Tom Wilkinson

Belle (2014) : Gracefully Painted Picture of Barbaric World Full of Mannerism

Director : Amma Asante

Writer : Misan Sagay

Cast : Gugu Mbatha-Raw, Matthew Goode, Emily WatsonPenelope WiltonSarah GadonJames NortonTom FeltonSam ReidTom Wilkinson

Belle is the new belle-ack (okay, I’m forcing it)

(REVIEW) Period movie memang selalu memiliki keeleganannya sendiri, lewat razzle dazzle kostume yang mengembang seperti sangkar burung sampai kisah cinta yang kental dengan dignity. Sebut saja Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, atau Elinor Dashwood dan Edward Ferrars, atau Jane Eyre dan Rochester, semuannya sempat dieksekusi dengan memukau, tanpa “kevulgaran” chemistry, dan beberapa diantaranya membuka perspektif baru dari kisah cinta yang tergolong “basic”. Nah, Belle adalah period movie yang cenderung berani, karena mendobrak banyak manner dari istilah basic ini.

belle

Terlahir dari seorang budak kulit hitam, Dido Elizabeth Belle kecil hanya memberikan ekspresi datar ketika ayahnya (Matthew Goodeas you know he’s white) menjemputnya selepas ibunya meninggal. Tak ada kesan bahagia, tak ada reaksi untuk resist, Belle menerima keadaan ketika ayahnya pergi dan menitipkannya pada paman bibinya (Tom Wilkinson, Emily Watson, dan Penelope Wiltonthey are also white). Ia dibesarkan, diberi pendidikan, menjadi manusia berkulit hitam yang paling “beruntung” di jamannya. Beranjak dewasa menjadi seorang gadis cantik (Gugu Mbata-Rawanother Lupita Nyong’o-ish catchy name), posisi Belle semakin diperumit dengan posisi pamannya sebagai Lord Chief Justice yang sedang menangani kasus Zong – sebuah fraud yang menentukan nasib penduduk kulit hitam ke depannya.Plus, ia juga harus terlibat dalam husband hunting yang akan menentukan posisi sosialnya, dan itu sepertinya tak mudah, mengingat ia hanya gadis berkulit hitam.

(more…)

Advertisements

Duplicity (2009) : Corporate Spies Couple and Their Trust Issue

Director : Tony Gilroy

Writer : Tony Gilroy

Cast : Julia Roberts,  Clive Owen,  Tom Wilkinson, Paul Giamatti

About

Mata-mata. Keduannya adalah pasangan yang serasi. Terkadang mereka akan berseteru. Mereka bekerja untuk dua pihak yang berlawanan. Yah pasti yang ada di pikiran pertama mungkin Mr. & Mrs. Smith dari pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt yang sangat ngehits di saat itu. Namun, masih ada lagi film dengan cerita yang hampir sama namun dimainkan oleh Julia Roberts dan Clive Owen.

Pasangan yang bermain apik dalam Closer ini, kembali di pasangan dalam drama mata-mata Duplicity. Duplicity bercerita tentang dua agen rahasia yakni Claire (Julia Roberts) dan Ray (Clive Owen) yang bekerja sama dengan cara bekerja di dua perusahaan yang saling bersaing. Ketika Howard Tully (Tom Wilkinson) diam-diam mengembangkan sebuah produk, rivalnya Richard Garsik (Paul Giamatti) mengutus Ray untuk menyelidikinya. Tentu saja, dengan bantuan Claire yang ternyata dengan sembunyi-sembunyi melakukan report terhadap Ray. Masalah menjadi complicated ketika ternyata mereka berdua adalah pasangan yang sebenarnya saling mencintai, hanya saja mempunyai trouble dengan trust issue yang datang dari historis hubungan mereka berdua. Dapatkah mereka memperoleh formula rahasia yang sedang dikembangkan oleh Howard Tully ?

Film ini disutradari yang juga sebagai penulis, Tony Gilroy, orang yang dikenal dengan trilogy Bourne yang hampir ketiganya mendapatkan respon yang sangat impressive, baik segi finansial maupun dari segi kritik.

“Hmm, it’s just under of my expectation.”

Melihat premis awalnya, ekspektasi awal adalah sebuah film dengan banyak intrik, banyak adegan lucu, juga dengan banyak action seperti halnya Mr & Mrs. Smith. Bayangan pertama adalah Julia Roberts beraksi dengan sangat apik seperti halnya Angelina Jolie, hmm, who’s not gonna be attracted ? Namun sepertinya, ada yang terlupa dari film ini, film ini bukanlah film action, film ini adalah film crime dengan balutan romantic dengan sedikit sentuhan thriller.

