Philip Seymour Hoffman

A Most Wanted Man (2014) : Uprightness of Espionage World but It Disperses As Bland As It Becomes

Director : Anton Corbijn

Writer : Andrew Bovell (screenplay), John le Carré (novel) 

Cast : Philip Seymour Hoffman, Rachel McAdams, Daniel Brühl, Grigoriy Dobrygin, Willem Dafoe, Robin Wright

It takes a minnow to catch a barracuda, it takes a barracuda to catch a shark, and the problem is I don’t even like fishing, so I’m gonna use a bomb instead, to catch all of them.

(REVIEW) A Most Wanted Man – feel THAT title ! So intense, so focus, namun inilah hal pertama yang misleading dari film ini, ketika film ini sesungguhnya ingin menyuguhkan gambaran realistis nanggung tentang dunia espionage lengkap dengan birokrasi dan tetek bengek prosedurnya. Dan, jika dicermati kembali A Most Wanted Man sesungguhnya adalah Phillip Seymour Hoffman yang menjadikan film ini sebagai salah satu penampilan terakhir dalam karirnya, selain God’s Pocket dan franchise The Hunger Games.

You know why I like a thriller ? Simple, because it’s thrilling. Sesuatu yang tidak akan didapatkan dari A Most Wanted Man, namun hal itu tak menjadi masalah jika film ini memiliki hal lain yang ditawarkan, sayangnya A Most Wanted Man terlalu ter-disperse ke segala arah, terkonsentrasi pada kegiatan mata-mata yang terlalu mengandalkan diskusi dengan atasan, van dan penjagaan 24/7. Bagusnya, hal otentik tersebut sangat mahal untuk subgenre spy, sebuah film yang berkonsentrasi ke dalam organisasi mereka, ketimbang bergerak keluar mencari target yang biasanya sulit untuk dikejar. Organization’s paranoid dan trust adalah dua hal mahal lainnya yang mencoba dipertunjukkan di sepanjang film.

(more…)

Advertisements

Doubt (2008) : A Snowball Running of No Evidence, No Witness, No Doubt

Director : John Patrick Shanley

Writer : John Patrick Shanley

Cast : Meryl StreepPhilip Seymour HoffmanAmy AdamsViola Davis

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Apa yang bisa menjadi sangat fatal di sebuah lingkungan gereja dan sekolah yang relijius ? Sebuah sisi yang terlihat simple, bahkan kecil, namun sangat krusial. Yeah, film ini memang memiliki misi yang besar dan ambisius, hal ini sudah terlihat pada single word title-nya, yeah, it’s doubt. Sebuah keraguan. Tidak hanya ingin memberikan sebuah gambaran tentang “keraguan”, namun yang paling besar, yang juga merupakan sisi ambisius terbesar dari film ini, film ini menginginkan penonton untuk merasakan sensasi keraguan tersebut.

Sebuah khotbah dari Father Flynn (Philip Seymour Hoffman) langsung mengangkat misi tersebut ke permukaan, dikatakan bahwa keraguan bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, tentu saja hal tersebut bisa dikatakan benar terutama jika kita kaitkan dengan “faith” atau elemen keimanan. Sebuah khotbah yang entah datang dari mana ini memberikan Sister Aloysius (Meryl Streep) sebuah keraguan tentang apa yang sedang dialami oleh Father Flynn, seorang bapa yang mempunyai record tidak begitu bagus di masa lalunya. Ketika seorang sister muda, sister James (Amy Adams) mengatakan bahwa ada indikasi seorang altar boy di”salahgunakan” oleh Father Flynn, Sister Aloysius pun mulai goyah kepercayaannya tentang siapakah Father Flynn sebenarnya. Hal ini pulalh yang membawa Sister Aloysius menyibak misteri keluarga sang altar boy lewat ibunya sendiri (Viola Davis).

“Anchored by rich characters and talented cast, fully detailed and nicely constructed sequence of scenes, this movie SPEAKS all out loud, and the best part is, we remains in DOUBT.”

