Dermot Mulroney

Extraordinary Charm of Its Leading Lady : My Best Friend’s Wedding (1997) or There’s Something About Mary (1998)

Okay, I am craving for comedy, so I watched some old movies which really capable to trigger my laugh.

Director : P.J. Hogan
Writer : Ronald Bass
Cast : Julia Roberts, Dermot Mulroney, Cameron Diaz

Siapa yang menyangkal pesona dari seorang Julia Roberts ? Yeah, American sweetheart peraih Oscar yang tahun ini juga dinominasikan untuk perannya di August : Osage County. Mungkin, terkenal sebagai seorang pretty woman, komedi sudah seperti makanan sehari-hari untuk Julia Roberts. My Best Friend’s Wedding bercerita tentang Jules (Julia Roberts), yang memiliki misi untuk menghancurkan pernikahan sahabatnya sendiri, Mike (Dermott Mulroney). Jules dan Mike adalah sepasang sahabat yang sudah tahu luar dalam, mereka juga pernah menjalin kisah cinta walaupun tidak berhasil. Masalahnya satu, sifat Jules yang terlalu lempeng dengan basa-basi cinta, kadang membuatnya tidak bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan terhadap Mike. Ketika Mike menemukan seseorang yang mampu mengekspresikan cintanya dengan sangat jujur (plus dia cantik, dan kaya, dan menerima Mike apa adanya), Kimmy (Cameron Diaz). Jules sadar bahwa ia benar-benar mencintai Mike, dan ia hanya mempunyai beberapa hari untuk menggagalkan pernikahan Mike dan Kimmy, termasuk melakukan manipulasi sampai usaha untuk menghancurkan image Kimmy.

“Julia Roberts plus THAT curly hair ? Okay, I won’t complain.”

Yeah film ini merupakan film yang menggabungkan unsur comedy dan unsur romantis, tidak salah lagi dengan apa yang kita sebut dengan rom-com. Sama seperti rom-com pada umumnya, film ini menghadirkan cerita yang mudah ditebak, jokes-jokes ringan (yang kadang garing), namun satu yang tidak bisa didapat pada rom-com pada umumnya. Yeah, Julia Roberts. Jika biasanya rom-com diisi dengan karakter generic yang terlalu umum untuk menjadi sebuah karakter yang real. Film ini benar-benar mendapatkan keuntungan dari performance Julia Roberts. Tidak terlalu spesial memang, namun jika ini Julia Roberts, maka penampilannya menjadi spesial.
Jules bukanlah karakter yang menyenangkan. Dia ambisius. Dia menghalalkan segala cara. Namun, ketika Julia Roberts yang memerankannya, it’s hard not to fall for her. Yeah, dengan segala kebengisan Jules, penonton selalu dibuat memihak kepada karakter ini, ketimbang karakter Kimmy, yang juga dibawakan dengan sangat “flawless irritating” oleh Cameron Diaz. Point ini menjadi sangat penting. Point ini membuktikan bagaimana Julia Roberts memang layak dinobatkan sebagai salah satu American Sweetheart. Tidak peduli bagaimana tercelanya karakternya, sebuah hal yang sangat susah untuk tidak peduli/rooting terhadap karakternya.
Scene stealing dilakukan oleh Rupert Everett, yang memerankan sebagai “love consultant” dari karakter Jules, yang juga seorang gay, dan harus berpura-pura untuk menjadi tunangan Jules. Yeah, because he’s gay, so there will be some singing moments.

SPOILER
Doesn’t care with such happy ending. Life is about compromise. Yeah, another surprise for this movie. Terlihat seperti sebuah kejadian tidak real ketika Julia Roberts (I gotta say, JULAI ROBERTS) ditolak oleh seorang laki-laki. SOME POIGNANT MOMENTS, yeah it is. Julia Roberts kerap kali menghadirkan moment-moment menyedihkan sekaligus miris, yang memperlihatkan aktris yang satu ini terlihat seperti, uhm, let’s say the fungus that feeds on pond scum. Oh, that is horrible.

Yep, film ini memang tidak menawarkan screenplay yang luar biasa pintar, atau sesuatu yang baru kecuali surprise-surprise kecil. Sebuah film yang cocok untuk menemani sore santai dan mood tidak ingin menonton film yang terlalu thoughtful. Just enjoy, it’s Roberts. This movie is supposed to be annoying but, it’s not

Director : Bobby Farrelly, Peter Farrelly
Writer : Bobby Farrelly, Peter Farrelly
Cast : Ben Stiller, Cameron Diaz, Matt Dillon

Cameron Diaz, berbeda dengan perannya yang hanya sebatas supporting role di My Best Friend’s Wedding, disini, ia benar-benar menjadi seorang leading lady.
Ted (Ben Stiller), remaja yang bukan primadona, ugly, awkward, mendapatkan kesempatan untuk menggandeng primadona sekolahan Mary (Cameron Diaz) ke prom setelah ia membela adiknya yang mempunyai keterbelakangan mental. Sebuah kejadian memalukan (let’s say dick stucks in the zipper) membuat pertemuannya dengan Mary ini sangat memorable.
Beberapa tahun kemudian, Ted telah menjadi seorang laki-laki yang normal, pekerjaan yang normal, penampilan yang normal, namun ia telah beberapa tahun tidak menjumpai Mary. Disewalah seorang detektif Healy (Matt Dillon) untuk menyelediki seperti apa kehidupan Mary sekarang, dan tanpa disangka, Healy pun jatuh cinta terhadap Mary, dan menghalalkan segala cara untuk memanipulasi Mary, serta menghancurkan harapan Ted untuk bisa lagi kembali ke pelukan Mary.

