2004

Crash (2004) : Speed of Life, Point of Impact, and There’s No Such Thing as Black and White

Director : Paul Haggis

Writer : Paul Haggis

Cast : Don CheadleSandra BullockThandie Newton, Matt Dillon, Brendan Fraser, Terrence Howard, Ludacris, Michael Peña, Ryan Phillippe, and many more.

About

Jangan kaget ketika melihat poster film ini dan harus diperingatkan bahwa film ini bukanlah film HORROR, yep ! That’s not ghost. Sorry !

But before I make reviews, let’s bullshit first. Pernahkah kita berpikir bahwa tatanan masyarakat yang terdiri dari banyak individu merupakan sebuah tatanan yang saling berkesinambungan dan juga saling berhubungan. Tindakan kita akan mengakibatkan tindakan yang lain, baik dalam intensitas kecil, ataupun intensitas yang mempengaruhi orang banyak.

Banyak baiknya sebuah tindakan memang didasarkan pada standar moral yang berada di dalam masyarakat, standar ini sering kali menjadi biased ketika kaitkan dengan streotype yang menghubungkan suku, warna kulit bahkan agama. Lihat saja, ketika orang berkulit hitam dicap sebagai “ladang kejahatan”, sedangkan orang kulit putih mempunyai citra sendiri, begitu pula dengan orang-orang yang berasal dari Asia, ataupun dari timur tengah. Yeah, disini teory labelling sangat berperan terhadap bagaimana orang akan melakukan tindakan baik ataupun  tindakan buruk (sempert belajar sosiologi saat kuliah). Okay, let’s stop bullshit.

This is my review.

Crash menjadi sorotan ketika film ini memangkan Best Picture di Oscar, bahkan mengalahkan drama Ang Lee, Brokeback Mountain. Film yang dibintangi sejumlah bintang besar seperti Sandra Bullock, Don Cheadle, Terrence Howard, Brendan Fraser ini tergolong minim prestasi di ajang Oscars jika dibandingkan dengan pemenang Best Picture ainnya. Diantara enam nominasinya, film hanya merebut 3 trophy untuk Best Picture, Best Original Screenplay (yang ditulis dan terinspirasi dari sang sutradara, Paul Haggis yang sebelumnya menangani Million Dollar Baby) dan juga Best Editing.

Film ini terdiri dari beberapa cerita terpisah namun mempengaruhi satu sama lain,

–          Seorang detektif, Graham Waters (Don Cheadle) yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan dan mencari adiknya yang hilang.

–          Seorang istri pengacara, Jean Calbot (Sandra Bullock) yang tengah trauma karena dirampok bersamaan dengan suaminya (Brendan Fraser) dan bertindak racist terhadap orang-orang di sekitarnya.

–          Pencuri mobil (Ludacris dan Larenz Tate) yang terus beraksi.

–          Seorang Hispanic (Michael Pena) yangmenggantungkan hidupnya sebagai seorang tukang kunci pintu yang juga harus mengobati trauma anaknya.

–          Keluarga Persia yang baru saja kehilangan tokonya.

–          Pasangan suami istri (Terrence Howard, Thandie Newton) yang baru saja dipermalukan oleh dua orang polisi (Matt Dillon, Ryan Phillippe).

–          Dan yang lainnya.

Effective, well crafted, and surprisingly thoughtful

Apa yang menarik dari film dengan berbagai bintang dan kebanyakan hanya bertindak sebagai supporting role ini (yah sepertinya tidak ada leading role di film ini) karena semua pemain hampir mempunyai durasi yang sama untuk tampil di layar. Film dengan banyak bintang, dan banyak sub cerita sering kali jatuh pada “dangkal”-nya cara bercerita karena terbatasan durasi sehingga membuat masing-masing dari sub cerita menjadi nanggung atau setengah-setengah. Namun sepertinya, sang sutradara, yang juga menulis naskah tahu benar bagaimana membuat film ini menjadi efektif dengan berbagai keterbatasan yang ada. Film ini menampilkan beberapa fragment-fragment terpisah dari masing-masing tokoh yang sering kali kita jumpai sehari-hari (ya, tidak lumrah si) seperti perampokan mobil, pembunuhan, cekcok polisi, cekcok antara pemilik rumah dengan tukang yang suka memperbaiki benda di rumah, dan sebagainya. Semuannya ketika kita telusuri memiliki satu benang merah, yaitu permasalahan ini menjadi blurred karena ada issue rasial di dalamnya, yah entah stereotype terhadap warna kulit, suku, atau sebagainya.