Karakter Sister Aloysius merupakan sebuah karakter yang kaya, digambarkan sebagai seorang antihero dengan pendekatan antagonistic oleh Meryl Streep, karakter ini memang merupakan magnet utama dari film ini. She’s full of detail to things and people, she’s judgmental, she’s mean, she’s an observant, she’s brave, she’s UNBELIVABLE. Semua karakternya ini tidak selamanya diucapkan dengan kata-kata, namun yang paling menarik lebih digambarkan lewat hal-hal kecil dari lingkungannya. She’s so implied, but she’s so strong in performance, just wow ! Disinilah sebuah karakter fiksi memang menjelma menjadi sebuah karakter yang real, tidak hanya digambarkan lewat gesture, language, accent, ataupun make up and costume, namun lewat aktivitas-aktivitas kecil yang membuat karakter ini menjadi lebih merasuk ke dalam cerita. Being a sister doesn’t mean being an innocent, itulah Sister Aloysius, sempat dikatakan bahwa Sister Aloysius bukanlah seorang sister dari lahir, ia pernah menjadi seorang biasa bahkan seorang istri yang suaminya tidak kembali dari sebuah perang, disinilah sisi “keduniawian” Sister Aloysius mulai tergambarkan.

Easy, not easy character, dua karakter yang terlihat mudah namun juga tidak terlihat mudah adalah Sister James yang merupakan simbolisasi dari sesuatu yang pure, sesuatu yang innocent, dan dengan catatan record filmography seorang Amy Adams, sepertinya karakter seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Begitu pula dengan karakter Father Flynn yang charismatic dan casual oleh Philip Seymour Hoffman. Sisi yang paling menarik dari karakter Philip Seymour Hoffman adalah sisi casual yang juga memberikan elemen “gay-ish” ke dalam karakter begitu ter-implied dalam film, lagi, lagi, catatan record filmography untuk Philip Seymour Hoffman menunjukkan karakter ini bukanlah karakter yang 100% baru untuknya. Truman Capote ? Hmmm.

Untuk Meryl Streep, Amy Adams, dan Philip Seymour Hoffman menampilkan performa yang bisa dikatakan sebanding dan seharusnya ini memang sepertinya bukan sebuah kejutan, namun untuk Viola Davis ? Mendapatkan sebuah nominasi Oscar untuk karakternya yang hanya memiliki screentime terbatas ditambah introduction minimalis karakternya menjadi sebuah prestasi yang luar biasa. Viola Davis untuk beberapa waktu benar-benar mencuri layar dengan penampilannya yang bisa dikatakan sebuah awal dari seorang Aibeleen Clark. Seorang Ibu yang rela menangis, keluar ingus, ketika sesuatu mengancam nasib keluarganya, terutama anaknya. What a stellar scene of her.

Film yang benar-benar ditopang oelh kekuatan screenplay mengolah konflik yang juga ditampilkan oleh para aktornya ini memang membuat setiap interaksi dari karakter film ini menjadi appetizer, main course sekaligus desert. Berikut ini benar-benar “stunning scene” dari sebuah film yang hampir 100 % terdiri dari krusial dan “stunning scene”.

Amy Adams, Meryl Streep, rumour winds, yeah adegan bagaimana Sister James menyampaikan bahwa ada sesuatu antara Father Flynn dan muridnya merupakan sebuah scene penuh yang impressive. Tidak hanya dari akting keduannya yang “belum terlalu menggebu” namun scene ini menjadi sangat krusial yang menerangkan bagaimana sebuah cara komunikasi menjadi sebuah awal dari sebuah bencana. Scene ini terlihat biasa, namun bisa penonton lihat bahwa awal rumor ini disampaikan Sister James kepada Sister Aloysius dengan penuh distraksi dari lingkungan sekitar, dari diganggu tukang kebun, sister lain, sampai seekor kucing, what a “un-show off” scene.

