Jennifer Lawrence

The Hunger Games : Mockingjay Part II (2015) : Gratitude for Jennifer Lawrence, May The Odd Be Ever in Its Favor

Director : Francis Lawrence

Writer : Peter Craig (screenplay), Danny Strong (screenplay)

Cast : Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Julianne Moore

(REVIEW) Saat membaca The Hunger Games terbesit pikiran “Wow, ini Battle Royale versi dunia Barat, tapi bolehlah.”, ketika membaca Catching Fire terbesit pikiran, “Tak disangka buah beri bisa membawa komplikasi sepintar ini.”, dan ketika membaca Mockingjay (setelah menonton dua buku sebelumnya telah difilmkan) yang ada di pikiran adalah “Suzanne Collins sepertinya tak menyangka buku-bukunya akan menjadi sebesar ini.” Mockingjay memang menjadi buku terlemah dari seri ini. Menjadi buku konklusi dengan beban berat, Mockingjay sepertinya ingin menyimpulkan banyak hal dengan cara memperbesar universe­-nya lewat District 13, menggunakannya, namun tanpa memberikan pembaca untuk mengenalnya. Belum lagi ditambah dengan klimaks konflik cinta segitiga yang sampai tahap klimaks dan penambahan sejumlah karakter baru yang menonaktifkan karakter lama, Mockingjay adalah kekecewaan.

Mengantongi satu nominasi lewat Winter’s Bone saat itu tak membuat Jennifer Lawrence memiliki star power dibandingkan kandidat lainnya saat itu dan keputusan tepat diambil Lionsgate. Trilogi Hunger Games memang semuannya tentang Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence), trilogy ini benar-benar memberikan kesempatan transformasi bagaimana seseorang tanpa konsep “The Choosen One” seperti konsep young adult pada umumnya, bisa merubah dari seseorang yang hanya ingin menyelamatkan adiknya saat proses reaping menjadi sebuah perlambangan penuh sisi kharismatik, ketidakberdayaan atas kondisi, dan rasa bersalah. Dengan harapan yang terburu naik dari Catching Fire sementara sisa peluru yang tersisa adalah yang terlemah, baik Mockingjay Part I dan II merupakan sedikit peningkatan hasil, dan seri ini harus sangat berterimakasih kepada bakat Jennifer Lawrence.

(more…)

Advertisements

Reviews : The Drop (2014), The Interview (2014), The Skeleton Twins (2014), and The Hunger Games Mockingjay Part I (2014)

What’s more dangerous than an armed man ? It’s an armed man with a dog.

Tend and wait the bar – itulah job description sederhana dari seorang Bob (Tom Hardy) di tengah kota Brooklyn menjaga bar dengan nama ‘Marv’s Cousin’. Namun, ternyata tak demikian, ketika Marv’s Cousin adalah sebuah drop bar yang difungsikan untuk melakukan money laundering para mafia. Dengan bantuan sepupunya, Marv (James Gandolfini), Bob pun mulai menghadapi kejamnya kota Brooklyn, mulai dari perampokan berencana, sampai ia akhirnya bertemu dengan Nadia (Noomi Rapace) – seorang gadis dengan masalah misteriusnya tersendiri.

(more…)

American Hustle (2013) : Con Artist, Imposter, Agent, Politician and The Loose Cannon, They’re All The Fighters

Director : David O. Russell

Writer : Eric Singer, David O. Russell

Cast : Christian Bale, Amy Adams, Bradley Cooper, Jeremy Renner and Jennifer Lawrence

What’s so special about this movie ?

“It’s a groovy movie.”

Christian Bale, Jennifer Lawrence, memiliki kesamaan. Bradley Cooper, Amy Adams, memiliki kesamaan. Ketika ditambah dengan Jeremy Renner ??? Hmmm, what a cast ! Nama David O Russel tentu saja tidak lepas dari kesuksesan mereka (berempat), lewat tangan dingin Russel, Bale dan Lawrence menyabet piala Oscar kemudian dilanjutkan nominasi untuk Adams dan Cooper. Setelah tampil mengecewakan lewat I Heart Huckabees, David O Russel bangkit lewat The Fighter dan sejak saat itu setiap film yang ia sutradari sepertinya menembus Oscar.

