Amy Adams

Reviews : Big Eyes (2014), Wild (2014), The Tale of Princess Kaguya (2014), and Two Days, One Night (2014)

Director : Tim Burton

Writer : Scott Alexander, Larry Karaszewski

Cast : Amy Adams, Christoph Waltz

Setelah melewati proses yang cukup panjang, kemudian terdengar kabar Tim Burton menduduki kursi sutradara, produser, kemudian Amy Adams dan Christoph Waltz (dua aktor spesialis supporting role) sebagai duo yang akan memimpin, dan yang terpenting tanpa Johnny Depp atau Helena Bonham Carter, Big Eyes langsung masuk dalam bursa award tahun 2014.

Jika satu gambar atau lukisan saja bisa menggambarkan ribuan kata-kata, apa jadinya dengan sebuah film yang merupakan motion picture ? Yah, dalam kasus ini – Big Eyes – mengecewakan, cukup memberikan satu kata saja : bland. Lukisan anak kecil dengan mata nanar berwarna hitam, kelam, dengan kesedihan yang tersirat, nyatanya tak mampu diangkat menjadi materi yang lebih berarti. Sama jatuhnya dengan konsep “paint by number”, tak peduli seberapa “berarti” gambar di dalamnya, arti tersebut juga dimiliki ribuan orang lainnya. Sisi spesial yang tergeneralisasi, dan inilah yang membuat kisah Margareth Keane terasa tak ada penekanan untuk meninggalkan kesan, kecuali sentuhan komedi yang rasanya seperti Tim Burton sedang memilih palet warna yang salah.

(more…)

Advertisements

Doubt (2008) : A Snowball Running of No Evidence, No Witness, No Doubt

Director : John Patrick Shanley

Writer : John Patrick Shanley

Cast : Meryl StreepPhilip Seymour HoffmanAmy AdamsViola Davis

Streep’s Streak Challenge

(REVIEW) Apa yang bisa menjadi sangat fatal di sebuah lingkungan gereja dan sekolah yang relijius ? Sebuah sisi yang terlihat simple, bahkan kecil, namun sangat krusial. Yeah, film ini memang memiliki misi yang besar dan ambisius, hal ini sudah terlihat pada single word title-nya, yeah, it’s doubt. Sebuah keraguan. Tidak hanya ingin memberikan sebuah gambaran tentang “keraguan”, namun yang paling besar, yang juga merupakan sisi ambisius terbesar dari film ini, film ini menginginkan penonton untuk merasakan sensasi keraguan tersebut.

Sebuah khotbah dari Father Flynn (Philip Seymour Hoffman) langsung mengangkat misi tersebut ke permukaan, dikatakan bahwa keraguan bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya, tentu saja hal tersebut bisa dikatakan benar terutama jika kita kaitkan dengan “faith” atau elemen keimanan. Sebuah khotbah yang entah datang dari mana ini memberikan Sister Aloysius (Meryl Streep) sebuah keraguan tentang apa yang sedang dialami oleh Father Flynn, seorang bapa yang mempunyai record tidak begitu bagus di masa lalunya. Ketika seorang sister muda, sister James (Amy Adams) mengatakan bahwa ada indikasi seorang altar boy di”salahgunakan” oleh Father Flynn, Sister Aloysius pun mulai goyah kepercayaannya tentang siapakah Father Flynn sebenarnya. Hal ini pulalh yang membawa Sister Aloysius menyibak misteri keluarga sang altar boy lewat ibunya sendiri (Viola Davis).

“Anchored by rich characters and talented cast, fully detailed and nicely constructed sequence of scenes, this movie SPEAKS all out loud, and the best part is, we remains in DOUBT.”

Karakter Sister Aloysius merupakan sebuah karakter yang kaya, digambarkan sebagai seorang antihero dengan pendekatan antagonistic oleh Meryl Streep, karakter ini memang merupakan magnet utama dari film ini. She’s full of detail to things and people, she’s judgmental, she’s mean, she’s an observant, she’s brave, she’s UNBELIVABLE. Semua karakternya ini tidak selamanya diucapkan dengan kata-kata, namun yang paling menarik lebih digambarkan lewat hal-hal kecil dari lingkungannya. She’s so implied, but she’s so strong in performance, just wow ! Disinilah sebuah karakter fiksi memang menjelma menjadi sebuah karakter yang real, tidak hanya digambarkan lewat gesture, language, accent, ataupun make up and costume, namun lewat aktivitas-aktivitas kecil yang membuat karakter ini menjadi lebih merasuk ke dalam cerita. Being a sister doesn’t mean being an innocent, itulah Sister Aloysius, sempat dikatakan bahwa Sister Aloysius bukanlah seorang sister dari lahir, ia pernah menjadi seorang biasa bahkan seorang istri yang suaminya tidak kembali dari sebuah perang, disinilah sisi “keduniawian” Sister Aloysius mulai tergambarkan.

