Chris Cooper

The Amazing Spider-Man 2 (2014) Lost Its Catch, Turned It into Unspectacular Spectacle Blackout Installment

Director : Marc Webb 

Writer : Alex KurtzmanRoberto Orci

Cast : Andrew GarfieldEmma StoneJamie FoxxDane DeHaanFelicity JonesPaul GiamattiB.J. Novak, and Sally FieldChris Cooper

(REVIEW) Spidey time ! Sudah lima installment paling tidak franchise dari Spiderman ini. Spiderman pertama merupakan spidey yang paling klasik, Spiderman dua adalah yang terbaik, Spiderman tiga adalah yang overrated (even with “now” rating), Spiderman pertama dari Marc Webb adalah repetisi dan renewal dalam waktu yang bersamaan, dan bagaimana dengan yang satu ini ?

You’re Spider-Man, and I love that. But I love Peter Parker more. – Gwen Stacy

(more…)

Advertisements

August : Osage County (2013) : The Ugly Truth of “Breaking The Plate – Cursing Like Sailor” Dysfunctional Family

Director : John Wells

Writer : Tracy Letts

Cast : Meryl Streep, Julia Roberts, Chris Cooper, Ewan McGregor, Dermot Mulroney, Julianne Nicholson, Juliette Lewis, Abigail Breslin, Benedict Cumberbatch, Margo Martindale

About

Ketika trailer film ini dirilis, menyertakan dialog-dialog yang lucu, beberapa karakter dalam scene tertawa, sempat terlintas, oh this is gonna be good. Maybe depressing yet heartwarming. Konsep dari film ini sangat menarik, sangat sangat menarik. Diangkat dari sebuah play tentang sebuah keluarga besar yang terdiri dari karakter kompleks, kemudian keluarga ini mempunyai banyak konflik dan misteri untuk diangkat. Yeah, dirilis pada waktu-waktu award season, film ini dibintangi banyak bintang yang sudah award-friendly, dinominasikan dimana-mana, tidak hanya aktor satu generasi saja, namun berbagai generasi terlibat di film ini.

PULITZER WINNING PLAY ADAPTATION + HIGH CALIBER ACTORS = IT SHOULD BE HEAVEN, RIGHT ?

Film diawali dengan menguatkan sisi poetic tentang “life is long” oleh seorang pemuisi yang hidup bersama istrinya yang kecanduan obat-obatan, Violet (Meryl Streep). Ketika sang pemuisi tiba-tiba menghilang, Ivy (Julianne Nicholson) memanggil saudari-saudarinya yang berada di luar kota dan jarang pulang. Yeah, mereka adalah Barbara (Julia Roberts) beserta anak perempuannya Jean (Abigail Breslin) dan suaminya Bill (Ewan McGregor). Datang pula untuk menghibur bibi mereka (Margo Martindale), beserta suaminya Charles Aiken (Chris Cooper). Ketika datang kabar buruk bahwa sang poetic ditemukan meninggal, funeral pun menyatukan kembali anggota keluarga yang lain, Karen (Juliette Lewis) dan tunangannya (Dermot Mulroney). Plus Little Charles Aiken (Benedict Cumberbatch).

“A lot of negativities that I can’t handle.”

Film ini merupakan film tentang sebuah keluarga dan dilihat dari sebuah kacamata negatif. Okay, dengan bakat-bakat terutama Meryl Streep dan Julia Roberts yang memiliki pesona bisa mengubah sebuah negatif menjadi sebuah positif (dalam artian berbagai unlikeable role bisa mereka lewati dengan charm mereka sendiri), ekspektasi awal adalah film ini akan sangat “menyenangkan”. Luckily, it didn’t happen. Dikemas dengan sangat “dark”, film ini mulai mengupas lapisan demi lapisan dengan sangat pelan dan menyerang penonton dengan berbagai sisi negatif dari keluarga ini. Blaming. Cursing. Confessing the ugly truth. Even almost incest-ing. Yuck ! Where’s the light ?

Luckily, the light is the cast. Yeah, mau tidak mau film dengan banyak bintang memang selalu mengundang selera. Okay, let’s talk about them.

