Tom Hanks

Saving Mr. Banks (2013) : Predicament Behind “Looking Beyond Adaptation” of Collaboration Between Disney and Travers

Director : John Lee Hancock

Writer : Kelly Marcel, Sue Smith

Cast : Emma Thompson, Tom Hanks, Annie Rose Buckley, Colin Farrell, Ruth Wilson, Paul Giamatti, Bradley Whitford, B.J. Novak, Jason Schwartzman

About

Siapa yang tidak mengenal Walt Disney ? Paling tidak, kita semua tahu dialah dibalik kartun legendaris (bahkan terkenal sampai sekarang) seperti Mickey, Minny, Donald, Pluto dan kawan-kawan. Tokoh yang satu ini bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh di industri ini, tidak hanya berpengaruh, bahkan mungkin benar-benar merubahnya. Namun, apakah ada yang tahu siapakah tahu siapakah P.L Travers ? No idea ? Me too. Dia adalah tokoh besar dibalik film Mary Poppins, still no idea ? Me too, until I watched this movie.

Mr. Banks merupakan salah satu karakter yang terdapat pada novel dan juga film Mary Poppins, dan film ini, Saving Mr. Banks merupakan film yang berusaha mengungkap “behindb the scene” proses pembuatan Mary Poppins, terutama dari sisi pre-production-nya yang melibatkan masa kecil P.L Travers.

P.L Travers, lebih suka dipanggil Mrs. Travers (Emma Thompson) memiliki masalah keuangan terutama ketika ia tidak menulis lagi, hingga akhirnya tawaran untuk mengangkat bukunya ke sebuah film menuntutnya untuk menemui tokoh terkenal di Los Angeles, Walt Disney (Tom Hanks). Ketika “mungkin” hampir semua author menginginkan karyanya ke level yang lain, tidak untuk P.L Travers. Mary Poppins bukanlah buku biasa, bukanlah cerita yang biasa. This book is her family. Yang tentu saja berhubungan dengan masa kecilnya di sekitar tahun 1900-an, ketika Travers dan keluarganya pindah ke kota lain untuk memulai hidup baru. Travers kecil harus berhadapan dengan masa kecil yang tidak mudah, ayahnya Travers Goff (Collin Farrell) merupakan ayah yang komplikatif. Meng-encourage dirinya untuk berimajinasi dan bermimpi, namun di sisi lain ia sangat temperamen dan alkoholik. Belum lagi adik-adiknya yang masih kecil, dan juga ibunya (Ruth Wilson) yang labil dan depresi menuntut Travers kecil harus mempunyai mental dewasa sebelum waktunya. Masa lalu yang tidak mudah inilah yang akhirnya mempersulit kolaborasi antara Walt Disney dan juga dengan dirinya. Bagaimana para scriptwriter (Bradley Whitford), para composer (Jason Schwartzman, B.J Novak) mengintepretasikan buku Mary Poppins dan para karakternya belum sama dengan apa yang ada di bayangan P.L Travers. Tentu saja, kolaborasi ini akhirnya berhasil direalisasikan ketika Travers melihat sisi lain dari sosok Walt Disney.

“Irresistible funny with “full of charisma” performances, somehow, yeah I feel it. It’s Disney.”

Film ini membagi dua antara kehidupan Travers tahun 1960-an dan juga pada tahun 1900 di masa kecilnya. Untuk masa 1960-an tentu saja tidak ada kekhawatiran ketika pada rentang masa ini banyak aktor dengan kaliber mereka sendiri yang terlibat. Namun pada tahun 1900an bisa dikatakan beban penampilan harus ditanggung oleh Collin Farell dan juga Ruth Wilson serta aktris muda, Annie Rose Buckley sebagai Travers kecil. Tentu saja ketika melihat scene awal ada kekhawatiran akan adanya “ketimpangan” terutama ketika pembagian waktu ini bisa dikatakan dibagi dalam porsi yang sama persis. Hasilnya, ternyata kekhawatiran di awal film tidak terjadi. Setiap scene flashback dari masa lalu Travers merupakan sebuah scene-scene yang efektif yang juga memperkaya pribadi dan juga perspektif yang dimiliki Travers di masa 1960an. Membuat setiap scene flashback ini sebagai bahan material bagi aktris Emma Thompson untuk menjadi karakter yang seakan-akan penonton diajak menelusuri karakter ini lebih dalam dan lebih dalam. Untuk sebuah biopic, tentu saja unsur yang satu ini menjadi sangat penting karena itulah salah satu inti sebuah biopic, memperkenalkan perjalanan yang berharga dari tokoh yang diangkat di dalamnya.