Salah satu keistimewaan sutradara yang satu ini adalah bagaimana ia mempunyai “cara tersendiri” untuk mengemas sebuah tema. Tema “boxing” yang biasa bisa ia eksplor dengan sedemikian menarik. Tema dalam Silver Linings Playbook lebih istimewa lagi, dikemas seakan-akan simple namun ternyata mampu memuat hal yang complicated. Dan, kali ini David O Russel sepertinya ingin bermain-main dengan politik, FBI, 70’s namun tetap fun.

Irving (Christian Bale), seorang con artist akhirnya menemukan partner in crime-nya, Sydney (Amy Adams) wanita yang penuh dengan layer yang tidak hanya memanipulasi orang lain namun juga dirinya sendiri untuk bertahan. Keduannya menggelar operasi “kejahatan” dengan sukses walaupun skalanya masih sangat “terbatas”. Keduannya juga menjalin affair dibalik keberadaan istri Irving, Rosalyn (Jennifer Lawrence) yang sangat tidak stabil namun ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Irving bagaimanapun caranya. Hingga suatu saat, Sydney dan Irving dijebak oleh FBI, Richard (Bradley Cooper) dan dipaksa membantunya untuk menangkap con artist yang lain jika ingin kehidupan Sydney dan Irving bebas. Operasi ini kemudian berkembang menjadi level yang berbeda, ketika Richard mulai ambisius dan ingin menangkap ikan yang lebih besar, yeah, politisi Carmine (Jeremy Renner). Operasi ini seketika berubah ketika satu sama lain memanipulasi keadaan untuk bisa mencapai keadaan yang “lebih baik”, Irving dengan dua wanita di hidupnya, Richard dengan ambisi dan mulai jatuh cinta dengan Sydney, dan juga yang lainnya.

Tidak lengkap untuk me-review film ini namun tidak membahas cast-nya, masing-masing dari mereka berlima sepertinya telah memiliki film dimana mereka lebih dari cukup untuk menyandang leading role, plus dengan predikat A-list.

Christian Bale, berbicara tentang komitmen untuk sebuah peran, hmmm jangan ditanya. Berbagai transformasi ekstrem sepertinya pernah dilakukan Bale. Secara fisik, Irving merupakan kebalikan dari Dicky di The Fighter. Ia gendut, penuh perhitungan, walaupun masih sama-sama botak. Walaupun tidak secermelang perannya sebagai “mantan petinju” di The Fighter yang tidak hanya sekedar transformasi fisik, Irving disini lebih dari cukup untuk membawa film sampai akhir. Sebagai karakter yang terkesan “jahat” karena ia menipu sana-sini namun berjalannya film, karakter Irving ini hanyalah karakter yang terjebak pada sebuah situasi, baik pekerjaan dan percintaannya. Walaupun seorang manipulator, Irving ini digambarkan selayaknya canvas putih yang mudah diwarnai dan dimanipulasi oleh karakter lainnya, oleh istrinya sendiri, oleh Sydney, sampai pada keadaan tertekan oleh agen FBI Richard DiMaso.

Amy Adams, hmm, spesialis supporting role, bisa dikatakan karakter yang paling kompleks di sepanjang film. Amy Adams menginterpretasikan lewat penampilannya yang seketika membuat kita bertanya-tanya, “There’s something about this woman.”. Karakter ini seperti topeng memakai topeng, ia seperti berada pada batas antara ambisi keinginannya dan juga kebingungan dari sebuah situasi secara bersamaan. Ditunjang dengan bra-less wardrobe, bitchy hairdo, Amy Adams benar-benar menjelma sebagai seorang partner seductive dengan aksen British-nya yang sebenarnya memang tidak meyakinkan (namun ternyata itulah memang bagian dari karakternya).