Dengan banyaknya substory yang dihadirkan maka tugas yang sangat berat untuk dapat menyatukan semua cerita tersebut sehingga tidak terkesan saling berpisah dalam satu film, yah inilah tugas berat departemen editing yang ternyata secara sempurna mengeksekusi tiap fragmen ini menjadi satu film yang kompleks, terdiri dari banyak karakter, tanpa membuat bingung dari para penontonnya, tentu saja tugas editing ini dibantu juga oleh sebuah screenplay yang mumpuni.

Berbicara tentang issue rasial, yah walaupun kita hidup Indonesia yang notabene tidak terlalu di blow-up masalah seperti ini (khususnya untuk warna kulit), namun sama sekali tidak mengurangi kita untuk lebih terlibat pada scene-scene awal yang menghadirkan konflik dan pengenalan karakter. Kita melihatnya seperti bagian kehidupan sehari-hari selayaknya potret masyarakat. Disinilah, pikiran penonton mulai dibentuk mengenai siapakah yang baik, atau siapakah yang jahat. Siapa yang baik kebanyakan diwakili oleh para warga kulit putih yang menjadi korban sedangkan karakter warga kulit hitam sebaliknya. Pada awal film, filmmaker ingin menunjukkan siapakah antagonist dan siapakah protagonistnya dan membiarkan penonton untuk menjadi judge.

Ketika penonton mulai membentuk pikirannya, disinilah tagline “There’s no such thing as black and white” mulai bekerja. Cerita dirubah dengan memutarbalikkan setiap karakter dan menyatakan bahwa setiap karakter, tidak peduli apakah dia putih ataupun dia hitam, dia bisa melakukan apa saja, kebaikan atau kejahatan. Dan judgement kita dari para karakter di awal hanyalah judgement dari penampilan awal saja. Setiap momentum menjadi moment yang penting untuk setiap karakter dimana unsur luck, unsur misteri alam semesta, unsur banyak hal banyak ditambahkan disini. Moment-moment final dari para karakter inilah yang menjadi sajian akhir yang memuaskan sekaligus breathtaking dan thoughtful bagi siapa saja yang melihatnya.

Permasalahan untuk film berjenis seperti ini tentu saja character development yang sebatas “click” berubah seperti jentikan jari, kurangnya penetrasi mengapa sebuah karakter bisa mengalami perubahan, namun untung saja karakter didukung oleh cast yang cukup kuat sehingga karaktermasih terasa intens untuk disimak. Disini karakter yang paling kuat diampu oleh Thandy Newton yang berhasil melakukan tugasnya secara baik sebagai seorang istri yang dipermalukan di depan suaminya sendiri, Bullock is good but not special, Ludacris is mediocre, I do not see something from Don Cheadle, I like Terence Howard, Persian family is good, Matt Dillon, yeah, he can act as two sides of coins (bad guy good guy).

Salah satu sisi yang mungkin akan membuat penonton serasa terjawab pertanyaannya adalah ketika unsur “interwoven” dalam cerita mulai dihadirkan. Bagaimana satu karakter kemudian mempengaruhi karakter yang lain, kemudian yang lainnya lagi membuat benar-benar tatanan masyarakat kita memang saling terhubung satu sama lain.

Crash mempunyai message dan juga unggul dalam storytelling-nya yang mampu mengatasi “banyaknya karakter, banyaknya substory” yang harus dirangkum dalam durasi 2 jam, that’s an achievement, itu sebuah prestasi. Namun untuk mengganjar film ini menjadi sebuah BEST PICTURE yang mengalahkan Brokeback Mountain, hmm that is question, yah walaupun memang di akhir film ini film ini memang sedikit terkesan “crowd pleaser” dan menghindari ending yang berujung tragedi. Yah, personally I like it, but Best Picture ??? Really ??? I have seen better.

Trivia

Difilm ini, Sandra Bullock hanya tampil sekitar 6 menit.

Quote

Graham : It’s the sense of touch. In any real city, you walk, you know? You brush past people, people bump into you. In L.A., nobody touches you. We’re always behind this metal and glass. I think we miss that touch so much, that we crash into each other, just so we can feel something.