If the performances is Oscar-worthy ?

Image

source : showbizgeek.com

Jika sebuah penampilan di film ini bisa sampai masuk pada (paling tidak) nominasi Oscars maka okay, I don’t want to complain about it. Sebuah penampilan yang langka dan bisa dikatakan tidak bisa dilakukan oleh sembarang aktor/aktris (bahkan yang berbakat sekalipun) adalah sebuah penampilan yang kharismatik. Untuk mengangkat seorang tokoh besar, P.L Travers dan image Walt Disney, mungkin tidak ada yang sebaik penampilan dari Emma Thompson dan juga Tom Hanks. Yes. Karisma. Tokoh Travers merupakan seorang karakter yang bisa digolongkan tricky. Di satu sisi, ia terus melakukan denial demi denial untuk menggagalkan proses adaptasi Mary Poppins yang membuat penonton “seharusnya” beresiko untuk menjadi jengkel, di sisi lain ia adalah hero di balik adaptasi ini. Yeah, Emma Thompson berhasil merepresentasikan Travers sebagai tokoh yang penuh dengan negativity “palsu” tanpa harus kehilangan kharismanya yang tentu saja didukung dengan make-up and costume serta aksen Inggrisnya yang begitu “lovable”. Karakter Travers ini juga harus “dealing” pada dua keadaan yang berbeda, antara line-line dialog yang komedi sekaligus childhood issue yang tergolong serius, dan lagi dan lagi ia berhasil membagi mana scene serius, mana scene dimana ia harus dealing dengan scene-scene yang “seharusnya dan sebaiknya” mengundang tawa.

Lalu bagaimana dengan Tom Hanks ? Mungkin banyak yang tidak setuju ketika Tom Hanks mempunyai potensi untuk dinominasikan dalam Oscar di kategory actor in supporting role. Namun disini, Tom Hanks, dalam memerankan seorang tokoh besar di peran pendukung sepertinya memang tidak berkeinginan untuk “mencuri” film dari Travers karena film ini memang lebih condong menjadi biopic-nya. Dan yang kita lihat adalah, lovely Hanks with his charm in full fuel of charisma. Disini, Hanks memang bertindak sesuai porsinya.

Akan menjadi sebuah ironi (mungkin) ketika sebuah film Disney yang menceritakan sebuah film yang berkaitan dengan magic, kemudian tidak mendapatkan sisi “magic”. Yeah, pengalaman sentuhan “magic” (I am not saying in Harry Potter-thingy), mungkin terakhir kali didapatkan pada duo magic di dua tahun kemarin lewat kehadiran Hugo dan The Artist, dan mungkin Saving Mr. Banks merupakan film yang mewakili untuk kategori tersebut. It’s magical. Lewat setting produksi, kostum dan juga tata rambut yang khas, screenplay yang menghadirkan dialog lucu tapi tetap elegan dan terutama lagu dan scoring untuk film ini, yeah this is magical movie.

Di sisi lain, Saving Mr. Banks memberikan sebuah film keluarga yang memang penuh dengan hal sentimen (sama dengan karya sutradara sebelumnya yang crowd pleaser lewat The Blind Side), but relaaaaax, it’s not sugar, it’s more like medicine. Film ini juga memberikan pengalaman bagi penonton bagaimana sebuah film yang diadaptasi dari buku atau novel memang sebaiknya juga menjadi proses yang personal bagi authornya. Dengan begitu mungkin, tidak ada lagi para penggemar novel / buku yang merasa “dicurangi” dari karya adaptasi filmnya (Hehehe, for this one, I am kidding).