Amy Adams, Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, one room, scene yang mengumpulkan ketiga karakter ini merupakan sebuah scene yang membuat karakter satu dan karakter lain meng-absorb setiap habit dari masing-masing karakter, yang tentu saja sangat krusial dalam film. Habit ini dimulai dari pemilihan lagu sampai kebiasaan meminum teh. Lagi dan lagi, setiap adegan dilakukan dengan begitu detail, sooooo written in detail.

Meryl Streep, Viola Davis, hmm, my favorite, scene ini merupakan bagian twisting dari storyline yang membuat semuannya terlihat lebih jelas, namun dalam waktu yang sama juga membuat segalanya berubah menjadi kabur.

Philip Seymour Hoffman, Meryl Streep, final fight, apa yang terjadi jika salah satu aktor terbaik di generasinya melawan seorang aktris di generasinya ?? It’s more than a “Michael Bay and his boom, boom, boom”. Scene klimax yang akhirnya memenuhi semua keinginan penonton yang menunjukkan sebuah kualitas akting yang setara dengan kaliber aktornya. Just wow, just wow. PRICELESS.

Yang paling dahsyat dari film ini adalah, film ini benar-benar membuat penonton merasakan sensasi “doubt” di setiap adegan yang sangat tertata rapi, terkonstruktif (mungkin efek dari diadaptasi dari sebuah play), penonton seakan-akan ditempatkan selayaknya seorang Sister James yang terombang-ambing oleh mana yang kenyataan, mana yang merupakan sebuah kebohongan, what a ride !

So who’s the sinner ? Are you #TeamSisterAloysius or #TeamFatherFlynn ?

When you take a step to address wrongdoing, you are taking a step away from God, but in his service.

The Hunger Games : Catching Fire (2013) : Sparks of Rebellion, War of Strategy, Quarter Quell, and Survival

Director : Francis Lawrence

Writer : Simon BeaufoyMichael Arndt

Cast :  Jennifer LawrenceJosh HutchersonLiam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Elizabeth Banks, Stanley Tucci, Philip Seymour Hoffman, Sam Claflin, Jena Malone

About

Satu setengah tahun yang lalu The Hunger Games memberikan kejutan dengan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit sekaligus memberikan Jennifer Lawrence global recognition dan menjadikannya sebagai superstar (yeah, walaupun breakthrough performance-nya ada di Winter’s Bone). Diadaptasi dari novel bestseller dengan jalan cerita yang intriguing (yah, walaupun ada yang menyamakan dengan jalan cerita Battle Royale), The Hunger Games menjadi salah satu franchise yang menjanjikan pasca franchise Harry Potter berakhir. Novel young adult memang sedang gemar diadaptasi ke film namun tidak semuannya sukses baik secara kritik ataupun secara komersial. Lihat saja Percy Jackson yang masih harus berjuang (lagi) agar bisa menelurkan sekuel berikutnya, atau The Host yang kurang mendapatkan antusiasme, Beautiful Creatures, dan Mortal Instruments : City of Bones. Yang paling baru dan akan segera dirilis, Divergent dengan komposisi cast yang menggoda. Tidak hanya sembarang, novel young adult yang bercerita tentang kisah asmara, young adult yang disebutkan diatas melibatkan sisi fantasi atau science fiction yang memang sangat digemari anak muda.

Nah The Hunger Games : Catching Fire merupakan salah satu contoh sukses dari adaptasi novel ke film. Keberhasilan film sebelumnya, predikat A-list untuk bintang utamanya serta marketing yang agresif di sepanjang tahun,membuat film ini menjadi salah satu  film yang paling ditunggu di tahun 2013, melengkapi penghujung tahun 2013 yang sepanjang tahunnya ditebari banyak film superhero pemancing pundi-pundi box office.

