2001

The Others (2001) : House of Darkness, Photosensitive, The Other Side, and The Big Huge Twicked-ist

Director : Alejandro Amenábar

Writer : Alejandro Amenábar

Cast : Nicole Kidman, Christopher Eccleston, Fionnula Flanagan, Alakina Mann, James Bentley, Elaine Cassidy

First of all, twicked-ist = twist + wicked, I know I am fucked up.

Menjadi seorang penggemar film baru memang banyak keuntungannya, salah satunya adalah setiap hari kita bisa memilih film-film bagus tanpa harus takut kehabisan film untuk ditonton. Yah, The Others mungkin sering diperbincangkan menjadi salah satu film horror yang memiliki reputasi baik, terutama jika mendenga twist-nya. Yep, I finally watch it. FINALLY.

About

Film yang turut diproduseri oleh Tom Cruise selepas high profile divorce-nya dengan Nicole Kidman ini bercerita tentang seorang wanita, Grace (Nicole Kidman) yang ditinggal suaminya untuk berperang. Terisolasi di sebuah pulau, ia akhirnya merekrut tiga orang pelayan (Fionulla Flanagan, Eric Sykes, Elain Cassidy) untuk mengurus rumahnya yang sangat besar. Grace semakin terisolasi ketika dua orang anaknya, Anne (Alakina Mann) dan Nicholas (James Bentley) yang mengidap penyakit photosensitive, yaitu sebuah penyakit yang membuat mereka tidak bisa terkena matahari dan harus beraktivitas di kegelapan. Konflik bermunculan, ketika Anne mulai berinteraksi dari alam lain yang harus menguji “keimanan” Ibunya yang sangat religius. Misteri apakah yang berada di dalam rumah itu ?

Film ini banyak menorehkan prestasi, mulai dari Nicole Kidman yang berhasil menembus nominasi Golden Globe dan juga BAFTA, dan juga sebagai film Spanyol yang berhasil menorehkan angka dua ratus juta dollar untuk perolehan box office worldwide. Tentu saja sebuah prestasi yang memukau, apalagi jika melihat genre film ini yang tidak terlalu familiar dengan awards.

“Very, very nice a horror movie. Kidman assures.”

Pada awal film, film ini dengan sabar memandu rumah yang bisa dikatakan menjadi salah satu objek yang dieksplor. Selayaknya sebuah tour, film ini sepertinya menginginkan penonton menjadi familiar dari ruang per ruang, dan tidak terasa asing. Secara personal, hal ini menjadi salah satu bagian penting untuk sebuah film horor yang menceritakan tentang haunting house.

Nicole Kidman, salah satu aktris yang paling disegani di Holywood tentu saja menjadi daya tarik tersendiri, ketika aktris sekalibernya bermain dalam sebuah film yang bergenre horror. Yep, dan penampilan Kidman sebagai istri relijius, setia, sekaligus kesepian berhasil meyakinkan penonton bahwa ada yang salah di rumah itu. Lewat sifat skeptisnya, Kidman seolah-olah berubah menjadi peran protagonist sekaligus antagonist yang menjadi dua sisi berlawanan. Ditambah dengan ketidakstabilan dari emosinya, Kidman disini berhasil memberikan sisi misteri terhadap karakternya dan juga menambah cerita, selain cerita hantu di keseluruhan film.

Faktor pendukung untuk sebuah old fashioned horror bertebaran, mulai dari lingkungan kabut yang membawa kengerian tersendiri, sebuah rumah kuno dengan banyak pintu (dan tentu saja piano), dan yang paling unik adalah bagaimana film ini menimimalkan penggunaan cahaya namun juga disertai dengan alasan yang diterima, yaitu menyisipkan cerita penyakit “photosensitive” yang membuat film ini memang harus dibuat dalam lingkungan yang gelap. Atmosfer yang sangat mendukung ini bisa dikatakan sebagai ujung tombak film sehingga film ini tidak perlu menggunakan visual effect yang aneh-aneh bahkan keberadaan “hantu” di film ini juga bisa dikatakan benar-benar halus dan tidak kasar.