“Maybe, this is what we call comedy.”

There’s Something About Mary,bukanlah sebuah sajian entertainment comedy yang subtle, atau pandai melemparkan jokes lewat dialog-dialog yang witty. Namun, jika kita kembali pada tujuan sebuah komedi, yaitu mengundang penonton untuk tertawa. Maka film ini bisa dikatakan seratus persen berhasil.

There’s Something About Mary tidak segan-segan menghadirkan berbagai moment-moment yang bisa dikatakan sangat komedi, sebuah rude crude comedy yang tidak harus menghadirkan berbagai F-word atau sebagainya untuk merusak sebuah image karakter yang likeable (wink-wink to The Heat, We’re The Millers).

Berbeda dengan Julia Roberts yang benar-benar “single handedly won the war”, Cameron Diaz lagi-lagi menghadirkan performance biasanya. Ekspresi itu, cara ngomong yang seperti itu. Yeah, Cameron Diaz seperti memerankan Cameron Diaz. Beruntungnya, ia ditopang oleh male actors mumpuni seperti Ben Stiller dan Matt Dillon yang secara aktif berbagi layar dan menghadirkan tawa lagi, dan lagi.

Kehadiran Ben Stiller, dan juga Matt Dillon (dan beberapa pemuja Mary yang lainnya) memang membuat seperti tidak adanya leading actor yang benar-benar diandalkan untuk mengarah ke kisah cintanya bersama Mary. It’s confusion, it’s all about what and who ???. Ditambah dengan dangkalnya karakter Mary, memang sepertinya film bukan berkonsentrasi pada subkata ROM pada kata ROM-COM. So let’s say it’s comedy, comedy and comedy.
Silly stuff or bad sense of humor ?
Jika suka dengan  moment “sperma sebagai jel rambut”, “anjing yang disetrum”, “anjing yang dilempar jendela”, “kelamin nyangkut di resleting”. This movie is totally for you. FOR YOU !!!!

Conclusion
Talking about charm, Cameron Diaz belum bisa mengalahkan pesona Julia Roberts bahkan ketika ia memerankan karakter yang tidak menyenangkan. Talking about comedy, There’s Something About Mary memang lebih unggul (lebih disgusting, dan lebih crude). So I think, every movie is a winner.
Tetapi berbicara tentang romcom (emphasizing on ROM), My Best Friend’s Wedding is the one.

Advertisements

August : Osage County (2013) : The Ugly Truth of “Breaking The Plate – Cursing Like Sailor” Dysfunctional Family

Director : John Wells

Writer : Tracy Letts

Cast : Meryl Streep, Julia Roberts, Chris Cooper, Ewan McGregor, Dermot Mulroney, Julianne Nicholson, Juliette Lewis, Abigail Breslin, Benedict Cumberbatch, Margo Martindale

About

Ketika trailer film ini dirilis, menyertakan dialog-dialog yang lucu, beberapa karakter dalam scene tertawa, sempat terlintas, oh this is gonna be good. Maybe depressing yet heartwarming. Konsep dari film ini sangat menarik, sangat sangat menarik. Diangkat dari sebuah play tentang sebuah keluarga besar yang terdiri dari karakter kompleks, kemudian keluarga ini mempunyai banyak konflik dan misteri untuk diangkat. Yeah, dirilis pada waktu-waktu award season, film ini dibintangi banyak bintang yang sudah award-friendly, dinominasikan dimana-mana, tidak hanya aktor satu generasi saja, namun berbagai generasi terlibat di film ini.

PULITZER WINNING PLAY ADAPTATION + HIGH CALIBER ACTORS = IT SHOULD BE HEAVEN, RIGHT ?

Film diawali dengan menguatkan sisi poetic tentang “life is long” oleh seorang pemuisi yang hidup bersama istrinya yang kecanduan obat-obatan, Violet (Meryl Streep). Ketika sang pemuisi tiba-tiba menghilang, Ivy (Julianne Nicholson) memanggil saudari-saudarinya yang berada di luar kota dan jarang pulang. Yeah, mereka adalah Barbara (Julia Roberts) beserta anak perempuannya Jean (Abigail Breslin) dan suaminya Bill (Ewan McGregor). Datang pula untuk menghibur bibi mereka (Margo Martindale), beserta suaminya Charles Aiken (Chris Cooper). Ketika datang kabar buruk bahwa sang poetic ditemukan meninggal, funeral pun menyatukan kembali anggota keluarga yang lain, Karen (Juliette Lewis) dan tunangannya (Dermot Mulroney). Plus Little Charles Aiken (Benedict Cumberbatch).