Advertisements

I Heart Huckabees (2004) : Existential Comedy About Coincidence Dismantling and Universe

Director : David O. Russell

Writer : David O. Russell, Jeff Baena

Cast : Jason SchwartzmanJude LawNaomi Watts, Isabelle Huppert, Mark Wahlberg, Dustin Hoffman

About

Yah, berbicara tentang David O Russel, pastinya tidak akan lepas dengan komedi moving yang diwakili penampilan top notch dari para aktor aktrisnya. Paling tidak untuk dua karya terakhir Russel, hampir jajaran aktornya mendapatkan nominasi Oscar, begitu pula dengan perannya sebagai screenwriter maupun sutradara. Sementara menunggu karaya Russel yang lain, yang dipenuhin banyak bintang, yang belum tayang namun sudah menjadi prediksi Oscar, American Hustle di bulan Desember nanti, film inilah yang menjadi karya Russel sebelum drama boxing, The Fighter.

I Heart Huckabees, dari judulnya saja sudah imut, lucu, ditambah dengan banyaknya jajaran aktor mulai dari yang tua sampai muda, tidak heran jika I Heart Huckabees menjadi salah satu film yang mempunyai “magnet” ditonton. Jika Silver Linings Playbook bermain dengan “signs”, terapi, superstitious, I Heart Huckabees mempunyai jalan cerita yang tidak kalah unik.

I Heart Huckabees diawali dengan Albert (Jason Schwartzman) yang bekerja di sebuah koalisi yang mendukung public open space. Posisinya sebagai seorang leader di koalisi tersebut mulai tergeser dengan kharisma Brad (Jude Law), yang merupakan perwakilan executive dari Huckabees yang notabene akan menggusur banyak open space menjadi sebuah gedung. Di selang kebingungannya, Albert menyewa dua detektif aneh, Bernard (Dustin Hoffman) dan juga Vivian (Isabelle Huppert) untuk menyelidiki kejadian “coincidence” dalam hidupnya. Dalam salah satu sesinya, ia bertemu dengan firefighter yang menentang penggunaan bahan bakar minyak, Tommy (Mark Wahlberg). Sementara investigasi berjalan, semua karakter di film ini mulai mempertanyakan “siapakah diri mereka” di tengah susunan universe ini ? WHAT THE HELL, RIGHT ? I KNOW IT’S COMPLEX.

“I heart fuck-abees. Why am I watching this ? (That’s the biggest question, when I was watching it.)”

Jika dilihat dari jalan ceritanya, film ini layak mendapatkan predikat original. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sbjek yang terlalu absurd dan juga membingungkan membuat penonton bertanya, “Apakah film ini akan benar-benar memberikan payoff di akhir film, di film yang mempunyai durasi lebih dari dua jam ini ?”

Terlintas mungkin screenplay ini sedikit mirip-mirip dengan screenplay gaya Charlie Kaufman yang sering dikombinasikan dengan elemen super strange, namun unik dan memberikan kejutan di akhir. Namun tidak, I Heart Huckabees lebih mirip observasi atau percobaan tentang karakter-karakter di dalamnya, yang sangat susah untuk diikuti (dari jalan cerita). Cerita melibatkan banyak karakter dan juga melibatkan banyak pendekatan, dan kata-kata absurd membuat komedi ini sangat asing. Film ini membangun cerita melalui karakter-karakter ekstrem para pemainnya, seperti pecinta lingkungan, seorang brand ambassador (atau semacamnya) yang mempertanyakan kecantikannya, seorang pemadam kebakaran yang anti penggunaan bahan bakar, plus para detektif aneh. Salah satu karakter yang paling real adalah karakter Jude Law sebagai seorang executive manipulatif yang mempunyai dua sisi, untuk korporasinya, dan juga untuk koalisinya. Hanya itu. Yang lain, karakter ini bertindak dan berpikir diatas “pemikiran” nalar manusia.

Beruntunglah pacing dalam film ini cukup cepat sehingga film ini masih dinikmati (namun kurang bisa untuk diikuti.) Film yang benar-benar ditopang cast-nya ini cukup membantu ketika mereka bisa menopang karakter karakter tidak lazim dengan atraktif, terutama penampilan Isabelle Hupert yang menarik perhatian.

