Woody Allen

Magic in the Moonlight (2014) : Temporarily Alluring Doodles, Full of Sugarcoated Woody Allen

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Cast : Colin Firth, Emma Stone, Marcia Gay HardenHamish Linklater

A movie comes from a cloudy Woody Allen with mental vibration….

(REVIEW – mild spoiler ) Woody Allen – sutradara, penulis, aktor – paling produktif mengirimkan kartu pos untuk fansnya dari berbagai negara, paling dicintai, paling dihujat, paling dihormati, paling kontroversial, paling romantis, itulah beberapa reputasi yang dimilikinya. Salah satu reputasi lainnya yaitu tidak diperlukan seorang clairvoyant untuk menebak bagaimanakah karya Allen selanjutnya : good or so-so. Seakan-akan membentuk pattern, Magic in the Moonlight adalah reaksi dari Blue Jasmine tahun lalu yang merupakan karya hits Allen : terlupakan, dangkal, seperti bukan karya seorang  Woody Allen.

Bukan berarti Magic in The Moonlight adalah sebuah film buruk. Yeah, dengan standar bar Woody Allen mungkin Magic in The Moonlight berada pada cluster  bawah, terlepas dari penampilan super charming starlet Emma Stone, penampilan super menyebalkan Colin Firth (but one of his best works after The King Speech career), sorotan keindahan yang dikelola Darius Khondji, setting eksotis Perancis, jajaran pemain pendukung potensial yang bisa saja menjadi Sally Hawkins selanjutnya, sampai costume dan set produksi di era jazz yang seharusnya menjadi kekuatan khas film-film Woody Allen.

(more…)

Blue Jasmine (2013) : Socialite’s Border Between Sanity and Craziness, High Level of Hitting Bottom

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Here they are, the cast,

Uhm, classic……

Image

About

Woody Allen, yeah, no need introduction anymore. Blue Jasmine bercerita tentang kehidupan seorang sosialita New York yang harus menjalani hidup seratus delapan puluh derajat, yeah dia adalah Jasmine (Cate Blanchett). Dia sama sekali tidak memperhitungkan bahwa masa depannya akan menjadi “almost homeless”, “no job”, “almost no future”, terutama ketika ia drop out dari kuliah dan menikahi pebisnis licik Hal (Alex Baldwin). Tidak hanya licin menipu untuk merampok uang orang-orang termasuk uang Ginger (Sally Hawkins) dan suaminya, Hal juga diam-diam berselingkuh di belakang istrinya, walaupun Jasmine sebenarnya mulai mencium bau perselingkuhan namun memilih untuk menutup mata. Kini, Jasmin tinggal bersama adiknya, Ginger, di San Fransisco, dan telah bercerai dengan suaminya. Sebuah hunian yang kecil dan berbeda dengan rumahnya, Jasmine kini harus mengatur kembali hidupnya, terutama ketika ia melihat sebuah kesempatan untuk mendekati ambassador kaya, Dwight (Peter Saarsgad), hal yang sama juga dilakukan oleh Ginger ketika ia melihat laki-laki lain yang lebih berprospek ketimbang pacarnya yang urakan Chili (Bobby Cannavale).

Mengapa film ini harus ditonton ? Pertama Cate Blanchett sebagai fronrunner Oscar. Kedua, Woody Allen. Ketiga, pemanasan untuk menyambut Magic in Moonlight tahun ini :P.

“What’s so special of Woody Allen is how he twists story and character in a very interesting way.”

Seperti yang pernah dibahas di review film Woody Allen sebelumnya, yang paling menarik dari film Woody Allen adalah dia selalu memberikan “interpretasi” baru dalam sesuatu hal yang mungkin tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Interpretasi baru ini tentu saja hasil dari “aksi-reaksi” para karakternya yang terkadang membuat kita berpikir, “Oh yeah, that is possible, another unpredictable move”. Hal inilah yang membuat film Woody Allen (I talk about my histiry in watching Woody Allen’s movie, luckily every single of it is good, so far, I gotta say I am impressed “the threesome concept” in Vicky Christina Barcelona) tetap terasa fresh, walau lagi-lagi Allen pasti akan membahas yang bersinggungan tentang romance lagi, romance lagi. Sisi inilah yang sedikit kurang di film Blue Jasmine ini. Blue Jasmine seakan-akan memberikan “interpretasi baru” ini dengan “final smooth move”, tidak terlalu ekstrem dari film Woody Allen sebelumnya. Tetapi itu sama sekali bukan kekurangan, this movie is still pretty good.