Meryl Streep, incorrigible drug addict, memberikan penampilan yang oke, namun bukan penampilan terbaik dari Meryl Streep. Di film ini, karakter Violet seperti membawa shotgun yang menyerang siapa saja. Yeah, sedikit banyak peran ini mengingatkan perannya di film Doubt, namun dengan sisi “insulting” yang lebih tidak terarah. Oscar nomination ? I don’t think so. This is my least favorite role of hers.  Walaupun begitu karakter Violet yang memimpin film ini pun terasa sangat menarik, an ugly character. Karakter Violet ini sepertinya me-reveal bagaimana sebuah karakter dipengaruhi oleh masa lalu yang keras, karakter ini pula memiliki “perspektif” yang berbeda di bandingkan dengan generasi yang berbeda.

Julia Roberts, there will be no more sweetheart. Dari semua karakter di film, karakter Barbara merupakan karakter yang paling dark, namun ada sisi yang bertolak belakang. Yeah, RESPONSIBILITY. Karakter Roberts ini sangat menarik. Dia memiliki responsibility, dia ingin mengampu tanggung jawabnya itu, namun tentu saja dengan caranya sendiri. Termasuk dengan ngomong kasar disana-sini. I like her when she curse like a sailor. Tidak ada lagi sisi “charming” dari Julia Roberts, jadi sepertinya ia berhasil memerankan peran Barbara ini. Peran yang cukup “berhasil” adalah Juliette Lewis (berperan sebagai anak perempuan yang sepertinya “kurang difavoritkan” oleh orang tuannya dan memilih mempunyai kebahagiaan sesuai versinya sendiri), Benedict Cumberbatch (berperan sebagai anak yang dianggap gagal, loser, kurang memiliki prospek), dan juga Margo Martindale (bibi yang memiliki rahasianya tersendiri dan atraktif di usianya yang sudah tua).  Aktor / aktris yang lainnya memberikan penampilan yang biasa saja, oh yeah, I am little bit impressed with Julianne Nicholson.

Film yang diawali dengan kata-kata “life is long” ini benar-benar menjadi film yang terasa panjang dengan pemandangan Oklahoma yang terasa panas. Dengan pemandangan panas di luar, pemandangan gloomy di dalam, konflik, semua orang teriak di setiap scene, finally it EXPLODES.

August : Osage County memberikan gambaran sebuah keluarga besar yang penuh dengan sisi negatif tanpa memberikan gambaran sedikit pun tentang sisi baik yang pernah keluarga ini pernah lewati. Terasa realistis namun menjadi kurang seimbang. Film ini terasa intens, terasa destructive setiap saat tanpa memberikan sebuah “jalan keluar” yang fair. Ketika satu karakter terlibat sebuah masalah, kemudian mereka keluar rumah dan meninggalkan Oklahoma begitu saja. Depressing. Dysfunctional. Hateful. Entah terpengaruh karena merupakan adaptasi dari sebuah play atau apa, dialog-dialog ini seperti bukan seperti sebuah keluarga. Too dialogue-y, bahkan di satu scene saat dinner mempertemukan semua karakter, involvement masing-masing karakter ke karakter yang lain seperti kurang.

Yeah sisi baiknya, kita dapat melihat berbagai scene EXPLODES ini diperankan oleh first rate actress-es. Perkelahian antara Roberts dan juga Streep adalah scene terbaik di film ini. Yeah, nice fight, girls.

Intinya, film ini memuat hal-hal yang “negatif” dikemas dengan tone yang begitu gelap, no resolution, terlalu terpaku pada dialog masing-masing, and *Hirosima Nagasaki nuclear bombs explodes*. Film ini pada akhirnya meninggalkan penonton begitu saja.

Trivia

Chloe Grace Moretz ikut audisi untuk peran Jane, namun Abigail Breslin yang mendapatkannya. Oh poor Moretz.

Quote

Barbara : Eat your fish, bitch !

Adaptation. (2002) : Kaufman Drew Himself In Multi Layer Screenplay

Sutradara : Spike Jonze

Penulis : Charlie Kaufman, Donald Kaufman

Pemain :  Nicolas CageMeryl Streep, Chris Cooper, Cara Seymour

“Charlie Kaufman is goddamn good, he got style.”

About

The Orchid Thief merupakan buku nonfksi yang ditulis oleh Susan Orleans, diperankan Meryl Streep, menceritakan tentang seorang pencuri anggrek yang mengambil anggrek di sebuah suaka, Laroche, diperankan oleh Chris Cooper. Gaya bahasa dan penggambaran rasa Orleans saat menulis buku ini membuat buku ini akan diadaptasi dalam sebuah film. Charlie Kaufman, diperankan Nicholas Cage, ditugaskan untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Masalahnya adalah bagaimana sebuah buku tanpa konflik, tanpa klimaks harus diadaptasi ke dalam sebuah film ? Charlie Kaufman  berkepribadian introvert berambisi menghasilkan suatu screenplay yang luar biasa tentang bunga walaupun ia sendiri mengalami kesulitan untuk melakukan research tentang Susan Orleans. Disinilah, Donald Kaufman, saudara kembarnya, tentu saja juga diperankan Nicholas Cage, membantu Charlie untuk melakukan eksplorasi mendalam tentang Susan Orleans yang ternyata menguak rahasia penulis akan buku tersebut.