“A lot of negativities that I can’t handle.”

Film ini merupakan film tentang sebuah keluarga dan dilihat dari sebuah kacamata negatif. Okay, dengan bakat-bakat terutama Meryl Streep dan Julia Roberts yang memiliki pesona bisa mengubah sebuah negatif menjadi sebuah positif (dalam artian berbagai unlikeable role bisa mereka lewati dengan charm mereka sendiri), ekspektasi awal adalah film ini akan sangat “menyenangkan”. Luckily, it didn’t happen. Dikemas dengan sangat “dark”, film ini mulai mengupas lapisan demi lapisan dengan sangat pelan dan menyerang penonton dengan berbagai sisi negatif dari keluarga ini. Blaming. Cursing. Confessing the ugly truth. Even almost incest-ing. Yuck ! Where’s the light ?

Luckily, the light is the cast. Yeah, mau tidak mau film dengan banyak bintang memang selalu mengundang selera. Okay, let’s talk about them.

Meryl Streep, incorrigible drug addict, memberikan penampilan yang oke, namun bukan penampilan terbaik dari Meryl Streep. Di film ini, karakter Violet seperti membawa shotgun yang menyerang siapa saja. Yeah, sedikit banyak peran ini mengingatkan perannya di film Doubt, namun dengan sisi “insulting” yang lebih tidak terarah. Oscar nomination ? I don’t think so. This is my least favorite role of hers.  Walaupun begitu karakter Violet yang memimpin film ini pun terasa sangat menarik, an ugly character. Karakter Violet ini sepertinya me-reveal bagaimana sebuah karakter dipengaruhi oleh masa lalu yang keras, karakter ini pula memiliki “perspektif” yang berbeda di bandingkan dengan generasi yang berbeda.

Julia Roberts, there will be no more sweetheart. Dari semua karakter di film, karakter Barbara merupakan karakter yang paling dark, namun ada sisi yang bertolak belakang. Yeah, RESPONSIBILITY. Karakter Roberts ini sangat menarik. Dia memiliki responsibility, dia ingin mengampu tanggung jawabnya itu, namun tentu saja dengan caranya sendiri. Termasuk dengan ngomong kasar disana-sini. I like her when she curse like a sailor. Tidak ada lagi sisi “charming” dari Julia Roberts, jadi sepertinya ia berhasil memerankan peran Barbara ini. Peran yang cukup “berhasil” adalah Juliette Lewis (berperan sebagai anak perempuan yang sepertinya “kurang difavoritkan” oleh orang tuannya dan memilih mempunyai kebahagiaan sesuai versinya sendiri), Benedict Cumberbatch (berperan sebagai anak yang dianggap gagal, loser, kurang memiliki prospek), dan juga Margo Martindale (bibi yang memiliki rahasianya tersendiri dan atraktif di usianya yang sudah tua).  Aktor / aktris yang lainnya memberikan penampilan yang biasa saja, oh yeah, I am little bit impressed with Julianne Nicholson.

Film yang diawali dengan kata-kata “life is long” ini benar-benar menjadi film yang terasa panjang dengan pemandangan Oklahoma yang terasa panas. Dengan pemandangan panas di luar, pemandangan gloomy di dalam, konflik, semua orang teriak di setiap scene, finally it EXPLODES.

August : Osage County memberikan gambaran sebuah keluarga besar yang penuh dengan sisi negatif tanpa memberikan gambaran sedikit pun tentang sisi baik yang pernah keluarga ini pernah lewati. Terasa realistis namun menjadi kurang seimbang. Film ini terasa intens, terasa destructive setiap saat tanpa memberikan sebuah “jalan keluar” yang fair. Ketika satu karakter terlibat sebuah masalah, kemudian mereka keluar rumah dan meninggalkan Oklahoma begitu saja. Depressing. Dysfunctional. Hateful. Entah terpengaruh karena merupakan adaptasi dari sebuah play atau apa, dialog-dialog ini seperti bukan seperti sebuah keluarga. Too dialogue-y, bahkan di satu scene saat dinner mempertemukan semua karakter, involvement masing-masing karakter ke karakter yang lain seperti kurang.

Yeah sisi baiknya, kita dapat melihat berbagai scene EXPLODES ini diperankan oleh first rate actress-es. Perkelahian antara Roberts dan juga Streep adalah scene terbaik di film ini. Yeah, nice fight, girls.

Intinya, film ini memuat hal-hal yang “negatif” dikemas dengan tone yang begitu gelap, no resolution, terlalu terpaku pada dialog masing-masing, and *Hirosima Nagasaki nuclear bombs explodes*. Film ini pada akhirnya meninggalkan penonton begitu saja.

Trivia

Chloe Grace Moretz ikut audisi untuk peran Jane, namun Abigail Breslin yang mendapatkannya. Oh poor Moretz.

Quote

Barbara : Eat your fish, bitch !