The Others merupakan sebuah film horor yang memiliki misi bahwa ada sebuah cerita yang benar-benar ingin diceritakan. Tidak hanya berkonsentrasi pada keinginan menakut-nakuti namun The Others juga tidak mengeyampingkan sisi karakter yang terlibat. Skeptism mungkin menjadi salah satu bagian yang menyebalkan, apalagi jika dilihat pada sebuah film horor, mungkin juga terlihat ironis. Beberapa film menggunakan sifat skeptis ini sebagai tindakan bodoh, “Where’s the ghost ? I don’t believe in that kind of thing BUT I will scream if I see them, ANYWAY.” Namun, The Others berhasil menyeimbangakan sifat skeptis dari karakter utamanya dengan sisi relijius yang membuat perpaduan ini bukanlah sebuah tindakan menyebalkan, namun menjadi sebuah karakter yang menarik.

Salah satu bagian terbaik dari film ini adalah twistnya, namun disisi lain film ini juga tidak ingin memanipulasi penonton untuk memikirkan sesuatu sebaliknya dan di akhirnya lebih seperti membodohi penonton. Tidak, film ini bisa dikatakan mengalir secara natural, bahkan ketika revelation ketiga karakter pembantunya, film ini bisa dikatakan terlalu jujur. Yeah, film ini sepertinya ingin gambling dengan penonton, jika penonton bisa mengetahui twistnya, ya sudah, it’s still a win win solution for the movie.

MAYBE SPOILER

Dengan tahun rilis sesudah Sixth Sense, mungkin twistnya akan mengingatkan pada film tersebut. Namun, berbeda dengan Sixth Sense, The Others selayaknya sebagai penjawab dai film-film sebelumnya. Tidak hanya berperan sebagai twist di dalam film ini sendiri, The Others sepertinya ingin memberikan jawaban terhadap film-film sejenisnya. Tentu saja, walaupun masih banyak hal yang absurd, film ini berhasil menjawab pertanyaan, “Mengapa sebuah rumah bisa dihantui ?”, “Mengapa hantu di sebuah rumah tidak mau pindah ?” dan sebagainya. Suka tidak dengan twistnya, it’s still a very special twist.

Trivia

Xerodema Pigmentosum atau photosensitive dalam film ini merupakan penyakit yang nyata walaupun memang tergolong sangat langka.

Quote

Grace: The only thing that moves here is the light, but it changes everything.

Advertisements

Donnie Darko (2001) : Supernatural Time Travel Mysterious Science Fiction of Troubled Teenager and His Creepy ‘Imaginary’ Bunny Rabbit

Director : Richard Kelly

Writer : Richard Kelly

Cast : Jake GyllenhaalJena Malone, Maggie Gyllenhaal, Drew Barrymore

About

WEW ! I THINK THAT’S THE LONGEST TITLE I HAVE EVER MADE !

Donnie Darko is a cult movie ? Maybe, it has so many fans and make it so popular, but if it’s a cult, so I am in the first viewing. Donnie Darko memang menjadi film  yang begitu populer, walaupun ketika masa rilisnya film ini tidak begitu menghasilkan pundi-pundi, karena memang hanya lewat di beberapa festival dan sepertinya hanya melakukan limited release.

Donnie Darko sendiri merupakan kombinasi yang aneh antara genre science fiction yang mengkaitkan dengan time travel, filosofi kehidupan (I am not talking about it, because I am suck at it), kenakalan remaja serta kehidupan cinta anak sekolahan.

Bersetting di bulan Oktober tahun 1988, Donnie Darko (Jake Gyllenhaal) berhasil menghindari sebuah kecelakaan fatal yang menimpa rumahnya, sebuah mesin pesawat jatuh menimpa kamarnya dan beruntungnya saat kejadian ia sedang mengalami sleepwalking mengikuti teman imaginarynya, Frank, sosok dengan kostum kelinci mengerikan yang mengatakan bahwa dunia akan segera berakhir dalam waktu 28 hari kemudian. Donnie Darko yang juga mengalami gangguan mental dan harus mengikuti treatment dari psikolognya, kini juga harus mengungkap apa yang sebenarnya ingin disampaikan sosok kelinci yang mengaku datang dari masa depan ini. Beberapa tindakan kenakalan remaja mulai dari tindakan membanjiri sekolahan sampai membakar rumah seorang motivator ia lakukan dengan pengaruh Frank dibawahnya. Di sisi lain, ia juga harus tetap menjalani aktivitas sehari-harinya dengan orang-orang di sekitarnya yang mungkin juga menjadi kunci atas apa yang akan terjadi di 28 hari kemudian, mereka adalah pacar Donnie, Gretchen (Jena Malone), guru bahasa inggrisnya (Drew Barrymore), guru senamnya (Beth Grant), ayah ibunya, termasuk kakaknya sendiri Elizabeth (Maggie Gyllenhaal).

