Sally Field versus Julia Roberts sepertinya juga tidak mengalami banyak kesulitan. Namun yang paling menarik adalah setiap karakter ini tidak berdiri sendiri untuk mengatasi masalahnya, namun mereka saling mempengaruhi satu sama lain. Bagaimana konflik yang dialami Shelby mempengaruhi kehidupan rumah tangga Truvy, kemudian kesehatan Shelby mempengaruhi pemikiran Ouiser, dan sebagainya. Disertai dengan celotehan khas Ibu-ibu dengan dialek Southern membuat film ini cukup berhasil menghibur penonton.

Dari jalan cerita, mungkin film ini kurang memberikan kejutan dan terkesan sangat formulaic, atau terkesan sappy (Relaaaaaaaax,it’s not Nicholas Sparks) dengan karakter-karakter yang lebih memainkan karakter “angel” daripada karakter yang lebih real, but sometimes (maybe I am on the mood), I need some movies without I have to think about it, just enjoy it. Yeah, it’s maybe the saddest “feel good” movie.

You know, when you’re tired, wanna something cliche, but you’re no problem with it. This is the movie. You’ll like it.

Trivia

Hampir semua pemainnya, pernah memenangkan atau dinominasikan dalam Oscars, Sally Field (won 2 Oscars), Shirley MacLaine (won an Oscar), Olympia Dukakis (won an Oscar), Julia Roberts (won an Oscars), Dolly Parton (nominated for 2 Oscars), maybe no for Daryl Hannah.

Quote

Ouiser Boudreaux: I do not see plays, because I can nap at home for free. And I don’t see movies ’cause they’re trash, and they got nothin’ but naked people in ’em! And I don’t read books, ’cause if they’re any good, they’re gonna make ’em into a miniseries.

Bernie (2011) : Mortician Kills, Even The Brightest Angel Has The Darkest Side

Director : Richard Linklater

Writer : Richard Linklater, Skip Hollandsworth

Cast : Jack BlackShirley MacLaineMatthew McConaughey

About (SPOILER)

Disutradarai oleh yang mengarahkan trilogi dengan rating cukup tinggi, Before Sunrise, Sunset dan Midnight, Richard Linklater, Bernie adalah sebuah film biopik semi dokumenter yang menceritakan satu kejadian kriminal yang menimpa Bernie Tiede (Jack Black). Bernie Tiede dikenal sebagai pribadi layaknya malaikat yang terkenal di seluruh kota. Pekerjaannya sebagai seorang mortician yang mengurusi funeral tidak hanya membawa kepuasan bagi pelanggannya, namun juga word of mouth atas kepribadiannya yang hangat, care, dan menyenangkan. Suatu hari, di sebuah funeral, ia bertemu dengan seorang janda kaya tapi judes, bernama Marjorie Nugent (Shirley Maclaine). Semakin hari, semakin lama, Bernie pun menjadi dekat dengan Marjorie yang terkenal sangat posesif dengan pertemanan mereka berdua, hingga suatu hari kejadian yang tidak disangka-sangka pun terjadi. A murder. Pembunuhan yang dilakukan Bernie kepada Marjorie ini menjadi headline seluruh kota. Salah seorang district attorney (Matthew McConaughey) berusaha menyeret Bernie kedalam penjara tidak peduli, apa yang sebelumnya Bernie lakukan kepada kota itu sebelum pembunuhan.

“Crazy good movie with such a sweetheart and charismatic Jack Black, anchored with real crime-real story.”

Apa yang membuat Bernie berbeda dengan komedi lain, yaitu terdapat sebuah cerita yang memang layak untuk diceritakan dan cerita ini memang tidak mudah untuk dikemas secara komedi. Sebuah pembunuhan yang tergolong dengan issue serius harus dikemas dengan menghibur dan entertaining. You’ll be surprised. Itulah kehebatan Richard Linklater yang membuat transisi dari tone komedi menjadi sebuah court yang serius, begitu smooth (walaupun jika tanpa membaca resensinya akan merasa kaget juga).

Penampilan Jack Black yang memang ahli dalam komedi kali ini lebih teruji dengan penampilannya sebagai seorang Bernie Tiede yang sebenarnya memiliki karakter kompleks, seperti baik hati (super), karismatik (ini yang susah didapat) sampai dengan sedikit gayish, namun sepertinya penampilan Jack Black agak sedikit kurang sebanding ketika masalah yang sebenarnya mulai ia hadapi, sedikit anti klimax namun tidak kentara. Sebagai seorang Marjorie Nugent ? Shirley Maclaine terbukti jago menciptakan antipati kepada penonton, dan Matthew McConaughey juga terlihat semakin matang dalam penampilan dan pengucapan aksen khasnya (yep, he’s one of underrated actor nowadays)

Apa yang lebih lagi dari Bernie ? Adalah cara bercerita lewat semi dokumenter dengan menggunakan testimoni orang-orang di sekitarnya (beberapa memang aktor), namun mereka begitu komunikatif dan meyakinkan sehingga film ini tidak terasa membosankan walau diisi dengan wawancara bergaya testimoni dari awal sampai akhir film. Selain mendapatkan gaya bercerita dan narasi yang runtut, efek film dokumenter pun terasa, film ini menjadi semakin REAL !!

Trivia

Jack Black sempat bertemu dengan Bernie Tiede secara langsung

Quote

Bernie : You cannot have grief tragically becoming a comedy.