Fil ini dibintangi tiga trio langganan award, Nicholas Cage, Meryl Streep dan Chris Cooper yang berhasil menyabet Oscar untuk peran Larochenya, serta bintang-bintang terkenal lainnya seperty Tilda Swinton, Judy Greer, Cara Seymour , Maggie Gyllenhaal serta cameo Katherine Keener, John Cusack, David O. Russel, John Malkovich serta sang sutradara sendiri, Spike Jonze.

You’ll be mesmerized in the end

Di awal film, ketika Kaufman bermonolog dengan latar belakang hitam, kita langsung tahu bahwa screenplay yang digunakan dalam film ini akan luar biasa. Sepanjang film diselingi dengan courtesy-courtesy tentang alam seperti kehidupan di purba kala, indahnya bunga anggrek bermekaran sampai Charles Darwin yang diperankan oleh actor. Courtesy ini erkesan tidak terpisah dengan keseluruhan drama dan malah menambah keindahan dari film ini sendiri. Alurnya pun dibuat melncat-loncat dengan frekuensi yang banyak. Kebanyakan alur dibuat menjadi dua bagian yaitu proses Susan Orleans berinteraksi dengan Laroche saat pembuatan buku The Orchid Thief dan writer’s block yang dialami Charlie Kaufman saat mengadaptasinya.  Walaupun sering membuat kebingungan di awal scene, namun alur yang meloncat-loncat ini tidak mengganggu sama sekali malah film jadi terasa sangat dinamik.

Penampilan Nicholas Cage, Meryl Streep dan Chris Cooper tidak bisa disangkal lagi, it’s top notch cast. Dimulai dari penampilan Nicholas Cage yang akan mengobati kerinduan fans terhadap ‘penampilan’ Cage sebenarnya karena akhir-akhir ini Cage sering terlibat film namun minus kualitas (let’s say Stolen yang ada karena euphoria Taken 2). Cage menampilkan dua sisi berlainan dari kepribadian super introvert, master plan tapi minus action, perfeksionis dari Charlie Kaufman sendiri dan kepribadian supel, lebih easy going dalam menulis dari Donald Kaufman. Keduanya mampu dicover oleh Nicholas Cage. Mery Streep shines as always merupakan kepribadian yang terperangkap dan mengharapkan suat perubahan dalam hidupnya sedangkan Chris Cooper sebagai kepribadian yang unik, tidak konsisten dalam hobinya, punya obsesi terhadap ibunya dan mempunyai masa lalu yang kelam juga bisa dimainkan olehnya.

Film semi autobiography ini terbagi menjadi dua, yakni pengalaman nyata Charlie Kaufman yang mengalami writer’s block dalam mengadaptasi novel dan bagian fiksi yang ditaruh di ending film ini yang menjadikan film ini punya alur bertwist dan mempunyai ending yang super. Film yang tadinya di paruh pertama diduga hanya akan menjadi film yang biasa menjadi sangat luar biasa di paruh kedua. Film ini diibaratkan dengan “Audiences know what they’ll get but the writer gives the audience MORE.” In the end, you’ll just say, “Charlie Kaufman is fucking ingenious.”

Trivia

Donald Kaufman menjadi orang fiksi pertama yang dinominasikan dalam Oscar dan di akhir film terdapat dedikasi yang ditujukan kepadanya. You see ? How creative a Charlie Kaufman is ?

Quote

Robert Mckee : Nothing happens in the world? Are you out of your fucking mind? People are murdered every day. There’s genocide, war, corruption. Every fucking day, somewhere in the world, somebody sacrifices his life to save someone else. Every fucking day, someone, somewhere takes a conscious decision to destroy someone else. People find love, people lose it. For Christ’s sake, a child watches her mother beaten to death on the steps of a church. Someone goes hungry. Somebody else betrays his best friend for a woman. If you can’t find that stuff in life, then you, my friend, don’t know crap about life! And why the fuck are you wasting my two precious hours with your movie? I don’t have any use for it! I don’t have any bloody use for it!