The Gift (2015) : Edgerton Presents Nicely Wrapped Thriller and Wicked Twist Inside of It

Director : Joel Edgerton

Writer : Joel Edgerton

Cast : Jason Bateman, Rebecca Hall, Joel Edgerton

(REVIEW) Mendengarkan seorang aktor atau aktris ingin memiliki profesi ganda sebagai seseorang di balik layar seperti sutradara memang ada excitement tersendiri sekaligus terbesit pikiran, “Well, good luck”- not in a good way. Namun, untuk Joel Edgerton, talent dari benua Australia yang dikenal lewat Exodus, Warriors, Animal Kingdom, sampai performa baiknya sebagai anggota FBI yang korup di Black Mass, The Gift cukup menjadi ajang pembuktian debutan bahwa seorang aktor juga bisa menyutradari sebuah film yang cukup intens, pandai, terbungkus dengan rapi lewat bungkusan-bungkusan yang kompleks, yang menjadikan The Gift bukanlah film stalker – thriller yang biasa.

Apa yang terjadi di SMA, tak pernah tinggal di SMA, yep ! Fase ini merupakan sebuah fase penting dalam kehidupan seseorang, ibarat sebuah pintu yang menghadap pada masa depan secara langsung. Itulah yang menjadi permasalahan dalam The Gift.

Beberapa orang begitu mudahnya melupakan masa-masa tersebut karena begitu indahnya, dan beberapa orang yang lain akan mengingatnya seumur hidup. Gordon (diperankan Joel Edgerton sendiri) pada kategori kedua. Sama seperti orang pada umumnya, ia begitu bersemangat ketika ia tiba-tiba berpapasan dengan teman lamanya – Simon (Jason Bateman) dan Robyn (Rebecca Hall). Pasangan ini ingin memulai lembaran baru selepas tragedi keguguran yang menimpa Robyn dengan pindah kota dan pindah rumah. Lembaran itu sepertinya hanya menunggu waktu mengingat semuannya terlihat pada tempatnya : rumah yang sempurna, anjing yang sempurna, lingkungan yang sempurna, pekerjaan yang sempurna, dan sepertinya pasangan ini begitu bekerjasama menyingkirkan sisa-sisa masa lalu dari rumah tangga mereka.

“Bahwa sesuatu yang buruk kadang bisa menjadi hadiah.”, begitulah yang dikatakan Gordon pada saat makan malam bersama dan Gordon melakukan hal sebaliknya. Akan tetapi, untuk Simon, segala tindakannya hanyalah peninggalan persepsinya terhadap Gordon waktu SMA : a weirdo. Tak peduli seberapa baik Gordon berkata ia begitu bahagia dengan kehidupan Simon sekarang, atau tak pedulinya ia memberikan secara rutin kado-kado yang ter-considerate : anggur sambutan, makanan ikan, pembersih kaca, sampai saat Gordon mengundang pasangan ini makan malam di rumahnya yang jauh lebih mewah, Simon selalu bersikap sentimen untuk menyingkirkan teman lamanya ini dari kehidupan rumah tangganya. Hal yang sebenarnya tak disetujui sang istri, namun ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima. Disinilah, Edgerton melakukan tugas penulisan skripnya dengan baik. Secara garis besar, karakter-karakternya ini tak asing lagi, menjadi spot-spot yang begitu familiar : overprotective husband, kind wife, weirdo stranger, namun di tangannya, setiap karakter ibaratnya bisa memasang kesukaan atau ketidaksukaan mereka dengan begitu halus, menjembatani karakter ini untuk kemudian berubah ketika masa lalu mulai dikupas.