Trivia

Meryl Streep sempat dipertimbangkan untuk memerankan P.L Travers.

Quote

Walt Disney : It’s not the children she comes to save. It’s their father.

Advertisements

Philadelphia (1993) : “Having AIDS” Lawyer Againsts “Discrimination and Homophobic” Conservative Firm

Director : Jonathan Demme

Writer : Ron Nyswaner

Cast : Tom HanksDenzel Washington, Antonio Banderas, Mary Steenburgen

About

Homophobia, kata yang mengartikan sebagai sebuah tindakan antipati bahkan membenci seseorang yang diidentifikasikan sebagai seorang lesbian, gay atau bisexual. Yah, kurang lebih itulah definisinya,  sepertinya kata “homophobia” adalah yang melanda sebuah corporate law di Philadelphia yang membuat mereka memecat seorang pengacara handal dan berbakat Andrew Beckett (Tom Hanks). Walaupun pemecatan ini tidak berdasarkan “langsung” karena dia gay, dan lebih menekankan incompetency-nya terhadap perusahaan, namun Andy Beckett yakin bahwa orientasi seksualnya, sekaligus ia penderita AIDS (dimana pada tahun 1993, penyakit ini belum menjadi penyakit yang “lebih lumrah” di masa sekarang) menjadi alasan mengapa perusahaan itu memecatnya. Hingga akhirnya Andrew Beckett pun memutuskan untuk mencari pengacara kulit hitam yang juga sedikit homophobic namun akhirnya mau membantu Andrew setelah melihat diskriminasi masyarakat terhadap penderita AIDS, yah dia adalah Joe Miller (Denzel Washington).

Kasus ini menjadi menarik karena tidak hanya menyangkut kan pengacara versus pengacara secara langsung, namun juga menjadi kasus penting karena berkaitan dengan sistem yang berada di masyarakat menyangkut gaya hidup homoseksual sekaligus penderita AIDS, lebih jauhnya.

Oh yeah, this is not true story, tetapi ada inspirasi kisah nyata dibaliknya. (Find by yourself in Wikipedia).

Pertarungan di meja hijau memang menjadi salah satu tontonan yang menarik. Bisa dikemas secara komedi seperti Liar Liar even Legally Blonde atau juga bisa dikemas secara serius dengan mengambil sudut pandang anak kecil seperti film klasik Gregory Peck, To Kill Mockingbird.

Menjadi film mainstream yang membahas tentang AIDS, gay, tentu saja film ini menjadi film yang menarik di zamannya. Award yang mengantarkan film ini pada Oscar pertama Tom Hanks, sekligus bakat dari lawan mainnya Denzel Washington, menjadi salah satu sisi yang membuat film ini masih menarik untuk ditonton sampai sekarang.

“The most heartbreaking quote of this discrimination versus “having AIDS” lawyer is “Every problem has solutions”.

Yeah it’s like a showcase untuk para pemainnya, terutama Tom Hanks. Menjadi seorang pengacara berbakat kemudian ia harus melawan perusahaan dimana ia seharusnya bekerja, Tom Hanks pada awal film tidak kehilangan sisi “Tom Hanks”-nya seperti pada film-film yang ia perankan, kemudian ia mengidap AIDS dan ia harus melakukan beberapa treatment yang membuatnya harus bertransformasi dari Tom Hanks biasa, Tom Hanks dengan rambut abu-abu, sampai Tom Hanks dengan rambut gundul, belum lagi ditambah dengan berat badan yang sengaja diturunkan yang membuatnya hampir tidak terlihat seperti Tom Hanks lagi. Namun di luar transformasi yang luar biasa itu, Tom Hanks mampu menyajikan level emosi yang meyakinkan dari seorang penderita AIDS sekaligus level tenang dari seorang pengacara. Tipikal akting Tom Hanks yang tidak menggebu sepanjang film, namun ketika mendapatkan scene potensial, he nail it. Bagaimana Andrew Beckett harus dealing dengan interpretasi kematian diiringi dengan musik opera kemudian dilengkapi dengan lighting yang mendramatisir, that is actually a good combo.