Dari awal film, kita disuguhi dengan opening credit yang merupakan salah satu opening credit yang paling membosankan yang pernah dilihat dengan memperlihatkan karakter Tom Wilkinson dan Paul Giamatti yang berkelahi namun dengan gerakan slow motion. Dan benar saja, hal tersebut harusnya menjadi sebuah pertanda bahwa film ini terlalu berfokus pada hubungan antara dua karakter tersebut. Ketika dua karakter supporting ini terus-terusan bertengkar, dua leading roles-nya mengalami underdeveloped yang membuat film ini sedikit kehilangan magnet untuk ditonton.

Dan jika kamu adalah fans Julia Roberts, mungkin kamu dapat bertoleransi, namun jika bukan, Julia Roberts tampil dengan sangat membosankan dan seperti kehilangan sinarnya sebagai bintang. Luckily, I am a Julia Roberts fan. Begitu pula, dengan penampilan Clive Owen yang kurang greget. Mungkin script yang seperti menuliskan bahwa didalam film ini mereka mempunyai sebuah trust issue, membuat mereka seperti kehilangan chemistry dan selalu gagal ketika mereka berusaha membangunnya.

Plotnya pun dibuat dengan sedikit-sedikit flashback dan seperti meninggalkan puzzle-puzzle untuk penonton rangkai sebenarnya ada hubungan apa sih antara karakter Julia Roberts dan Clive Owen ini. Keseluruhan film juga dipenuhi dengan twist-twist kecil namun benar-benar tidak berarti, hanya tik-tok chit chat antara leading role yang dibolak-balik namun tidak meninggalkan kesan witty di dalamnya.

Adegan ketika Julia Roberts mencari sebuah mesin fotokopi merupakan adegan thrilling yang ada di sepanjang film, namun dengan twist (lagi) di akhir film yang tidak bersifat “winning audience’s heart” sepertinya payoff untuk menonton film ini kurang lebih selama 2 jam menjadi semakin kecil, dan cenderung mengecewakan.

Trivia

Di opening weekendnya, film ini harus melawan Knowing dan I Love You Man, dan hanya mampu berada di posisi ketiga dibawah keduannya.

Quote

Claire :  If I told you I loved you, would it make any difference?

Ray : If you told me or if I believed you?

Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) : Odd Brain Procedure for Every Hearthache

Director : Michel Gondry

Writer : Charlie Kaufman, Pierre Bismuth,  Michel Gondry

Cast :  Jim CarreyKate WinsletTom Wilkinson, Elijah Wood, Mark Ruffalo, Kirsten Dunst

About

Romantic science fiction, film ini tidak muluk-muluk menghadirkan hal-hal yang terlewat aneh, hanya menghadirkan cerita tentang sebuah prosedur penghapusan ingatan. Clementine (Kate Winslet) adalah perempuan atraktif, pandai walaupun sering merasa insecure dan bosan terhadap suatu keadaan. Joel Barish (Jim Carrey) adalah laki-laki yang sulit bergaul dengan lingkungan. Keduannya menjalin sebuah hubungan, dinamika hubungan pun telah mereka lalui, termasuk memutuskannya. Suatu hari, Joel menemukan semacam kartu yang menyatakan bahwa dia tidak boleh menghubungi atau menemui Clementine karena Clementine telah menghapus semua ingatan tentangnya. Dengan kebingungan, disertai kemarahan, Joel menghubungi perusahaan yang sama untuk menghapuskan ingatan tentang Clementine di otaknya, namun sepertinya suatu hubungan tidak hanya berada di otak, namun (mungkin) juga di hati. You may erase someone from your mind . Getting them out of your heart is another story.

Film ini meraih Academy Awards for Best Original Screenplay untuk Charlie Kaufman, dan nominasi Oscars lainnya untuk penampilan eksentrik Kate Winslet. Dengan ceritanya yang berbeda dan original, film ini banyak masuk dalam daftar list sebagai film terbaik sepanjang masa.

Based on almost everyone’s general experience, this movie gives us ingenious geniunity, which makes it as one of my favorite movies all the time.

Inilah salah satu kelebihan dari film ini, film ini dapat mentransformasikan hal-hal yang bersifat umum dan sering dialami oleh siapa saja menjadi sesuatu yang spesial dan menyentuh. Pernahkah saat kita sedang patah hati kemudian ingin melupakan atau menghapus kenangan akan seseorang ? Siapa yang belum pernah mengalaminya ? Dengan based on real feeling inilah, film ini akan mempunyai efek jangka panjang bagi siapa saja yang baru menontonnya. Film ini seperti benar-benar diciptakan untuk mengerti.