Film yang memperdebatkan antara “dunia ini saling terhubung” versus “dunia ini merupakan susunan random” nyatanya kurang terjawab di akhir film. Mungkin film ini akan sangat cocok dengan mereka yang memahami tentang filosofi atau pembelajaran karakter, namun I Heart Huckabees is too weird, too strange, unexplainable, and I don’t know what it means, not for me, just not for me.

Walaupun begitu, film ini paling tidak memberikan satu indikasi bahwa Russel adalah sutradara yang mumpuni, dengan tema yang sama sekali tidak familiar, dan bisa dikatakan sangat aneh, sangat susah untuk disampaikan, film ini mampu berjalan selama 2 jam, tanpa terlalu menyiksa penonton. Yah, sekali lagi, thanks to its cast.

Trivia

Film debut untuk aktor Jonah Hill, dia mendapatkan sedikit peran kecil disini (I thought it’s cameo).

Quote

(first line) Albert Markovski         : Mother-fucking, cocksucker, mother-fucking, shit-fucker, what am I doing? (sounds promising, right ?)

Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) : Odd Brain Procedure for Every Hearthache

Director : Michel Gondry

Writer : Charlie Kaufman, Pierre Bismuth,  Michel Gondry

Cast :  Jim CarreyKate WinsletTom Wilkinson, Elijah Wood, Mark Ruffalo, Kirsten Dunst

About

Romantic science fiction, film ini tidak muluk-muluk menghadirkan hal-hal yang terlewat aneh, hanya menghadirkan cerita tentang sebuah prosedur penghapusan ingatan. Clementine (Kate Winslet) adalah perempuan atraktif, pandai walaupun sering merasa insecure dan bosan terhadap suatu keadaan. Joel Barish (Jim Carrey) adalah laki-laki yang sulit bergaul dengan lingkungan. Keduannya menjalin sebuah hubungan, dinamika hubungan pun telah mereka lalui, termasuk memutuskannya. Suatu hari, Joel menemukan semacam kartu yang menyatakan bahwa dia tidak boleh menghubungi atau menemui Clementine karena Clementine telah menghapus semua ingatan tentangnya. Dengan kebingungan, disertai kemarahan, Joel menghubungi perusahaan yang sama untuk menghapuskan ingatan tentang Clementine di otaknya, namun sepertinya suatu hubungan tidak hanya berada di otak, namun (mungkin) juga di hati. You may erase someone from your mind . Getting them out of your heart is another story.

Film ini meraih Academy Awards for Best Original Screenplay untuk Charlie Kaufman, dan nominasi Oscars lainnya untuk penampilan eksentrik Kate Winslet. Dengan ceritanya yang berbeda dan original, film ini banyak masuk dalam daftar list sebagai film terbaik sepanjang masa.

Based on almost everyone’s general experience, this movie gives us ingenious geniunity, which makes it as one of my favorite movies all the time.

Inilah salah satu kelebihan dari film ini, film ini dapat mentransformasikan hal-hal yang bersifat umum dan sering dialami oleh siapa saja menjadi sesuatu yang spesial dan menyentuh. Pernahkah saat kita sedang patah hati kemudian ingin melupakan atau menghapus kenangan akan seseorang ? Siapa yang belum pernah mengalaminya ? Dengan based on real feeling inilah, film ini akan mempunyai efek jangka panjang bagi siapa saja yang baru menontonnya. Film ini seperti benar-benar diciptakan untuk mengerti.

Penampilan Winslet disini adalah salah satu penampilannya yang terbaik, impulsive, attractive, emosional, insecure dan foul-mouthed. Dengan warna rambutnya yang senantiasa berubah-ubah, penampilan Winslet mampu bersinergi dengan keatraktifan konyol dari Jim Carey. They are one of the best couples on screen, yeah, it’s true. Dengan kekuatan akting mereka berdua, mereka mampu menyuguhkan suatu dinamika hubungan dengan pengembangan karakter yang dapat dilihat secara signifikan.

Jika menyukai karya-karya Charlie Kaufman, pastinya akan mendapatkan suatu twist kejutan. Film ini tidak hanya melulu tentang Clementine dan Joel. Namun, karakter-karakter pembantu seperti Harold (Tom Wilkinson), Mary (Kristen Dunst), Stan (Mark Ruffalo) dan Patrick (Elijah Woods) yang di awal film sepertinya tidak akan memberikan sumbangsih berarti di cerita malah langsung memberikan kejutan substory yang kemudian berkaitan erat dengan dua karakter utama. All characters are getting involved.