Akting Tom Hanks diimbangi dengan akting Denzel Washington yang juga mempunyai peran sulit, sebagai seorang pengacara kulit hitam homophobic yang sekarang harus membela seorang kaum gay yang menderita AIDS. Berbicara tentang Denzel Washington, terdapat satu sisi pada aktingnya di film yang satu ini. Tidak ingin berkutat dengan meja hijau yang serba serius sekaligus tone film yang memang dibuat serius, Washington memberi sentuhan komedi pada akting dan karakternya yang membuat hal ini berimbang dengan karakter Tom Hanks yang memang sudah depresif dari awal. Dari kategori akting, ditambah dengan penampilan Mary Steenburgen sebagai Belinda Conine, pengacara yang membela perusahaan, pengacara yang juga mampu mengimbangi dua temannya, sebagai seorang pengacara yang cukup intimidatif.

Membela kaum gay plus ditambah dengan mengidap AIDS dizamannya (I mean when it’s 1993) sepertinya tidak mudah, dari sinilah timbul beberapa reaksi karakter yang tidak cliche seperti “Okey, I will defense you no matter what who you are, you need justice.”, bagaimana reaksi dari karakter Joe Miller terhadap Andrew Beckett di awal cerita menjadi salah satu sisi yang menarik, kemudian menggabungkan dengan rasa simpatinya terhadap Andrew yang mengalami diskriminasi terhadap penyakitnya, yang kurang lebih karakter Miller ini juga sedikit banyak mendapatkan diskriminasi karena warna kulitnya juga menjadi sisi yang menarik.

Philadelphia memang bermain aman, salah satu kelemahan film ini terdapat pada bagian scene dimana jury memberikan verdict yang dirasa terlalu sentimental, dan juga terlalu predictable dan kurang pandai setelah adu argument dari Miller serta Belinda dan juga para saksi yang menjadi bagian utama dari cerita. Ketika jury memberikan verdict terhadap kasus ini, I got a little bit lost. Untuk sebuah film tentang “courtroom”, bagaimana akhirnya jury memutuskan sesuatu di ruang sidang sepertinya menjadi salah satu bagian penting untuk penonton (or maybe I lost it, so I think I am gonna rewatch it). Namun, hal lain dalam film ini, film ini tidak berkutat pada menang kalah kasus Andrew Beckett, namun juga bagaimana penonton dibuat merasakan apa yang dirasakan oleh AndreW Beckett yang lebih mempunyai gaya hidup yang kompleks yang membuatnya harus berhadapan dengan konsekuensi, mempunyai reputasi kemudian dipermalukan didepan umum, di depan keluarganya dan juga perspektif (karena penyakit dan gaya hidupnya), kasus ini tidak memandangnya sebagai seorang korban. That is another perspective of this movie.

Di awal dan di akhir film, film ini dilantunkan lagu dari Bruce Springteen yang juga memenangkan Oscar yang juga turut mendukung suasana film, serta di akhir film disertakan footage masa kecil Tom Hanks, that is another thoughtful scene of this movie about life, if you wanna think, absolutely.

A little bit of trivia as closing, Daniel Day Lewis sempat dipertimbangkan untuk memerankan tokoh Andy Beckett.

Captain Phillips (2013) : Dangerous Days at Sea of Hijacking by Somali Pirates and Look Closer on Both Sides

Director : Paul Greengrass

Writer : Billy Ray, Richard Phillips

Cast : Tom HanksBarkhad Abdi, Catherine Keener

About

We have seen Hanks on an island. We have seen Hanks in space. How about terminal ? We have seen it. Jika di tahun lalu, kita melihat Denzel Washington menyelamatkan sebuah pesawat terbang, salah satu film (yang agak mirip) di tahun 2013 yang menjadi contender Oscars juga berhubungan dengan alat transportasi. Yep ! Kapal laut yang dipimpin oleh Captain Phillips.