Mengajak penonton untuk jalan-jalan di kota San Fransisco, dan juga dunia pernak-pernik gemerlap sosialita kaya, Woody Allen juga mengeksplor karakter habis-habisan (Lagi, sejarah menonton Woody Allen, Blue Jasmine adalah salah satu film Woody Allen yang “paling” sedikit karakter). Yeah, Cate Blanchett sebagai Jasmine menjadi bulan-bulanan. Beruntungnya, Jasmine diperankan oleh salah satu aktris yang paling berbakat, yang hampir selalu memberikan sharp performance. Jasmine is complex. She’s crazy, basically (Oh no, dia seakan-akan berada pada garis batas antara gila dan juga waras). Masih terus dirongrong oleh kemewahan masa lalu, Blanchett terus-menerus harus mengeluarkan dialog-dialog blabbering dengan ekspresinya yang super depresi, membuatnya menjadi very dark anti hero di film ini. Penampilan yang teramat kuat dimana bisa dikatakan setiap scene Blancett selalu mencuri, dan mencuri lagi perhatian penonton (Hmmm, tidak kaget jika ia menjadi frontrunner yang akan susah untuk dikalahkan oleh nominee lain).Dengan pacing yang pas, setiap adegan terasa intens (sedikit banyak karena tone bicara Blanchett yang juga intens) namun tanpa kehilangan sisi komedi yang sangat khas. Blanchett memberikan penampilan total dan sharp namun tidak kehilangan sisi meyakinkan dari genuine emotionnya sebagai orang biasa. Yeah, second Oscars to go !

Karakter Jasmine serasa terus menerus “diangin surga” oleh karakter Hal yang begitu “rapi mengayomi” dan manipulatif, terus menge-drag Jasmine ke masa lalunya. Tampil sebagai karakter yang berkebalikan, Ginger diperankan secara “nerimo” oleh Sally Hawkins. Ginger merupakan gen yang benar-benar berbeda dari Jasmine (yeah,tentu saja karena keduannya sebenarnya diadopsi). Ginger lebih “fake positive thinking”, move on dan juga selalu meletakkan bar standarnya terlalu rendah, yeah Ginger seakan-akan bermasalah dengan self-esteemnya terutama ketika ia berhadapan dengan Jasmine yang superior. Juga tampil apik adalah Chili, karakter yang selalu kontra dengan Jasmine yang merupakan karakter yang tidak hanya mengungkit-ngungkit masa lalu Jasmine namun juga selalu mempertanyakan ketidakjelasan dari masa depan Jasmine. Dari semua karakter yang menghantamnya lagi dan lagi, tentu saja Cate Blanchett terus-menerus bisa tetap berdiri hingga akhirnya karakter ini berakhir dengan sangat tragis di ending film.

Woody Allen kali ini benar-benar ingin memperlihatkan bagaimana hidup seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Film ini pun demikian, terbagi atas masa sekarang dan juga scene-scene flashback yang menunjukkan “arogansi dan kesombongan” Jasmine, membuat penonton berpikir bahwa screenplay tidak terlalu kejam, namun cukup fair untuk memperlakukan karakternya. Yeah, Jasmine deserves this punishment. Inilah film “hitting the bottom” yang membuat penonton tidak perlu mengkasihani karakternya namun juga tidak membuat penonton menge-judgenya (yeah, sedikit sih). Kata lainnya,untuk setiap karakter kompleks di film ini, Woody Allen selalu berusaha untuk memberikan penjelasan. Shit what they’ve been going through.