Apakah sebenarnya misteri yang akan menimpa di 28 hari kemudian dan berhubungan dengan time travel ?

“At first, Donnie Darko is one coloured puzzles you need to notice every piece of it.”

Melihat film ini memang butuh perjuangan dan tidak mudah untuk dilewati apalagi mengingat durasinya yang lebih dari dua jam. Tidak hanya karena menawarkan sebuah jalan cerita yang kompleks, Donnie Darko juga sedikit “membingungkan” penonton lewat ilusi atau fantasi atau mimpi dan juga keadaan yang dialami Donnie ini, membuat salah satu pertanyaan terbesar sepanjang film. “Is this for real, real ?”

Belum lagi film juga menyelipkan sisi science fictionnya lewat tema time travel yang bisa dikatakan berada di level “susah dimengerti”, lewat absurdity tentang konsep time travel dan juga thought provoking ketika jalan cerita mulai dibuka mengarah kemana.

Donnie Darko menghadirkan kehidupan sehari-hari dari sang tokoh dengan banyak karakter yang terlibat, dan semuannya diperankan oleh aktris atau aktor yang terlalu besar untuk diabaikan jika mereka hanya memiliki porsi kecil dan tidak signifikan di dalam film seperti tidak mungkin seorang Drew Barrymore hanya menjadi guru bahasa Inggris yang tidak berpengaruh apa-apa, pasti dia memiliki peran tertentu. Disinilah kunci menikmati dari Donnie Darko, tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menyatukan secara dini puzzle-puzzle yang ada, namun juga jangan sampai kehilangan konsentrasi bahwa kejadian sekecil apapun akan mengarah ke sebuah reaksi kegiatan yang lain.

Film yang seidkit mengingatkan pada A Clockwork Orange ini juga terlihat mistis apalagi dengan kehadiran si bunny rabbit legendaris yang jauh dari kata imut dan lucu. Suara, penampilan, dan misteri dari 28 hari ini terkadang memberikan sebuah atmosfer horror yang mencekam.Tokoh kelinci inilah yang membuat film ini terasa haunting dan terus menarik untuk diikuti untuk memecahkan semua misteri yang ada walaupun plot di sepanjang film berjalan cukup lambat.

Jika semua aktor atau aktris berakting secara “tidak menonjol” membuat Jake Gyllenhal di film ini benar-benar menjadi seorang outsider sebagai seseorang yang memiliki vision aneh, mental problem, bahkan schizophrenia dikombinasikan dengan sifat remajanya yang fragile dan juga juvenile. Jake Gyllenhal mewujudkannya lewat gesture, dan terutama tatapan matanya.

Film dengan label “thought provoking” pastinya penontonnya akan berusaha mencari alasan dan penjelasan tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam film, disinilah film ini terasa hutang penjelasan yang logis (Logis disini tkdak harus masuk di akal, namun paling tidak mengikuti “aturan yang yang berada dalam film berlabel science fiction). Konsep time travel yang dihadirkan lewat sebuah buku “Philosophy of Time Travel” sendiri sudah merupakan sesuatu yang absurd dan susah diikuti jika hanya dilihat secara sekilas, kemudian konsep yang rumit ini digabungkan dengan keadaan psikologis serta mental Donnie Darko yang juga penuh ambiguitas, ditambah dengan konsep keberadaan Tuhan yang juga semakin memenuhi ruang penjelasan. Disinilah, mungkin mengapa film ini tidak henti-hentinya untuk diperdebatkan. Penonton juga diberikan pilihan apakah penjelasan yang mungkin tidak ada ujungnya ini adalah sesuatu yang penting atau tidak, for me, it doesn’t matter. Melihat bagaimana sutradara sekaligus filmmaker menebar puzzle di sepanjang film untuk menciptakan sebuah puzzle besar di akhir sudah cukup membuat kagum, it’s mesmerizing, walaupun terkadang hint-hint yang ditebarkan tersebut hanyalah sekedar hint. For example, karakter Drew Barrymore yang menuliskan kata “cellar door” dan itu merupakan sebuah hint.