Captain Richard Phillips sendiri merupakan sosok real yang hidupnya seketika berubah dengan moment krusial saat kapal kargonya dibajak oleh para pirates Somalian pada bulan April 2009. Aksinya sangat mengundang decak kagum, walaupun juga menimbulkan beberapa kontroversi di dalamnya. Empat tahun setelah kejadian tersebut, biopic Captain Phillips pun difilmkan dan tidak tanggung-tanggung, Paul Greengrass (sebelumnya menangangi film seperti Bourne, dan lain-lain) yang memang terkenal sangat jago dalam mengurusi film-film berbau real-life.

Captain Richard Phillips (Tom Hanks) adalah seorang kapten yang sedang mengajari para crew-nya untuk lebih bisa disiplin dengan sisi security untuk menanggapi perairan yang memang belakangan tidak aman. Di hari ia berlayar pada sebuah kapal kargo, ia mendapatkan banyak firasat buruk tentang pembajakan yang sering dilakukan oleh para “nelayan’ Somalian. Benar saja, dua buah kapal mendekati kapalnya dengan kecepatan yang tidak biasa, namun pada saat itu masih dapat ia atasi. Di hari berikutnya, sebuah kapal yang sama dipimpin oleh leader nekat (Barkhad Abdi) kembali mendekati kapalnya, yep tentu saja, mereka berhasil.

Film ini menjadi contenders Oscars terutama untuk sutradara dan juga kualitas acting Tom Hanks (yep, he got two shots this year, maybe his role as Walt Disney will make it too.)

Building up the tension pretty well, shaky camera makes it real, and kind of ironic when tragedy happens in a LIFEboat.

Hanks is convincing and his last punch to the ending, uhm, yeah that’s top notch performance.

Treating Somalian pirates as real characters instead of bad guys “bad guys” makes us care with both side, not only Hanks’.

Film diawali dengan persiapan Captain Phillips dan juga background family darinya, dengan Andrea (Chaterine Keener), yang bisa dikatakan “totally wasted” dan lebih terlihat seperti penampilan cameo (namun mendapatkan credit). Not a really good opening scene.

Penggunaan handheld camera memang sangat terlihat dari pengambilan gambar yang terlihat shaky. Pengambilan gambar seperti ini memang terlihat sangat mengganggu untuk beberapa orang, dan iya, memang sedikit agak menjadi distraksi pada scene-scene awal terutama ketika intensitas adrenalin pada film belum terpompa. Namun seiring berjalannya durasi, dengan intensitas tension yang dibangun perlahan namun pasti, shaky camera ini lebih menggambarkan keadaan real dari peristiwa pembajakan kapal. Jika anda berpikir the main show berada di dalam kapal kargo (seperti yang ditunjukkan pada trailer), hmmm, main show justru terjadi pada saat scene di life-boat yang lebih menunjukkan interaksi intens antara Captain Phillips dan juga para perompak.

Sisi yang menarik dari film ini adalah film ini berhasil menggambarkan dua buah keadaan baik dari sisi Tom Hanks selaku protagonist dan juga dari sisi para perompak yang terdiri dari 4 Somalia bersenjata sebagai antagonistnya. Hanks tentu saja meyakinkan seperti biasa, dengan ketenangan, tanggung jawab dan keterampilannya sebagai kapten ia benar-benar tampil meyakinkan. Penampilannya ini benar-benar ia tampilkan secara berkala sehingga dinamikanya terasa, sebelum ending ia melakukan “last punch” yang benar-benar membuktikan kualitas akting dan dijamin akan menyentuh hati siapapun yang melihatnya.