Untuk para penggemar Woody Allen terutama sisi “pembahasan sebuah relationship” mungkin hubungan antara Hal dan Jasmine, atau bahkan Dwight dan Jasmine terlihat dangkal untuk ukuran Woody Allen, namun hubungan antara Chili, Ginger, dan pacar barunya cukup menarik untuk disimak dan tentu saja dengan “sedikit” twist di akhirnya. Disini akan terlihat bagaimana Jasmine ternyata “lebih jujur” dan tegas dalam memilih laki-laki ketimbang Ginger yang terkesan hypocrite. Yay ! Finally, Jasmine shows positive traits.

Woody Allen + Cate Blanchett + no nudity (I’m kidding) = CLASS

Trivia

Tas Hermes (is that a brand ?) yang dibawa Jasmine melebihi dari total budget untuk wardrobe.

Quote

Jasmine: Anxiety, nightmares and a nervous breakdown, there’s only so many traumas a person can withstand until they take to the streets and start screaming.

Hannah and Her Sisters (1986) : Is This What People Called “One of The Best Works of Woody Allen” ?

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

And here they are, the cast :

Image

About

Yeah, sementara menunggu Blue Jasmine (yang konon Cate Blanchett menjadi frontrunner dari Oscars tahun depan) sekaligus Magic in Moonlight (karena ada Emma Stone) yang sedang mengalami post-production dan juga dijadwalkan tahun depan, I finally decide to watch this !!

Woody Allen, sutradara sukses, penulis sukses sekaligus seorang aktor yang sukses. Siapa yang berani mempertanyakan bakatnya di dunia film ? Seorang yang mempunyai begitu banyak peran di film tanpa kehilangan produktivitasnya, tidak heran jika hampir setiap tahun ia pasti menelurkan satu buah film. Salah satunya adalah Hannah and Her Sisters, sebuah film Woody Allen di era 1980an yang mengantarkan Michael Caine sekaligus Diane West sebagai pemeran pendukung terbaik di ajang Oscars.

Hannah and Her Sisters bercerita tentang tiga orang saudari yang menjalani kehidupan mereka bersama keluarga, karir dan tentu saja kehidupan cinta mereka. Hannah (Mia Farrow) adalah sosok saudara perempuan yang “nyaris” sempurna. Walaupun ia berceria dengan Mickey (Woody Allen) karena tidak bisa memiliki keturunan, ia sekarang mempunyai keluarga bahagia bersama Elliot (Michael Caine). Sementara kebahagiaan tersebut terancam karena Elliot ternyata diam-diam menaruh perhatian kepada Lee (Barbara Hershey) yang tidak lain adalah saudara dari Hannah sendiri. Kehidupan saudara perempuan yang lain juga tidak luput dari perhatian, Holly (Dianne West) adalah actress-wanna be yang telah ditolak berbagai audisi dan memiliki kecanduan terhadap obat terlarang. Sementara Micky, mantan suami Hannah, kini sedang menghadapi fase krisis setelah paranoid yang barus saja ia alami.

Sounds messed up ? Yeah, maybe, but it’s Woody Allen so don’t worry.

With a lot of stories and interesting characters, but it’s so enganging and all shines in all their own stories.

Komedi romantis Woody Allen, sepengetahuan beberapa film yang telah ditonton, memang tidak pernah menyajikan cerita yang generic dan biasa. Biasanya cerita cinta ini juga dibarengi dengan interpretasi ataupun definisi baru tentang cinta yang lebih thoughtful. Begitu juga dengan Hannah and Her Sisters. Dari awal film, film ini sudah mencekoki penonton dengan berbagai karakter dengan problem dan masalah mereka masing-masing. Mungkin untuk pertama kali moment menonton, film ini agak sedikit cepat dalam segi penceritaan ditambah dengan dialog-dialog para pemainnya yang sepertinya sudah tidak lagi menghapal script. Namun, jangan khawatir, semakin kita akrab dengan karakter-karakter yang disajikan, semakin kita juga menikmati film ini.