Ketika Katniss (Jennifer Lawrence) dan Peeta (Josh Hutcherson) pulang dengan selamat dari The Hunger Games ke 74, mereka kini harus melakukan tour ke 12 district dimana keadaan Panem sedang dalam kondisi labil pasca Katniss berhasil mencurangi sistem dengan menggunakan strategi “berry”nya. Melihat situasi yang tidak wajar, president Snow (Donald Sutherland) mengancam Katniss untuk meyakinkan warga Panem tentang kisah cintanya dengan Peetaagarmenjadi distraksi dari district yang menunjukkan indikasi pemberontakan, salah satunya Gale (Liam Hemsworth) yang mulai menunjukkan perlawanan terhadap ketidakadilan Capitol. Masih merasa terancam dengan keberadaan Katniss yang kini menjadi simbol harapan bagi warga Panem, Presiden Snow berkolaborasi dengan gamemaker terbarunya, Plutarch Heavensbee (Phillip Seymour Hoffman) untuk menyelenggarakan Quarter Queel. Quarter Quell sendiri pada intinya adalah The Hunger Games namun diikuti oleh pemenang dari periode selanjutnya, yap it’s all star The Hunger Games. Berbeda dengan pertandingan sebelumnya, Katniss dan Peeta harus berjuang melawan para kontestan terlatih seperti Finnick (Sam Clafin),pemenang The Hunger Games di usia 14 tahun, Johanna (Jena Malone) perempuan agresif, Beete dan Wires peserta yang dinilai paling cerdas, sampai tentu saja kontestan dari District 1 dan District 2 yang terkenal lethal. Dengan design cornucopia yang baru dan lebih mematikan, Katniss dan Peeta tidak mungkin bertahan sendiri, kini mereka harus beraliansi dengan peserta lain untuk dapat bertahan di Quarter Quell.

Berhasilkah mereka ?

This installment makes the previous one like a really “child play”, much better than its predecessor.

Pada awalnya sebenarnya sempat mengalami underestimate ketika mendengar kata “Quarter Quell”. Holy shit, they’re gonna show us sames stuff. Yeah, belum lagi Gary Ross yang kemudian keluar dari projek dan kemudian digantikan oleh Francis Lawrence yang mempunyai Filmography sebelumnya yang tidak terlalu impresive (I am not huge fanof Constantine, even Will Smith’s I am Legend). Untungnya saja, melihat screenwriter yang terlibat dan novel yang ternyata memiliki source story diluar Quarter Quell, membuat Catching Fire masih berada di urutan atas most anticipated movie in 2013. Dan setelh melihatnya sendiri, I gotta say I AM WRONG with all early expectation.

Catching Fire memulai ceritanya dengan begitu faithful dari sumber novelnya, terlihat runtut dan membuat penonton seakan-akan memang sedang membaca novelnya (hal ini menjadi hal yang penting untuk sebuah adaptasi novel ke film, terutama untuk para fans-nya). Jika The Hunger Games langsung terjun ke dalam reaping dan persiapan dari pertandingan mematikan tersebut, awal Catching Fire menunjukkan keadaan Panem (terutama District 12) yang masih saja dingin dan miskin pasca kemenangan Katniss. Catching Fire juga lebih mengeksplor kehidupan cinta Katniss dan Gale di tengah kehidupan palsunya dengan Peeta. Namun, sisi yang paling menarik adalah I gotta say, silent war yang mulai ditebarkan oleh President Snow sebagai karakter antagonist utama yang membuat sekuel ini lebih memiliki intrik dan perang strategi antara kubu Katniss dan Snow. Disinilah banyak hal ajaib terjadi (yeah, ajaib = smart thing).

Sisi menarik yang lain adalah character development yang dialami Katniss pasca The Hunger Games yang kini sedang mengalami trauma, terutama insiden Marvel dan Rue (dua tokoh yang membuat moment penting di film sebelumnya), diperankan pula oleh Jennifer Lawrence, lagi dan lagi, pasca piala Oscar-nya, Katniss versi Catching Fire ini cukup meng-embrace emosi yang terkadang menyentuh sekaligus mulai mengeluarkan sisi “memberontak”-nya, berbeda dengan Katniss versi The Hunger Games yang masih terlihat “shock” dan menerima sistem dari Capitol.