Easy, not easy character, dua karakter yang terlihat mudah namun juga tidak terlihat mudah adalah Sister James yang merupakan simbolisasi dari sesuatu yang pure, sesuatu yang innocent, dan dengan catatan record filmography seorang Amy Adams, sepertinya karakter seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Begitu pula dengan karakter Father Flynn yang charismatic dan casual oleh Philip Seymour Hoffman. Sisi yang paling menarik dari karakter Philip Seymour Hoffman adalah sisi casual yang juga memberikan elemen “gay-ish” ke dalam karakter begitu ter-implied dalam film, lagi, lagi, catatan record filmography untuk Philip Seymour Hoffman menunjukkan karakter ini bukanlah karakter yang 100% baru untuknya. Truman Capote ? Hmmm.

Untuk Meryl Streep, Amy Adams, dan Philip Seymour Hoffman menampilkan performa yang bisa dikatakan sebanding dan seharusnya ini memang sepertinya bukan sebuah kejutan, namun untuk Viola Davis ? Mendapatkan sebuah nominasi Oscar untuk karakternya yang hanya memiliki screentime terbatas ditambah introduction minimalis karakternya menjadi sebuah prestasi yang luar biasa. Viola Davis untuk beberapa waktu benar-benar mencuri layar dengan penampilannya yang bisa dikatakan sebuah awal dari seorang Aibeleen Clark. Seorang Ibu yang rela menangis, keluar ingus, ketika sesuatu mengancam nasib keluarganya, terutama anaknya. What a stellar scene of her.

Film yang benar-benar ditopang oelh kekuatan screenplay mengolah konflik yang juga ditampilkan oleh para aktornya ini memang membuat setiap interaksi dari karakter film ini menjadi appetizer, main course sekaligus desert. Berikut ini benar-benar “stunning scene” dari sebuah film yang hampir 100 % terdiri dari krusial dan “stunning scene”.

Amy Adams, Meryl Streep, rumour winds, yeah adegan bagaimana Sister James menyampaikan bahwa ada sesuatu antara Father Flynn dan muridnya merupakan sebuah scene penuh yang impressive. Tidak hanya dari akting keduannya yang “belum terlalu menggebu” namun scene ini menjadi sangat krusial yang menerangkan bagaimana sebuah cara komunikasi menjadi sebuah awal dari sebuah bencana. Scene ini terlihat biasa, namun bisa penonton lihat bahwa awal rumor ini disampaikan Sister James kepada Sister Aloysius dengan penuh distraksi dari lingkungan sekitar, dari diganggu tukang kebun, sister lain, sampai seekor kucing, what a “un-show off” scene.

Amy Adams, Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, one room, scene yang mengumpulkan ketiga karakter ini merupakan sebuah scene yang membuat karakter satu dan karakter lain meng-absorb setiap habit dari masing-masing karakter, yang tentu saja sangat krusial dalam film. Habit ini dimulai dari pemilihan lagu sampai kebiasaan meminum teh. Lagi dan lagi, setiap adegan dilakukan dengan begitu detail, sooooo written in detail.

Meryl Streep, Viola Davis, hmm, my favorite, scene ini merupakan bagian twisting dari storyline yang membuat semuannya terlihat lebih jelas, namun dalam waktu yang sama juga membuat segalanya berubah menjadi kabur.

Philip Seymour Hoffman, Meryl Streep, final fight, apa yang terjadi jika salah satu aktor terbaik di generasinya melawan seorang aktris di generasinya ?? It’s more than a “Michael Bay and his boom, boom, boom”. Scene klimax yang akhirnya memenuhi semua keinginan penonton yang menunjukkan sebuah kualitas akting yang setara dengan kaliber aktornya. Just wow, just wow. PRICELESS.

Yang paling dahsyat dari film ini adalah, film ini benar-benar membuat penonton merasakan sensasi “doubt” di setiap adegan yang sangat tertata rapi, terkonstruktif (mungkin efek dari diadaptasi dari sebuah play), penonton seakan-akan ditempatkan selayaknya seorang Sister James yang terombang-ambing oleh mana yang kenyataan, mana yang merupakan sebuah kebohongan, what a ride !

So who’s the sinner ? Are you #TeamSisterAloysius or #TeamFatherFlynn ?

When you take a step to address wrongdoing, you are taking a step away from God, but in his service.

Her (2013) : Forever Alone-Guy, Sexy as Hell-Voice and Real-Unreal “Romantic Overload” – Relationship

Director : Spike Jonze

Writer : Spike Jonze

Cast : Joaquin Phoenix, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, and Scarlett Johansson as Samantha

About

Comment for the poster : Look at that face, pink background, with Joaquin Phoenix’s puppy eyes, this poster is so perfect. One of nice poster with big head of its leading actor.