Hah, kesimpulannya, it’s not easy to interpret and analyze something related to time travel, dream, psychology, God-existence, but if it’s really a cult, there will be second viewing and maybe second reviewing. HAH !

Trivia

Berbudget 6 juta dolar dan hanya berpendapatan sekitar 1,3 juta dolar.

Quote

Fucking creepy giant bunny : 28 days, 6 hours, 42 minutes, 12 seconds. That is when the world will end.

Bridget Jones’s Diary (2001) : Thirty’s-Life Crisis in Pride and Prejudice Re-Interpretation

Director : Sharon Maguire

Writer :  Helen Fielding, Richard Curtis

Cast :  Renée ZellwegerColin FirthHugh Grant

Novel karya Jane Austen berjudulkan “Pride and Prejudice” memang sangat powerful. Novel ini terus saja diangkat dan dibahas, tidak ketinggalan di industri film. Novel ini diangkat dalam sebuah mini-series dengan judul yang sama. Adaptasi yang paling terkenal dari novel ini mungkin adalah adaptasi dari Joe Wright dan Keira Knightley, masih dengan judul yang sama. Belum lagi, masih adanya rumor akan dibuatnya film yang akan mengangkat novel dari parodi novel super ini, yakni Pride and Prejudice and Zombies.  Jika pernah membaca novel ini, pasti akan sangat lekat dengan karakter Mr. Darcy, sebuah karakter potensial dengan karisma dan mengandung misteri sampai di akhir novel cerita terungkap. Bridget Jones’s Diary adalah salah satu film yang meng-reinterpretasikan kembali novel Jane Austen ini ke dalam konteks kehidupan modern dengan cara yang lebih fun.

About

Bridget Jones (Renee Zellweger), single, loser in her job, umur menginjak 30an untuk entah ke berapa kalinya mencoba dijodohkan dengan ibunya dengan Mark Darcy (Colin Firth). Pada pertemuan itu, keduannya malah kurang akrab dan sama sekali tidak meninggalkan kesan. Bridget Jones yang frustasi akan kehidupannya akhirnya memutuskan untuk melakukan perbaikan kepada dirinya sendiri dalam kurun waktu setahun sambil dia menulis diary tentang hal tersebut. Kehidupan Bridget mulai mendapat pencerahan ketika ia terlibat suatu hubungan tanpa status dengan bosnya sendiri, Daniel (Hugh Grant). Cerita terus berlanjut, hingga akhirnya Bridget mengetahui bahwa antara Mark Darcy dan Daniel punya sejarah persahabatan yang kelam. Bridget pun terlibat dalam dua kubu yang saling secara misterius menyerang. Mark Darcy dengan kesombongan dan keangkuhannya dan sisi Daniel dengan segala pesona yang Bridget dambakan. Namun, sosok sebenarnya dari Mark Darcy dan Daniel bukanlah apa yang ada dalam Bridget. Disinilah intrik “pride dan prejudice” mulai mewarnai cerita.

“For the predictable story (if you have read the novel), the chubby Zellweger is funny enough to make you stay in front of your screen, and her English accent, it’s pretty convincing actually.”

Jika pernah membaca novel dari Jane Austen pastinya tidak akan lagi mencoba menebak jalan ceritanya. Tidak hanya me-reinterpretasikan, bahkan karakter Mr. Darcy pun tidak diubah namanya menjadi Mark Darcy saja. Belum lagi, casting colin Firth yang begitu cocok memerankan Mark Darcy ini juga tidak lain tidak bukan adalah pemeran Mr. Darcy di versi mini seriesnya.

Terus apa yang harus ditonton ?

Film ini berhasil memberikan banyak momen-momen lucu dengan voice over (V.O.) dari karakter Bridget yang benar-benar modern, catchy dan membuat script ini semakin kuat, walaupun agak sedikit bermasalah dengan pacing plus dengan substory (tentang masalah orang tua Bridget, cenderung mengganggu). Karakter lovable pun secara mengejutkan mampu dihadirkan oleh Renee Zellweger melalui comical-comical face yang natural dengan penambahan beberapa pon berat badan yang membuatnya semakin lucu untuk dilihat dengan aksen British yang sangat meyakinkan. Colin Firth mempunyai karisma untuk memerankan Mark Darcy sedangkan Hugh Grant mempunyai sisi “flamboyan” dengan wanita. What a romantic comedy with a solid cast.