Film yang mempunyai budget dua kali dari film pertamanya ini sangat terlihat dari design Cornucopia yang lebih terlihat seperti hutan buatan dibandingkan dengan designnya pada The Hunger Games yang terlihat seperti hutan sungguhan. Disinilah sedikit sisi negatifnya, walaupun dengan budget lebih sedikit Cornucopia atau arena pertandingan di The Hunger Games lebih memiliki element of surprise and shocking yang bisa dirasakan penonton, maksudnya The Hunger Games terlihat lebih fresh untuk sajian “pertandingan mematikannya” (yah mungkin karena sedikit banyak Catching Fire memang repetisi dari The Hunger Games yang mempunyai premise menarik). Di sisi lain, Catching Fire memiliki sisi kompensasi lewat arena pertandingan yang bisa diakui lebih besar dan lebih canggih, namun yang paling menarik adalah arena ini memiliki teka-teki yang harus dipecahkan oleh para tribute karena menentukan strategi selanjutnya.

“Arena mahal” ini tidak akan disentuh hingga separuh durasi (yep, harus sabar menunggu), karena memang sepertinya film tidak ingin berkonsentrasi lagi pada konflik utama The Hunger Games-nya, inilah yang membedakan installment ini berbeda dari sebelumnya. Catching Fire lebih berkonsentrasi pada awal pemberontakan terhadap Capitol dan awal lahirnya leader mereka, Katniss Everdeen. Quarter Quell juga tidak lagi berkonsentrasi pada kompetisi antar peserta (walaupun konflik tersebut masih ada) namun lebih menunjukkan kerjasama diantara mereka untuk memecahkan “teka-teki” Cornucopia sebagai langkah survival. Buktinya, karakter Gloss, Cashmere, Enobaria dari District 1 dan 2 tidak dikenalkan secara intens selayaknya Cato dan Clove. Penggantinya, karakter lain yang ikut melakukan survival, dan termasuk well chosen cast, Finnick Odair yang berhasil ditampilkan oleh Sam Clafin, dan yang sedikit mencuri perhatian adalah karakter Johanna Mason yang diperankan oleh Jena Malone sebagai gadis pintar, agresif, impulsive, dan tanpa rasa takut.

Film ini diakhiri dengan sebuah adegan cliffhanger yang mungkin saja kurang disukai oleh beberapa orang, namun cliffhanger yang satu ini merupakan cliffhanger positif yang membuat kita puas dengan installment Catching Fire namun juga tidak sabar lagi menunggu installment selanjutnya, Mockingjays.

Intinya Catching Fire sudah tidak lagi berkutat tentang “siapa membunuh siapa” namun lebih bermain dengan adu strategy yang membuat sekuel ini terlihat lebih matang dan berisi. Plus, Francis Lawrence terlihat cukup pandai untuk mengolah film dengan durasi lebih dari dua jam menjadi sebuah sajian film dengan pacing yang enak, sekaligus nyaman untuk dinikmati.

Trivia

Taylor Kitsch sempat dipertimbangkan untuk karakter Finnick, Mia Wasikowaska sempat dipertimbangkan untuk karakter Johanna, serta Melissa Leo sempat dipertimbangkan untuk karakter Mags (mentor Finnick yang juga ikut dalam pertandingan).

Quote

President Snow: The other victors. Because of her, they all pose a threat. Because of her, they all think they’re invisible.

Capote (2005) : A Cold Blooded Writer Is Getting Closer to The Killer

Sutradara : Bennett Miller

Penulis : Dan Futterman

Pemain : Philip Seymour Hoffman, Catherine Keener, Clifton Collins Jr.