Bradley Cooper, jika melihat karakternya Richard DiMaso memiliki kesamaan dengan Pat Solitano di Silver Linings Playbook. Kombinasi karakter bad guy yang memiliki ambisi, keinginan untuk mencapai lebih, hampir dengan segala cara, namun juga disisi lain ia memiliki sentuhan “good guy” terutama ketika ia berinteraksi dengan karakter Sydney.

Jeremy Renner, I am little bit tired of this actor. Renner memang tidak memberikan penampilan yang bisa dikatakan “memorable” di film ini, namun David O Russel sepertinya jago dalam memilih aktor, ditambah dengan hairdo jambul, plus raut muka Renner dengan sedikit sentuhan “puppy eyes”, Carmine adalah karakter “bait” dengan wajah innocent yang sepertinya terlalu “polos” untuk menyadari apa yang sedang terjadi.

And this is it, Jennifer Lawrence, banyak perdebatan tentang karakter Lawrence ini. Miscast, yeah a little bit, but maybe a little bit not, Rosalyn adalah bom waktu yang siap meledak dan merubah keadaan dalam film ini dan sepertinya lagi, dan lagi, Jennifer Lawrence walaupun tidak memberikan penampilan yang tergolong subtle, namun ia mampu menangkap energi, spontanitas, dan sisi ekspresif dari karakternya. Yeah, harus diakui, setiap scene dimana Jennifer Lawrence masuk, memang keadaan menjadi lebih menarik.

So if I gotta choose, who’s the best performance ? Amy Adams adalah juaranya, yeah walaupun dengan aksen yang kadang mengganggu (namun, lagi dan lagi bagian dari karakternya), Adams membuktikan bahwa ia bukanlah sosok princess Gisselle lagi, ia mampu memberikan penampilan yang dalam dan juga membuat sebuah “tanda tanya” pada karakternya.

That’s it ?

No, American Hustle merupakan perpaduan menarik dari musik, set produksi, tata rambut, tata busana sampai permainan kamera yang mendukung film ini terasa memiliki energi yang begitu groovy dan juga merasakan ada semangat “Back to the 70’s”. Bagaimana film ini membuat scene seperti “on beat” dengan musik di belakangnya harus diacungi jempol, kemudian sisi make up dan rambut yang sepertinya juga menunjang permainan para karakternya.

Bagaimana David O Russel berkonsentrasi pada karakternya juga terlihat dengan multi voice over para pemainnya. Tidak seperti pada film kebanyakan yang menggunakan voice over dari satu sudut pandang saja, atau jika lebih satu, biasanya dilakukan secara terpisah, setiap karakter utama sepertinya berinteraksi dengan sudut pandang mereka masing-masing membuat setiap karakter ini lebih menarik. Dan yeah, untuk beberapa waktu David O Russel berhasil menyampaikan visinya ini, it’s all about character. Plot tentang “ABSCAM” di film ini hanyalah penunjang, bagaimana setiap karakter bertahan dan menanggapi “plot” ini ternyata membawa sisi menarik tersendiri.

Trivia

Karakter Rosalyn memang ditulis Russel spesial untuk Jennifer Lawrence.

Quote

Rosalyn Rosenfeld: Life is ridiculous. And you know that I would never say anything bad about your father in front of you, but your father is a sick son-of-a bitch.

The Hunger Games : Catching Fire (2013) : Sparks of Rebellion, War of Strategy, Quarter Quell, and Survival

Director : Francis Lawrence

Writer : Simon BeaufoyMichael Arndt

Cast :  Jennifer LawrenceJosh HutchersonLiam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Elizabeth Banks, Stanley Tucci, Philip Seymour Hoffman, Sam Claflin, Jena Malone