Trivia

Film ini mengawali 3 kali nominasi berturut-turut Oscar untuk Renee Zellweger, di film ini ia dikalahkan Halle Berry untuk Monster’s Ball. Tahun berikutnya, Zellweger dinominasikan kembali untuk Chicago, namun dikalahkan oleh Nicole Kidman untuk The Hours. Baru setahun kemudian, Zellweger menyabet Oscars untuk perannya di Cold Mountain.

Quote

Bridget : Resolution number one: obviously, will lose twenty pounds. Number two: will find nice sensible boyfriend and not continue to form romantic attachments to alcoholics, workaholics, peeping-toms, megalomaniacs, emotional fuckwits or perverts.

Erin Brokovich (2000) and Legally Blonde (2001) : Both are Blonde, Legal is New for ‘em but They’re Great at It

 

Sebuah film bertemakan meja hijau ternyata sama menariknya dengan film bertema politik, gangster atau football. Salah duanya adalah Erin Brockovich yang muncul pada awal milenium dan Legally Blonde yang rilis pada satu tahun setelahnya. Keduannya di bintangi oleh dua aktris berbakat yang telah meraih piala Oscars. Di dalam kedua film ini, Julia Roberts dan Reese Witherspoon adalah blonde yang harus terjun di bidang hukum, walaupun mereka lebih cocok sebagai ‘ratu kecantikan’. Walaupun harus berkutat dengan hukum yang notabene serba serius, ternyata film semacam ini mempunyai cara sendiri untuk mengocok perut para penontonnya.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Erin Brockovich (2000)

Director :  Steven Soderbergh

Writer : Susannah Grant

Cast :  Julia RobertsAlbert Finney, Aaron Eckhart

“Shining Roberts in steady hand of Soderbergh.”

About

Diangkat dari sebuah kisah nyata, Erin Brockovich (Julia Roberts) pada mulanya hanyalah single parent dengan tiga anak yang sedang putus asa, tanpa pekerjaan, tanpa uang. Dengan modal nekad, ia memaksa pengacaranya, Ed Masry (Albert Finey) untuk memperkerjakannya sebagai file clerk di kantornya. Sebuah kasus tiba-tiba datang dan menarik Brockovich untuk menyelidikinya lebih lanjut, sebuah kasus yang berkaitan dengan sebuah perusahaan energi raksasa yang ‘diduga’ mencemari lingkungan dan membuat beberapa orang mengalami gangguan kesehatan. Tak disangka, kasus ini jauh lebih besar dari yang Brockovich, bahkan Masry, bayangkan. Sebuah kasus yang menyangkut keadilan untuk seluruh penduduk kota. Bisakah Brockovich menangani kasus raksasa ini sementara ia sendiri tidak mempunyai kapabilitas diri di bidang hukum ?

Film ini diarahkan oleh salah satu sutradara yang paling stabil dan produktif walaupun sebentar lagi dikabarkan akan pensiun sebagai sutradara, Steven Soderbergh. Film ini tidak hanya mengantarkan Julia Roberts mendapatkan Oscar setelah dua nominasi sebelumnya namun juga mengantarkan ia sebagai aktris pertama dengan bayaran 20 juta pada masa itu.

Roberts is amazing, this movie owes her so much.

Dengan perannya sebagai single mother yang frustasi dengan tekanan hidup dengan fouled mouth-nya, tidak membuat Roberts kehilangan karisma, warmth dan charm-nya yang membuat penonton ikut frustasi atau kehilangan simpati terhadap karakter Erin Brockovich. Roberts adalah magnet di film ini dan yang lebih utama lagi, magnet itu terus menarik penonton sepanjang durasi film. Beberapa lines yang catchy dalam film disampaikan dengan kekuatan Roberts membuat beberapa moment begitu memorable. Tidak lupa, Roberts juga mendapatkan lawan yang sepadan, seorang Robert Finney yang memerankan Ed Masry, keduannya membangun chemistry yang baik walaupun dalam film ini hubungan antar tokoh ini terkadang tidak stabil. Dengan cerita yang bersifat crowd pleaser dengan nilai plus bahwa cerita dalam film ini adalah true story, membuat sebuah jaminan banyak penonton terkagum-kagum dan akan menyukainya. Hal ini akan menjadi sebuah sisi kompensasi bagi penonton untuk masalah sebuah film yang mengangkat true story, terkadang jalan ceritanya klimaxnya kurang terasa. Dengan tangan dingin dari Soderbergh, film berjalan stabil walaupun terdapat beberapa part film yang mengalami jalan di tempat di sisi storyline-nya. Sisi yang mengganggu adalah sisi hubungan percintaan antara Brockovich dan George (Aaron Eckhart) yang terkesan sangat artificial dalam film dan sedikit mengganggu. Karakter George sepertinya hanya dihadirkan benar-benar sebagai ‘nanny’ agar Brockovich dapat hampir 100 persen berkonsentrasi pada kasus yang manjadi inti cerita, walaupun akhirnya sisi ini menjadi sisi klise dari sebuah kisah nyata.