“Hoffman’s performances with his gesture, the way he talks as a gay book author could be a good enough reason to watch this movie.”

About

In Cold Bold menjadi salah satu buku yang melambungkan nama penulis Amerika, Truman Capote. Buku ini diangkat menjadi film dengan judul yang sama pada tahun 1967. Ternyata, dalam menulis buku ini Capote mempunyai cerita tersendiri dengan narasumber. Cerita Capote dengan Perry Smith diangkat dalam dua film feature sekaligus berjudul Capote dan Infamous. Film berjudul Capote inilah yang mengantarkan Philip Seymour Hoffman menjadi Best Actor dalam Oscar dan nominasi kedua bagi Catherine Keener yang memerankan sahabat Capote yang juga merupakan penulis sepanjang masa, Nelle Harper Lee.

Sebuah keluarga di Kansas dibantai dengan sadis oleh dua orang criminal, Perry Smith dan Richard Hickock. Ketika keduanya berhasil ditangkap, seorang penulis, Truman Capote berminat untuk menuliskan kisahnya dalam bukunya. Untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan, ia melakukan research dengan mendekati kedua pembunuh ini, terutama Perry Smith, yang menurutnya memiliki sifat lain yang perlu ia ketahui. Capote semakin mendalami material bukunya, tanpa sedikit menghiraukan bahwa kedua pembunuh ini mempunyai harapan yang tinggi akan buku Capote. Capote terjebak dalam situasi rumit ketika ia harus menyelesaikan ending buku dengan mau tidak mau menggali informasi dari Perry Smith atas kejadian malam itu sementara Perry Smith mulai curiga bahwa Capote hanyalah memanfaatkannya tanpa ada niat untuk menolongnya keluar dari penjara.

It’s like really waiting for a book to be made, gay Hoffman and charismatic Keener make it easier to be watched.

Secara alur cerita, film yang menceritakan salah satu fase penting dalam hidup Capote ini bisa dikatakan lamban. Dengan durasi hampir dua jam, penonton akan benar-benar seperti dibuat menunggu sebuah buku untuk dibuat. Ceritanya sendiri akan menimbulkan perasaan simpati kepada Perry Smith yang notabene sebagai tersangka pembunuh ketimbang terhadap tokoh Capote sendiri.  Pada point ini, interpretasi sekilas pada jalan cerita adalah Capote is the real evil here dengan titik dramatis yang hanya terjadi pada endingnya saja.

Namun apakah yang menarik dari film ini ? Tentu saja penampilan leading actornya Philip Seymour Hoffman yang berhasil memerankan seorang penulis buku gay dengan segala gesturenya baik saat ia memegang Koran, memegang gelas sampai dengan cara ia berbaring di kereta. Belum lagi cara bicaranya yang Hoffman manipulasi, titik sensitifitas Capote yang berhasil Hoffman tunjukkan dan sisi kepintaran untuk menjadi ‘bengis’ kepada lawan mainnya. Bisa dikatakan, Hoffman harus total memanipulasi dirinya untuk memerankan karakter Capote dan salah satu karakter Capote dalam film ini adalah memanipulasi dirinya sendiri, so it’s double manipulations for Hoffman. Chemistry sebagai sahabat lama Harper Lee pun ia perankan apik dengan aktris Catherine Keener. Keener sendiri berhasil memerankan Harper Lee yang karismatik sekaligus pintar dengan kualitas acting yang terlihat sangat natural dan effortless sedangkan penampilan Collins Jr sebagai Perry Smith berhasil menarik simpati penonton.

So, what makes this slow movie is so special is Hoffman as completely different human being ‘Truman Capote’.

Trivia

In Cold Blood menjadikan Truman Capote sebagai salah satu pengarang buku paling terkenal di Amerika namun dia tidak pernah bisa menyelesaikan buku yang lainnya.

Quote

Capote : There wasn’t anything I could done to save them.

Harper Lee : Maybe not, the fact is you didn’t want to.