About

Satu setengah tahun yang lalu The Hunger Games memberikan kejutan dengan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit sekaligus memberikan Jennifer Lawrence global recognition dan menjadikannya sebagai superstar (yeah, walaupun breakthrough performance-nya ada di Winter’s Bone). Diadaptasi dari novel bestseller dengan jalan cerita yang intriguing (yah, walaupun ada yang menyamakan dengan jalan cerita Battle Royale), The Hunger Games menjadi salah satu franchise yang menjanjikan pasca franchise Harry Potter berakhir. Novel young adult memang sedang gemar diadaptasi ke film namun tidak semuannya sukses baik secara kritik ataupun secara komersial. Lihat saja Percy Jackson yang masih harus berjuang (lagi) agar bisa menelurkan sekuel berikutnya, atau The Host yang kurang mendapatkan antusiasme, Beautiful Creatures, dan Mortal Instruments : City of Bones. Yang paling baru dan akan segera dirilis, Divergent dengan komposisi cast yang menggoda. Tidak hanya sembarang, novel young adult yang bercerita tentang kisah asmara, young adult yang disebutkan diatas melibatkan sisi fantasi atau science fiction yang memang sangat digemari anak muda.

Nah The Hunger Games : Catching Fire merupakan salah satu contoh sukses dari adaptasi novel ke film. Keberhasilan film sebelumnya, predikat A-list untuk bintang utamanya serta marketing yang agresif di sepanjang tahun,membuat film ini menjadi salah satu  film yang paling ditunggu di tahun 2013, melengkapi penghujung tahun 2013 yang sepanjang tahunnya ditebari banyak film superhero pemancing pundi-pundi box office.

Ketika Katniss (Jennifer Lawrence) dan Peeta (Josh Hutcherson) pulang dengan selamat dari The Hunger Games ke 74, mereka kini harus melakukan tour ke 12 district dimana keadaan Panem sedang dalam kondisi labil pasca Katniss berhasil mencurangi sistem dengan menggunakan strategi “berry”nya. Melihat situasi yang tidak wajar, president Snow (Donald Sutherland) mengancam Katniss untuk meyakinkan warga Panem tentang kisah cintanya dengan Peetaagarmenjadi distraksi dari district yang menunjukkan indikasi pemberontakan, salah satunya Gale (Liam Hemsworth) yang mulai menunjukkan perlawanan terhadap ketidakadilan Capitol. Masih merasa terancam dengan keberadaan Katniss yang kini menjadi simbol harapan bagi warga Panem, Presiden Snow berkolaborasi dengan gamemaker terbarunya, Plutarch Heavensbee (Phillip Seymour Hoffman) untuk menyelenggarakan Quarter Queel. Quarter Quell sendiri pada intinya adalah The Hunger Games namun diikuti oleh pemenang dari periode selanjutnya, yap it’s all star The Hunger Games. Berbeda dengan pertandingan sebelumnya, Katniss dan Peeta harus berjuang melawan para kontestan terlatih seperti Finnick (Sam Clafin),pemenang The Hunger Games di usia 14 tahun, Johanna (Jena Malone) perempuan agresif, Beete dan Wires peserta yang dinilai paling cerdas, sampai tentu saja kontestan dari District 1 dan District 2 yang terkenal lethal. Dengan design cornucopia yang baru dan lebih mematikan, Katniss dan Peeta tidak mungkin bertahan sendiri, kini mereka harus beraliansi dengan peserta lain untuk dapat bertahan di Quarter Quell.

Berhasilkah mereka ?

This installment makes the previous one like a really “child play”, much better than its predecessor.

Pada awalnya sebenarnya sempat mengalami underestimate ketika mendengar kata “Quarter Quell”. Holy shit, they’re gonna show us sames stuff. Yeah, belum lagi Gary Ross yang kemudian keluar dari projek dan kemudian digantikan oleh Francis Lawrence yang mempunyai Filmography sebelumnya yang tidak terlalu impresive (I am not huge fanof Constantine, even Will Smith’s I am Legend). Untungnya saja, melihat screenwriter yang terlibat dan novel yang ternyata memiliki source story diluar Quarter Quell, membuat Catching Fire masih berada di urutan atas most anticipated movie in 2013. Dan setelh melihatnya sendiri, I gotta say I AM WRONG with all early expectation.