Visual dan editing juga menjadi daya tarik film ini. Teknik kamera, bahkan pencahayaan, yang tidak biasa membuat visualisasi dari sebuah memori ini menjadi sangat menarik untuk dilihat. Editing yang rapi, walaupun plot-nya sering meloncat-loncat, juga detail-detail yang sangat mengejutkan membuat film ini terasa nyata walaupun mengambil set produksi yang strange dan tidak biasa.

Trivia

Rambut Clementine yang berubah-ubah warnanya membantu penonton untuk mengikuti kronologis dan dinamika hubungan Clementine-Joel.

Quote

Mary : How happy is the blameless vestal’s lot ! The world forgetting, by the world forgot. Eternal sunshine of the spotless mind ! Each pray’r accepted, and each wish resign’d.

Closer (2004) : Two Couples, One Affair about A New Perspective of Relationship

Director : Mike Nichols

Screenwriter : Patrick Marber

Cast : Julia Roberts, Jude Law, Clive Owen,  Natalie Portman

Tagline : If you believe in love at first sight, you never stop looking.

“Look closer and you will be surprised.”

About

Alice, diperankan Natalie Portman bertemu dengan Dan, diperankan Jude Law, kemudian menjalani hubungan percintaan. Dengan bantuan yang tidak disengaja oleh Dan, Anna, diperankan Julia Roberts bertemu dengan Larry, diperankan Clive Owen juga menjalin percintaan. Masalah datang ketika Dan dan Anna memutuskan untuk meninggalkan pasangan mereka masing-masing untuk menjalin sebuah hubungan baru. Konflik pun dimulai, kejutan pun bermunculan tentang naik-turunnya hubungan mereka berempat.

It’s different level of romantic drama

Sebuah grafik tentang sebuah hubungan percintaan berhasil digambarkan dalam film ini. Dengan durasi yang relatif singkat, film ini mampu memberikan perjalanan hubungan dari tahap bertemu, tahap konflik hingga tahap akhir dengan baik. Rentetan scene-nya pun meloncat dengan periode waktu yang relatif lama dan hanya melibatkan dua karakter (diantara 4 pilar aktornya) untuk berinteraksi dengan dialog-dialog pintar dan mempunyai makna di setiap line-nya. Hasilnya, luar biasa. Tentu saja, tanpa didukung dengn chemistry masing-masing karakter, film ini benar-benar akan menjadi bloody mess. Dialognya panjaaaaaang, namun dengan penjiwaan dan totalitas pemainnya (terutama Natalie Portman), semuanya sangat menjadi easy-watching untuk penontonnya.

Sebuah perjalanan hubungan yang benar-benar penuh kejutan dari pengembangan cerita lewat karakter yang mengambil keputusan yang mengejutkan. Karakter Alice benar-benar mencuri di setiap kehadirannya, seorang gadis misterius dengan kepandaian bicaranya dan keseksian dari sisi erotis seorang stripper (kapan lagi melihat Natalie Portman sebagai seorang stripper ?) sedangkan karakter Larry benar-benar menjadi Dr. Pervert penuh charm di film ini.  Kehadiran Julia Roberts dan Jude Law yang seharusnya menjadi leading role tetap bersinar, namun sepertinya keduannya tertutup oleh kedua pendamping supproting actor dan actressnya. Walaupun terkesan mengambil cerita yang simple, namun ceritanya sesungguhnya benar-benar memerlukan waktu untuk mencerna dan sedikit thought provoking. Mengapa dia melakukan ini ? Mengapa jadi begini ? dan mengapa film ini bisa dikatakan sebagai cerita tragedi ? Film inilah yang akan membuat penonton ingin melihat lebih dekat, lebih dekat lagi tentang sebuah hubungan, kemudian terkejut. Just look closer !

Trivia

Nama Alice Ayres (karakter yang dimainkan oleh Natalie Portman) diambil dari nama seorang perwat yang meninggal karena menyelamatkan anak-anak yang terjebak di sebuah kebakaran.

Quote

Alice : It’s a lie. It’s bunch of sad strangers photographed beautifully and all glittering assholes who appreciate art say it’s beautiful because that’s what they want to see but people in the photos are sad and alone but the pictures makes the world seem beautiful so the exhibition’s reassuring, which makes it a lie and everyone loves big, fat lie.