Aktor antagonist diperlakukan sebagai real character yang mempunyai motive, background hidup yang membuatnya bertambah real, dan penonton juga dibuat peduli dengan karakter antagonist ini. Mereka tidak hanya berperilaku sebagai bad guys yang berkewajiban melakukan perbuatan jahat dalam sebuah film, namun mengapa mereka melakukan perbuatan jahat juga lebih dieksplor. Terkesan elemen terpaksa, putus asa dan juga men-sugesti positif untuk keadaan terdesak yang sedang mereka alami. Aktor antagonist ini benar-benar dapat ditunjukkan oleh leader mereka Barkhad Abdi, menciptakan sebuah karakter yang kompleks di tengah keterbatasannya dalam “menjelaskan karakternya” ke penonton. Disinilah, sebenarnya antagonist sebaiknya dibangun, penonton juga diberikan kesempatan untuk menggali lagi sisi antagonist sebuah film, mengapa mereka melakukan tindakan dan tidak hanya sekedar bang-bang-bang atau tokoh antagonist yang menyeramkan atau eksploitatif namun memiliki karakter kosong.

Proses negosiasi di dalam kargo terbukti lebih efektif dibandingkan dengan moment yang berada di lifeboat. Ketika di dalam kargo, setiap perkataan yang dilontarkan lewat HT merupakan kalimat-kalimat implisit yang menentukan strategi perlawanan terhadap para perompak ini, membuat film ini menjadi film yang tactical dan terlihat pintar. Sementara ketika di dalam lifeboat, terdapat beberapa moment stuck yang membuat regu penyelamat tidak ubahnya seperti penonton dan idiot, dan harus membiarkan Tom Hanks untuk melakukan aksinya sendiri. Namun hal ini dibayar mahal oleh film yang benar-benar memompa adrenalin (I can’t breath) di 20 menit terakhirnya. Dua puluh menit terakhir adalah scene perjuangan yang menggambarkan tidak hanya kemenangan, namun juga sebuah ironi terhadap sebuah realita.  Film ini juga lebih berkonsentrasi pada kronologis peristiwa pembajakan sehingga unsur “family” dari Captain Phillips memang kurang tereksplorasi walaupun tersentuh juga pada bagian akhirnya, namun itu bukanlah hal buruk, film ini memang benar-benar fokus kejadian sehingga tidak terlalu banyak distraksi.

Saking intens-nya, film ini membuat kita lupa bahwa sebenarnya film ini merupakan film biopic yang menceritakan tidak hanya Tom Hanks sebagai tokoh heroic Captain Phillips namun juga cerita dari sisi para perompaknya. Film ini selayaknya menjadi film dokumenter namun lebih menghibur dengan para aktor dan sutradara mumpuni di dalamnya.

Trivia

Disyuting di laut Mediterania.

Quote

Officer : Chances are they’re just fishermen.

Captain Phillips : They’re not here to fish.

Cloud Atlas (2012) : An Exploration How Past, Present, and Future Impacts Each Other

Director : Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski

Writer : David Mitchell, Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski

Cast : Tom Hanks, Halle Berry, Jim Sturgess, Doona Bae, Jim Broadbent, Ben Whishaw, Hugo Weaving, James D’Arcy, Hugh Grant, and Susan Sarandon

About

Berbicara tentang film indie dengan budget bejibun tahun lalu, pasti mau tidak mau kitak akan mengingat projek ambisius Cloud Atlas. Film yang sempat menjadi film paling diantisipasi di tahun 2012 ini kurang mendapat rekognisi, bahkan untuk Oscars tak mendapatkan satu pun nominasi.

Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama ini bercerita tentang enam sisi kehidupan di masa lalu, masa sekarang dan masa depan yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Cerita 1 bercerita tentang Adam Ewing (Jim Sturgess) yang berlayar untuk kembali menemui istrinya. Di tengah pelayaran, ia menolong seorang budak kulit hitam yang melarikan diri dan akhirnya berhasil menjadikan budak tersebut sebagai awak kapal. Tanpa ia sadari, di dalam kapal tersebut ada seseorang yang berusaha meracuninya secara diam-diam dan sangat perlahan.

Cerita 2 bercerita tentang Robert Frobisher (Ben Whishaw), seorang musisi biseksual yang terjebak dengan seorang komposer yang ingin mengakuisisi karya masterpiecenya,  The Cloud Atlas Sextet.

Cerita 3 bercerita tentang seorang jurnalis, Luisa Rey (Halle Berry) yang menempatkan dirinya dalam mengungkap konspirasi tingkat tinggi yang menyangkut perusahaan minyak dan ancaman bahaya ledakan nuklir.