Catching Fire memulai ceritanya dengan begitu faithful dari sumber novelnya, terlihat runtut dan membuat penonton seakan-akan memang sedang membaca novelnya (hal ini menjadi hal yang penting untuk sebuah adaptasi novel ke film, terutama untuk para fans-nya). Jika The Hunger Games langsung terjun ke dalam reaping dan persiapan dari pertandingan mematikan tersebut, awal Catching Fire menunjukkan keadaan Panem (terutama District 12) yang masih saja dingin dan miskin pasca kemenangan Katniss. Catching Fire juga lebih mengeksplor kehidupan cinta Katniss dan Gale di tengah kehidupan palsunya dengan Peeta. Namun, sisi yang paling menarik adalah I gotta say, silent war yang mulai ditebarkan oleh President Snow sebagai karakter antagonist utama yang membuat sekuel ini lebih memiliki intrik dan perang strategi antara kubu Katniss dan Snow. Disinilah banyak hal ajaib terjadi (yeah, ajaib = smart thing).

Sisi menarik yang lain adalah character development yang dialami Katniss pasca The Hunger Games yang kini sedang mengalami trauma, terutama insiden Marvel dan Rue (dua tokoh yang membuat moment penting di film sebelumnya), diperankan pula oleh Jennifer Lawrence, lagi dan lagi, pasca piala Oscar-nya, Katniss versi Catching Fire ini cukup meng-embrace emosi yang terkadang menyentuh sekaligus mulai mengeluarkan sisi “memberontak”-nya, berbeda dengan Katniss versi The Hunger Games yang masih terlihat “shock” dan menerima sistem dari Capitol.

Film yang mempunyai budget dua kali dari film pertamanya ini sangat terlihat dari design Cornucopia yang lebih terlihat seperti hutan buatan dibandingkan dengan designnya pada The Hunger Games yang terlihat seperti hutan sungguhan. Disinilah sedikit sisi negatifnya, walaupun dengan budget lebih sedikit Cornucopia atau arena pertandingan di The Hunger Games lebih memiliki element of surprise and shocking yang bisa dirasakan penonton, maksudnya The Hunger Games terlihat lebih fresh untuk sajian “pertandingan mematikannya” (yah mungkin karena sedikit banyak Catching Fire memang repetisi dari The Hunger Games yang mempunyai premise menarik). Di sisi lain, Catching Fire memiliki sisi kompensasi lewat arena pertandingan yang bisa diakui lebih besar dan lebih canggih, namun yang paling menarik adalah arena ini memiliki teka-teki yang harus dipecahkan oleh para tribute karena menentukan strategi selanjutnya.

“Arena mahal” ini tidak akan disentuh hingga separuh durasi (yep, harus sabar menunggu), karena memang sepertinya film tidak ingin berkonsentrasi lagi pada konflik utama The Hunger Games-nya, inilah yang membedakan installment ini berbeda dari sebelumnya. Catching Fire lebih berkonsentrasi pada awal pemberontakan terhadap Capitol dan awal lahirnya leader mereka, Katniss Everdeen. Quarter Quell juga tidak lagi berkonsentrasi pada kompetisi antar peserta (walaupun konflik tersebut masih ada) namun lebih menunjukkan kerjasama diantara mereka untuk memecahkan “teka-teki” Cornucopia sebagai langkah survival. Buktinya, karakter Gloss, Cashmere, Enobaria dari District 1 dan 2 tidak dikenalkan secara intens selayaknya Cato dan Clove. Penggantinya, karakter lain yang ikut melakukan survival, dan termasuk well chosen cast, Finnick Odair yang berhasil ditampilkan oleh Sam Clafin, dan yang sedikit mencuri perhatian adalah karakter Johanna Mason yang diperankan oleh Jena Malone sebagai gadis pintar, agresif, impulsive, dan tanpa rasa takut.