Film ini berisi tentang berbagai cerita antar karakter yang saling berhubungan antara lain Hannah dengan suaminya, Elliot dengan adik Hannah, Lee dengan pacarnya, Holly dengan karirnya, Mickey dengan paranoidnya, dan juga yang paling penting adalah interaksi antara Hannah, Lee dan juga Holly sebagai kakak beradik. Semua interaksi tersebut sepertinya dibagi rata (walaupun memang sepertinya cerita antara Elliot dan juga Lee sedikit mendominasi) namun tidak menutupi satu sama lain, dan tetap menjadi satu keseluruhan film, bukan bagian yang terpisah-pisah. Setiap ceritanya diisi dengan karakter yang menarik namun tetap alami dan tidak terasa dibuat-buat, termasuk karakter Woody Allen yang mungkin bisa dikatakan karakter yang paling ekstrem sebagai seorang paranoid yang sedang melakukan pemeriksaan kesehatan dan setelah itu mempertanyakan hidupnya yang cenderung “meaningless”. Cerita Mickey ini merupakan cerita yang paling lucu disertai dengan narasi Woody Allen yang ekspresif.

Apa yang menarik dari Hannah and Her Sisters ? Bahwa perilaku dan jalan cerita yang akan dijalani para pemainnya sepertinya tidak mudah ditebak, namun juga tidak keluar dari akal sehat. Yah, itulah kehebatan Woody Allen, dalam melakukan twist setiap adegan yang terkesan biasa menjadi sebuah cerita yang lebih thoughtful sekaligus menarik, disertai dengan dialog-dialog yang sharp, hampir di setiap scene-nya.

Setiap karakter tidak pernah jalan di tempat di setiap scene-nya, setiap karakter ini selalu melakukan pengembangan yang membuat film ini terasa kaya akan karakter (walaupun mungkin, di title role-nya, karakter Hannah terlihat lebih “kurang aktif” dibandingkan dengan karakter lain yang menggebu-gebu dalam mencari perubahan dalam kehidupannya). Setiap karakter ini akan dites pada suatu masalah sehingga mereka tertantang untuk menghadapinya seperti bagaimana karakter Hannah yang bisa dikatakan “disgustingly perfect” dipertanyakan oleh kedua saudarinya ? Atau bagaimana reaksi Mickey seperti melihat “sesuatu yang lain” ketika ia didiagnosis tidak mengidap apa-apa ? Atau bagaimana Elliot bereaksi ketika ia mendapatkan wanita pujaannya ? Semuannya sepertinya mendapatkan resolusi masalah yang di luar dugaan dan ini semua tidak terlepas dari kepandaian Woody Allen dalam mengolah sebuah naskah.

Pertama melihat premise-nya. Yah, I gotta say. Yuck ! Perselingkuhan dengan adik ipar sendiri. Yuck (again). Namun, sebuah kejutan lagi, saking entertaining-nya film ini atau juga bagaimana Woody Allen mengolah film ini, sebuah cerita yang mungkin bisa dikatakan “naughty” namun tidak terkesan “nasty” ataupun “trashy”. Jalan cerita cinta tetap terasa elegan, bahkan beberapa mendapatkan sentuhan yang begitu klasik.

Who has the best performance ?

I gotta say, all shines, but if I have to choose, I gotta say, yeah it’s Woody Allen as Mickey. Caine memang memberikan beberapa moment menyentuh, begitu juga West yang selayaknya karakter “dinamit” di film. Namun, Woody Allen sebagai Mickey merupakan karakter yang unik dan menarik (this is my first time watching him as an actor). Dibandingkan dengan karakter yang lain, karakter ini merupakan karakter paling moving sekaligus entertaining, yang disertai (sekali lagi) heavy breath narration of Woody Allen himself. Karakter ini berhasil menggabungkan antara paranoid, self assesment tanpa kehilangan sisi humoris dan atraktif dari seorang Woody Allen.

Intinya, Hannah and Her Sisters adalah tontonan menghibur yang kaya akan karakter yang menarik sekaligus memberikan gambaran bagaimana karakter ini mampu bereaksi dengan interaksi dan dialog satu sama lain, secara cerdas.