Cerita 4 bercerita tentang Timothy Cavendish (Jim Broadbent) yang terjebak dalam sebuah panti jompo karena ulah kakaknya sendiri.

Cerita 5 bercerita tentang Sonmi 451 (Donna Bae), seorang wanita hasil kloningan yang ditugaskan sebagai pelayan restoran di Neo Seoul. Suatu hari, seseorang menyelamatkannya dalam bahaya besar karena ia percaya bahwa Sonmi 451 adalah calon revolusioner yang akan merubah masa depan.

Cerita 6 bercerita Zachry (Tom Hanks) yang mengantarkan seseorang ke tebing Cloud Atlas, sebuah alat komunikasi untuk mengirimkan pesan untuk koloni Bumi di masa depan.

Semua cerita tersebut saling terkait dan terhubung dan semua aktor harus terlibat di dalamnya dengan peran dan karakteristik yang berbeda.

“Cloud Atlas, a quotes machine movie with an awesome scoring. It’s not always easy to follow every separated segment in the early, and do not think hardly to make every connection of every segment. Enjoy the movie, and it’s gonna be (more) enjoyable in the end.”

Pada awal film, memang tidak mudah untuk menyatukan semua segmen yang ada. Penonton dicekoki dengan segmen yang terpisah-pisah dengan banyaknya karakter yang diperankan oleh aktor yang sama. Belum lagi, bahasa Inggris yang digunakan bukanlah bahasa lazim yang biasa di dengar dengan banyak memperkenalkan banyak istilah aneh yang sulit dicerna.

Cerita yang mencoba menceritakan bagaimana masa lalu, masa sekarang dan masa depan ini membentuk pikiran penonton untuk mencoba mengkaitkan satu cerita ke cerita yang lain, dan itu memang tidak mudah. Bersabarlah untuk melihat film dengan durasi 3 jam ini. Storyline akan semakin fokus mendekati tengah film dan mulai akan seru. Jika melihat secara terpisah, memang benar, segmen untuk cerita Neo Seoul seakan-akan menjadi cerita yang paling dinamik dan tidak membosankan, disamping dari segi visualnya yang memang paling menonjol.

Aktor dan aktris didalamnya juga terlihat sangat mumpuni (though in shallow dosage) untuk mempergakan beberapa karakter sekaligus. Walaupun terkadang akting mereka termakan dengan semua kostum dan juga make-up yang sangat impressive sampai membuat penonton terkadang tidak mengenali aktor-aktris yang memerankannya.

Film besar ini langsung berpredikat epic ketika digabungkan dengan scoring yang sungguh menawan dan terkesan heroic. Ditambah, dengan struktur penceritaan yang rapi, sinematografi yang lumayan, visual effect, make up dan costume yang mendukung film ini menjadi suatu karya yang kompleks dan rumit. What a neat collaboration of multiple directors.

Di akhir film, hampir semua pertanyaan penonton terjawab, di bagian manakah suatu cerita terhubung, walaupun juga masih ada beberapa pertanyaan yang masih perlu usaha untuk mengkait-kaitkannya. Jika penonton cermat, juga akan banyak didapatkan detail-detail semacam trivia tentang bagaimana suatu jiwa (beberapa karakter yang dimainkan oleh aktor/aktris yang sama) menjalani kehidupan di setiap kehidupannya yang berbeda. Sebagai contoh, salah satu contohnya, bagaimana akhir kehidupan dari karakter Robert Froshiber dan kekasihnya, Sixsmith ternyata mempunyai persamaan. Atau, bagaimana hutang nyawa di kehidupan sebelumnya akhirnya terbalas di kehidupan selanjutnya. Detail-detail cerita yang penting ini akan membuat perjalanan menikmati film ini semakin fun jika penonton mampu menangkap clue atau hint yang tersebar.

Trivia

Natalie Portman sempat akan memainkan peran Sonmi 451 walaupun akhirnya harus mundur dari projek ini karena hamil.

Quote

Sonmi 451 : Truth is singular. Its versions are mistruths