Film ini diakhiri dengan sebuah adegan cliffhanger yang mungkin saja kurang disukai oleh beberapa orang, namun cliffhanger yang satu ini merupakan cliffhanger positif yang membuat kita puas dengan installment Catching Fire namun juga tidak sabar lagi menunggu installment selanjutnya, Mockingjays.

Intinya Catching Fire sudah tidak lagi berkutat tentang “siapa membunuh siapa” namun lebih bermain dengan adu strategy yang membuat sekuel ini terlihat lebih matang dan berisi. Plus, Francis Lawrence terlihat cukup pandai untuk mengolah film dengan durasi lebih dari dua jam menjadi sebuah sajian film dengan pacing yang enak, sekaligus nyaman untuk dinikmati.

Trivia

Taylor Kitsch sempat dipertimbangkan untuk karakter Finnick, Mia Wasikowaska sempat dipertimbangkan untuk karakter Johanna, serta Melissa Leo sempat dipertimbangkan untuk karakter Mags (mentor Finnick yang juga ikut dalam pertandingan).

Quote

President Snow: The other victors. Because of her, they all pose a threat. Because of her, they all think they’re invisible.

House at The End of The Street (2012) : Same Mysterious House, New Girl Next Door

Director : Mark Tonderai

Screenwriter : David LouckaJonathan Mostow

Cast : Jennifer Lawrence, Max Thieriot, Elisabeth Shue

Tagline : Fear reaches out for the girl next door

“There’s potential to be a mediocre movie, but it just ‘bluuuurp-s’”

About

Jennifer Lawrence mendapatkan kesempatan untuk bermain dalam sebuah film horror, siapa yang tidak tertarik setelah peran sebagai wanita pejuang baik di Winter’s Bone atau The Hunger Games. Berperan sebagai Ellisa, gadis SMA yang baru saja pindah dengan Ibunya (Elizabeth Shue) di suatu lingkungan baru. Sialnya, mereka bertetangga dengan rumah yang mempunyai masa lalu kelam. Pembunuhan, wow ! That must be a surprise. No one did it before. Rumah misterius itu ditinggali oleh seorang laki-laki yang berhasil melewati kejadian mengerikan itu, namanya Ryan (Max Thieriot). Menjadi sebuah cerita, ketika dengan klisenya si Elissa ini malah menjadi persahabatan dengan anak misterius, Ryan, dan berhasil mengungkap apa yang sebenarnya yang menggelayuti misteri rumah di ujung jalan tersebut.

PG-13 Horror, “You know the story”-story, Maybe it just stuck like  its title.

Film ini membuka lebar scene antara Elissa dan Ryan dan mencoba menggiring pemikiran penonton untuk suatu twist yang sebenarnya mempunyai potensial. Hanya saja, semuannya terlihat sangat buruk di setiap bagian film. Bahkan untuk seorang amatirpun akan tahu jika film ini diedit dengan asal-asalan.

PG-13 membuat film ini serasa nanggung untuk menampilkan adegan bloody atau intens, ditambah dengan karakter Ryan yang sebenarnya terlalu dangkal diperankan oleh Max Thieriot. Ditambah lagi, film ini penuh dengan hal klise yang telah kita lihat di banyak film horor, dan adegan terakhir yang akan kita teringat dengan adegan super intens plus adrenaline-pinching dari Clarice Starling di Silence of The Lambs.

Hal klise pertama, Ibu Elissa yang kemudian bangkit lagi walaupun telah tertusuk dan terkulai.

Hal klise kedua, pshyco yang bangkit lagi walaupun telah ditembak.

Dan masih banyak lagi.

Untuk yang telah melihat trailer film ini sebelumnya, terlihat sekali bahwa pembuat film ini sebenarnya bingung.

Trivia

Dengan biaya kurang dari tujuh juta dolar, film ini berhasil meraup keuntungan sebesar empat puluh juta dolar.

Quote

Elissa : I like the way you see me.