Terbesit juga pada paruh pertama ini bagaimana sebuah eksklusifitas sosial bisa digunakan sebagai media pembelajaran respons karakter pada karakter lain dimana sebuah aktivitas sosial yang berlebihan ternyata bisa mengundang respon anti sosial yang mungkin dianggap sebagai sebuah sesuatu yang wajar. Memberikan kado pada saat-saat tertentu, wajar ! Memberikan kado setiap saat, tidak wajar ! Berkunjung ke rumah teman lama, wajar ! Berkunjung ke rumah teman lama dengan sering, tidak wajar ! Dan, yang paling menarik dari karakter yang menjadi bahan sorotan dalam menit-menit pertama film ini adalah bagaimana Gordon ibaratnya memaksa untuk menginvasi kehidupan Simon-Robyn tak peduli bagaimana Simon menolak mentah-mentah untuk membuka pintu rumahnya kembali.

The Gift menjadi begitu kaya ketika memasuki paruh kedua. Edgerton menambahkan sentuhan-sentuhan thriller yang memacu jantung lewat atmosfer paranoid dan ruangan-ruangan yang terisolasi dengan baik ketika dipampang secara kosong. Ditambah dengan bergantinya fokus pada Robyn, divisualisasikan dengan penampilan baik dari Rebecca Hall yang menunjukkan sisi fragile-nya pada suasana rutinitas, The Gift memberikan teror-teror *masih* familiar namun sangat efektif lewat lorong-lorong rumah yang gelap, derit pintu dibuka, film ini merupakan thriller psikologis yang memiliki kapabilitas yang cukup dipahami untuk penonton memasuki karakter Robyn.

Bahwa Joel Edgerton sebagai sutradara dan penulis yang tak ingin egois, mungkin benar. Ia memberikan wadah cukup untuk kedua aktor aktrisnya untuk bisa tampil maksimal. Lagi dan lagi, komedian beralih pada peran yang serius, Jason Bateman menanggalkan segala sesuatu yang lucu tentang dirinya, mengikuti jejak Steve Carell pada perannya di The Way, Way Back (pembanding yang sesuai dibandingkan dengan karakternya di Focatcher), sebagai karakter ambisius yang memiliki persona menjengkelkan sebagai seseorang yang terlalu terkadang dominan dan hal ini begitu baik dilakukan secara gradual seiring durasi film berjalan. Lagi, lagi, Edgerton begitu halus membuka perlahan karakternya, terutama pada Jason Bateman. Ia berhasil menyingkronkan karakter ini dengan masa lalunya, membuat dua versi Simon masa lalu dan sekarang ibarat satu Simon yang sama namun dilihat dalam kecamata yang berbeda. Bagaimana ambisiusnya ia sekarang merupakan sisi ambisiusnya di masa lalu, adalah satu contoh kecilnya, Simon Says.

Sosok Simon adalah misteri – memberikan tanda tanya Robyn tentang siapakah suaminya. Sosok Gordon juga misteri – memberikan tanda tanya Robyn tentang apa tujuan karakter yang satu ini. Mungkin jawaban dari semuannya begitu mudah untuk sebuah misteri yang secara sederhana dipecahkan. Namun, tanpa twist apalah arti sebuah misteri. Jangan khawatir, Joel Edgerton memberikannya sebagai kesan akhir membuat film ini membekas sedikit lebih lama pada ingatan penonton. Beberapa film terselamatkan oleh twist-nya, beberapa lagi terlupakan karena begitu sederhananya, dan beberapa lagi hancur dengan twist yang terlalu self-conscious ingin mengejutkan penonton sedangkan twist pada The Gift merupakan sebuah twist yang masuk akal, memberikan clue dalam distraksi sehingga dilewatkan penonton. Tidak muluk, bisa diterima, sekaligus kejutan akhir plot ini begitu nista dan jahat sehingga bisa begitu diingat, memberikan dampak pada penonton menjadikan The Gift adalah karya debutan yang solid, kado untuk penonton yang gemar terhadap genre ini, memberikan formula yang sama dengan proses dan hasil yang sungguh berbeda. Well done, Mr. Edgerton ! Another Australian talent to watch ! (A -)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s