Trivia

Julia Roberts adalah salah satu artis yang menyabet Academy Award, Golden Globe, Critic Choice Award, SAG, dan BAFTA untu satu peran yang sama. Aktris lainnya adalah Renee Zellweger (Cold Mountain), Reese Witherspoon (Walk The Line), Helen Mirren (The Queen), Jennifer Hudson (Dreamgirls), Kate Winslet (The Reader), Mo’Nique (Precious), Natalie Portman (Black Swan) dan Octavia Spencer (The Help).

Quote

In early movie, Brockovich : Did they teach lawyer to apologize ? Because you suck at it.

In the end of movie, Masry : Did they teach beauty queen to apologize ? Because you suck at it.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Legally Blonde (2001)

Director : Robert Luketic

Writer : Karen McCullah Lutz, Kirsten Smith

Cast : Reese Witherspoon, Luke Wilson, Ali Larter

“Shallow wits, entertaining yet no surprise.”

About

Ditangani oleh tangan debutan Robert Luketic, sutradara yang kebanyakan menggarap genre romcom, film ini bercerita tentang Elle Woods (Reese Witherspoon) yang terpaksa terjun ke sekolah hukum di Harvard hanya untuk mengejar mantan pacarnya. Elle Woods adalah gadis muda kaya yang harus melawan labelling “dumb blonde” dari lingkungan kampusnya. Ketika ia terus dicap bodoh, hanya karena ia blonde, cantik, fashionable, ia menekatkan diri bahwa ia dapat mengatasi apapun, termasuk menjadi mahasiswi hukum yang berprestasi. Ketika ia berhasil mendapatkan sebuah internship, ia dan timnya harus menangani sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan mantan pelatih fitnesnya, Brooke (Ali Carter). Bisakah ia membebaskan Brooke dari tuduhan sementara ia adalah satu-satunya dalam timnya yang mempunyai faith bahwa Brooke sebenarnya tidak bersalah ?

Funny, but everything just come up like it should be. I gotta say Woods isn’t smart blonde, but she’s a lucky blonde.

Ketika sebuah film bergenre komedi dengan hanya seorang leading actor/actress dengan screenplay yang cenderung familiar dan predictable, beban seorang leading actor/actress begitu besar. Dia tidak bisa hanya menampilan sebuah performa yang biasa saja karena penonton sudah jelas tahu cerita akan berjalan kemana. Beginilah yang dialami Reese Witherspoon. Bisa dikatakan Witherspoon berhasil membuat karakter Elle sebagai anti depresan untuk penonton dengan tingkat percaya diri dan keceriannya yang sangat tinggi walaupun Witherspoon hanya mampu meng-cover karakter ini di luarnya saja (but she did the best with the material). Penampilan Witherspoon ini penyelamat bagi “too good too be true” storyline dengan selingan beberapa jokes, scene berlebihan dari ke-feminiman Elle, dan wits yang dangkal dan kurang analytical untuk film legal seperti ini.

Film ini sangat segmented, sebuah chick flick yang akan memuaskan untuk para gadis-gadis remaja yang peduli dengan fashion dan lain sebagainya, namun untuk segmen penonton lain, terutama cowok, film ini hanya akan menjadi film yang terlalu feminin yang tidak menawarkan kedalaman kasus atau witty sides seperti halnya film tema legal seharusnya dan hanya akan berakhir sebagai film komedi biasa yang tidak berkesan.

Trivia

Empat puluh gaya rambut yang berbeda ditunjukkan oleh karakter Elle Woods sepanjang film. Surely, men don’t give a shit about this trivia.

Quote

Woman in boutique : There’s nothing I love better than a dumb blonde with Daddy’s plastic.