Trivia

Film ini terinspirasi setelah Woody Allen membaca kembali Anna Karenina.

Quote

Mickey: How could I ruin myself?

Hannah: I don’t know. Excessive masturbation?

Mickey: You gonna start knockin’ my hobbies? ( I know, I know, alot of excellent quotes in this movie, but this one is just LOL)

Match Point (2005) : Turning Point When Romantic Allen Goes ‘A Little Bit’ Dark

Director : Woody Allen

Writer : Woody Allen

Cast :  Jonathan Rhys Meyers, Scarlett Johansson, Matthew GoodeEmily Mortimer

About

Selama pengalaman gue nonton filmnya Woody Allen, filmnya seputar cinta-cinta yang terjadi kota-kota Eropa kayak Paris, Barcelona, Roma, dan lain-lain. Yah, begitulah Woody Allen. Kali ini di Londonlah yang bakal dieksplor oleh Woody Allen, dan masih tentang percintaan. London memang sebuah kota yang tepat untuk menceritakan level masyarakat semacam kasta, yang memang menjadi bagian dari film ini. Match Point bercerita tentang seorang pelatih tenis, Chris (Jonathan Rhys Meyers) yang berhasil masuk ke dalam sebuah keluarga yang kaya raya dengan cara melatih anggota keluarga mereka, Tom (Matthew Goode). Ketika Chris mulai dekat dengan adiknya, Chloe (Emily Mortimer), kesempatan untuk menjadi bagian keluarga itupun terbuka lebar. Di saat yang sama, Chris malah lebih tertarik pada Nola (Scarlett Johansson), aktris amatir yang juga tunangan dari Tom. Puncaknya, di tengah perkawinannya dengan Chloe yang tidak dikaruniai anak, Chris malah harus berhadapan dengan desakan Nola yang hamil buah hatinya.

Film ini mendapatkan nominasi Oscar untuk Best Original Screenplay.

“When Match Point is match point, you’re gonna get a real battle of who’s gonna win. Whether you like the definition of “luck” here or not, the brave ending, makes it as a winning movie.”

Ibarat olahraga, mungkin benar film ini adalah sebuah pertandingan alot antar dua pemain yang sama kuat hingga ending. Kuncinya, adalah Woody Allen tidak pernah terburu-buru dalam menciptakan tensi untuk film ini. Bagaimana ia menciptakan rasa simpati dari penonton untuk karakter Chris dan kemudian membaliknya. Begitu juga, bagaimana ia menciptakan rasa “kurang respect” untuk karakter Nola dan kemudian membaliknya.  Bagaimana ia membangun sebuah kriminal dengan tanpa terburu-buru dan cerdas.

Storyline yang sebenarnya dapat dikategorikan “lawas” mampu diubah oleh Woody Allen menjadi film thriller yang menegangkan. Para pemainnya mungkin tidak memberikan penampilan yang terbaik, namun kekuatan dari segi cerita menjadi point terpenting. Memang, pada point tertentu, cerita akan sedikit terlalu di”push” dan too good too be true. Pada akhirnya, penonton akan benar-benar mendapatkan sebuah match point. Tergantung pada siapa mereka memihak, match point yang satu ini benar-benar menegangkan.

Kembali dengan definisi “luck”, ending yang tidak diduga-duga sebenarnya sedikit agak menyesakkan, namun malah berujung film ini menjadi sangat memorable. Maybe I’m gonna say, it’s Woody goes dark.

Dan jika jeli, film yang diawali dengan sebuah bola tenis yang menyentuh net dan berhenti selama detik ini akan kembali dimunculkan sebagai twist endingnya. That’s what I like. Details which makes me so surprise and say “God, damn it. What a genious !”

Trivia

Woody Allen menganggap film ini sebagai salah satu karya terbaiknya.

Quote

Chris : People are afraid to face how great a part of life is dependent on luck. It’s scary to think so much is out of one’s control. There are moments in a match when the ball hits the top of the net, and for a split second, it can either go forward or fall back. With a little luck, it goes forward, and you win. Or maybe it doesn’t, and you lose.