Penampilan Winslet disini adalah salah satu penampilannya yang terbaik, impulsive, attractive, emosional, insecure dan foul-mouthed. Dengan warna rambutnya yang senantiasa berubah-ubah, penampilan Winslet mampu bersinergi dengan keatraktifan konyol dari Jim Carey. They are one of the best couples on screen, yeah, it’s true. Dengan kekuatan akting mereka berdua, mereka mampu menyuguhkan suatu dinamika hubungan dengan pengembangan karakter yang dapat dilihat secara signifikan.

Jika menyukai karya-karya Charlie Kaufman, pastinya akan mendapatkan suatu twist kejutan. Film ini tidak hanya melulu tentang Clementine dan Joel. Namun, karakter-karakter pembantu seperti Harold (Tom Wilkinson), Mary (Kristen Dunst), Stan (Mark Ruffalo) dan Patrick (Elijah Woods) yang di awal film sepertinya tidak akan memberikan sumbangsih berarti di cerita malah langsung memberikan kejutan substory yang kemudian berkaitan erat dengan dua karakter utama. All characters are getting involved.

Visual dan editing juga menjadi daya tarik film ini. Teknik kamera, bahkan pencahayaan, yang tidak biasa membuat visualisasi dari sebuah memori ini menjadi sangat menarik untuk dilihat. Editing yang rapi, walaupun plot-nya sering meloncat-loncat, juga detail-detail yang sangat mengejutkan membuat film ini terasa nyata walaupun mengambil set produksi yang strange dan tidak biasa.

Trivia

Rambut Clementine yang berubah-ubah warnanya membantu penonton untuk mengikuti kronologis dan dinamika hubungan Clementine-Joel.

Quote

Mary : How happy is the blameless vestal’s lot ! The world forgetting, by the world forgot. Eternal sunshine of the spotless mind ! Each pray’r accepted, and each wish resign’d.

The Best Exotic Marigold Hotel (2012) : Many Characters, Ensemble Cast and Its Each Problem

Sutradara : John Madden

Penulis : Ol Parker (screenplay), Deborah Moggach (novel)

Pemain : Judi DenchBill Nighy, Tom Wilkinson and Maggie Smith

 “Not the best one, forgettable enough but entertain enough.”

 About

The Best Exotic Marigold Hotel adalah film komedi dengan ensemble cast dan sebagian besar diperankan oleh actor aktris Inggris. Film ini diadaptasi dari buku These Foolish Things dari penulis Inggris pula, Deborah Moggach. Dibintangi oleh pemenang Oscars seperti Judi Dench dan Maggie Smith serta nominasi Oscar Tom Wilkinson ditambah artis kawakan lainnya seperti Bill Nighy, Ronald Pickup dan Penelope Wilton menjadikan film ini sebagai salah satu film yang wajib ditonton.

Dengan arahan sutradara John Madden, yang sebelumnya menyutradarai film thriller The Debt, film ini berkisah tentang sekumpulan pensiunan dari Inggris yang memutuskan untuk menjalani hidup di semrawutnya kota Jaipur, India. Ketujuh dari pensiunan ini memiliki problem yang sama, bahwa di usia yang telah senja, mereka merasa akhir dari hidup mereka kurang baik. Dengan karakter, kegiatan menghabiskan waktu di Jaipur dan masalah mereka masing-masing, mereka semua berusaha mencari akhir yang baik di usia mereka yang telah tidak muda lagi.

Just So-So Movie

Sebagian besar film dengan ensemble cast dan menyajikan ensemble problems dari masing-masing karakter akan bermasalah dengan kurang dalamnya eksplorasi dari masing-masing karakter. Syukurlah, bahwa masalah dari tiap karakter yang dihadirkan dalam film ini sifatnya tidak berlebihan dan diakhiri dengan solusi yang tidak berlebihan pula, sehingga menciptakan setiap cerita yang pas dan tidak nanggung seperti pada kebanyakan film serupa.

Film ini tidak membosankan, walaupun keseluruhan cerita tidak ‘wow’ dan aktor-aktor luar biasa ini terkadang seperti ‘jalan ditempat’ dengan screenplay yang dihadirkan. Intinya bahwa film ini cukup menghibur namun cukup mudah dilupakan pula.

Trivia

Judy Dench dan Maggie Smith adalah keduannya berusia 78 tahun, keduannya merupakan aktris tertua di film ini dan keduannya sama-sama pernah meraih Oscar.

Quote

Sonny   : Everything will be all right in the end. So if it is not all right, then it is not yet the end.