Silver Linings Playbook (2012) : Two Dark Clouds are Meeting and Find A Hope

Sutradara : David O. Russell

Penulis : David O. Russell, Matthew Quick

Pemain : Jennifer Lawrence, Bradley Cooper, Robert De Niro, Jacki Weaver

“They are crazy and they are good.”

About

Lost in My Mind adalah lagu dari band The Head and The Heart yang mengiringi trailer dari film garapan David O Russel yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama. Lost in My Mind pula yang menjadi cerita dasar dari film ini, Silver Linings Playbook bercerita tentang Pat (Bradley Cooper) yang baru saja meninggalkan mental institution dan tinggal bersama kedua orang tuanya, keluarga Solitano (Robert De Niro dan Jacki Weaver). Dengan kejiwaan yang belum pulih dan sembuh sepenuhnya, Pat masih berharap untuk kembali dengan istrinya, Nikki, walaupun ia telah dikhianati oleh istrinya di depan matanya sendiri. Ketika ada aturan bahwa Pat tidak bisa menemui Nikki, Pat pun memanfaatkan Tiffany (Jennifer Lawrence), seorang janda keranjingan sex yang baru saja ditinggal mati suaminya, untuk mengantarkan suratnya  kepada Nikki. Tiffany pun meminta imbalan kepada Pat untuk menjadi partner dansanya untuk berpartisipasi dalam suatu kontes dansa yang akan diadakan di akhir tahun. Apakah mereka berdua akan menemukan silver linings bagi kehidupan mereka yang telah nyaris hancur ?

Film ini memang tidak menyabet nominasi Oscars sebanyak Lincoln atau Life of Pi, namun film ini berhasil menorehkan prestasi dengan menjadi salah satu film yang berhasil meraih nominasi untuk semua kategori acting di Oscars. Semenjak film ini memenangkan People’s Choice Award di festival film Toronto, film ini menjadi salah satu film yang paling dinantikan di tahun 2012. Apalagi Jennifer Lawrence sempat menjadi frontrunner Oscars untuk kategori Best Actress in Leading Role.

They are so much good when they are crazy

Siapa yang tidak skeptic ketika mendengarkan nama Bradley Cooper ? Namun tidak dengan film ini, Bradley Cooper bisa bermain total sebagai seseorang yang mudah emosi dengan mood yang sama sekali tidak stabil, ditambah lagi dengan cara bicaranya yang ceplas-ceplos dan tidak bisa mengendalikan kejujurannya. Tantangan tersendiri bagi Jennifer Lawrence, aktris yang sedang melambung tinggi karena perannya sebagai Katniss di The Hunger Games, mampu memberikan pendalaman karakter yang sanga intens. Setiap scene dengan kemunculannya selalu dinantikan di sepanjang film yang berdurasi dua jam ini. Karakter Tifanny menjadi begitu menarik ketika ia yang memerankannya, sementara terdapat potensi yang sangat besar untuk seorang aktris terjebak dalam penampilan yang biasa saja untuk karakter seperti Tifanny ini. Sementara itu, duo Robert De Niro dan Jacki Weaver lebih dari cukup mengimbangi chemistry dari Cooper dan Lawrence yang memang menjadi magnet utama dari film ini.

Beberapa moment gila dengan pilihan soundtrack yang tepat pun berhasil diciptakan dalam film ini, seperti moment saat Pat mencari wedding videonya, atau saat Tifanny dan Pat melakukan makan malam bersama, bahkan scene puncak berupa kontes dansa pun berhasil menjadi scene yang sangat berpassion, lucu, dan sangat menghibur penonton.

Film ini berhasil membuat penonton tidak peduli dengan sisi klise cerita di akhir film, karena plot cerita juga menyajikan hal segar dengan cara mengombinasikan dance competition, football game dengan romance.

Trivia

Lawrence dan Cooper akan kembali berkolaborasi di 2013 di film Serena.

Quote

Pat : What the fuck are doing ? Your husband’s dead.

Tiffany : Where is your wife ?

Pat : You’re crazy.

Tiffany : I’m not the one that just got out of that hospital in Baltimore.

Pat : I’m not the big slut.