Who the fuck is this guy ? Mantan istri, Rooney Mara. Teman baik, Amy Adams. Teman kencan, Olivia Wilde, bahkan operating sistemnya, Scarlett Johannson. Yeah, film diawali dengan muka “forever alone” Joaquin Phoenix yan, seorang penulis surat (yeah, this job is like future version for Tom Hansen’s job), yang sedang berada dalam proses perceraiannya dengan Catherine (Rooney Mara). Bersetting di masa depan dengan banyak kelebihan gadget, Theodore (Joaquin Phoenix) akhirnya menemukan sebuah operating system yang menyediakan jasa pertemanan berbasis suara. Beruntungnya, sesosok suara seksi penuh personality Samantha (disuarakan oleh Scarlett Johannson) pun mulai menemani hari-hari Theodore, termasuk menyetting kencannya dengan seorang perempuan (Olivia Wilde) sampai meng-compile semua surat Theodore untuk dijadikan sebuah buku. Hubungan mereka pun semakin nyata di dunia maya. Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh teman dekatnya Amy (Amy Adams) yang menjalin hubungan dengan sebuah/seorang operating system.

“Depressing yet romantic. So far yet so close. Bitter, ironic and sweet. Top notch chemistry between Phoenix and Johannson. If future could be this charming, bring it on, faster.”

Sejarah melihat filmnya Spike Jonze memang sangat jauh dari kata “mengecewakan”. Walaupun untuk Adaptation. dan juga Being John Malkovich, Spike Jonze banyak dibantu oleh Charlie Kaufman yang menyediakan screenplay super jenius dan inovavatif. Her adalah feature yang harus benar-benar mengandalkan Spike Jonze baik dari segi penyutradaraan dan juga penulisan. Dan untuk ini Spike Jonze benar-benar mengambil high risk, namun dengan high return yang sangat memuaskan (I am not talking about investation). Her benar-benar harus mengandalkan segi chemistry dari Phoneix dan juga bakat suara dari Johannson, jika chemistry itu gagal, this movie is gonna be fucking travesty. Her merupakan karya masterpiece yang bersetting di masa depan namun terasa dekat dan tidak adanya rasa “strange terhadap masa depan” namun tetap spesial. Kedekatan kita denganfilm ini sedikit banyak karena kita merasa fenomena dalam film ini benar-benar sedang terjadi dan terus berkembang, bagaimana setiap orang lebih dekat dengan gadget mereka, kata lainnya lebih memiliki hubungan intens dengan gadget mereka. Hanya saja fenomena sekarang masih terlalu one sided karena gadget masih terlalu pasif, nah disini, Spike Jonze mengambil kesempatan untuk menjalin sebuah relationship yang two sided, dinamik.

Special credit for Scarlett Johannson. Siapa yang meragukan keseksian mantan istri Ryan Reynold ini. Masuk dalam berbagai list “the sexiest” dan juga mendapatkan peran yang banyak mengekplorasi citra dirinya sebagai wanita seksi. Namun, ketika dia tidak dapat menggunakan fisiknya (salah satu issue karakter Samantha di film ini) dan harus 100 persen mengandalkan suaranya, hasilnya adalah she’s sexy as hell. Karakter Samantha tidak hanya sebuah suara. Samantha memiliki personality, character, bahkan intelligence, namun yang paling mengejutkan adalah she has heart. Bagaimana penggambaran Spike Jonze terhadap karakter Samantha ini harus diacungi jempol, membuat sebuah operating system yang canggih bukan hanya sebagai dummy instrument namun memperlakukannya lebih sebagai sebuah karakter yang real namun terjebak di dunia nyata. Karakter Samantha ini banyak menimbulkan pertanyaan untuk kita, “Is she pretentious ? “Is she faking it ? Yeah, she’s mysterius. Well done, Ms. Johannson, your sexy image (in real world) and your vulnerability make this voice comes true.

Pleasant cast. Mengambil Joaquin Phoenix sebagai seseorang yang kesepian merupakan salah satu tindakan yang bijaksana di department casting. You don’t need American Sweetheart to make this movie works. Dengan jangkauan yang luas dari aktor yang satu ini, Theodore merupakan karakter “tersweetheart” yang mengunci emosi penonton di sepanjang film. Theodore merupakan karakter yang bisa dikatakan “he says good thing but he doesn’t know if he means it”. Sebuah karakter yang sulit juga, ketika ia harus “juga” berinteraksi via suara dengan karakter utama yang hanya berupa suara. It’s like maybe he has to act “on the phone” for the whole time. Ditambah, bakat-bakat seperti Amy Adams, Rooney Mara, dan Olivia Wilde, this movie is fucking charming with serene atmosphere.

Serene atmosphere, film tentang masa depan ini merupakan salah satu film yang paling hangat. Tidak perlu gedung-gedung dengan model over futuristik (bahkan film ini tidak takut untuk mengajak penonton untuk berkeliling kota masa depan yang minim visual effect, tidak hanya sebagai set production, kota-kota ini juga banyak merefleksikan kesendirian dan emosi Theodore yang dikontraskan dengan keramaian kota besar), atau make up wardrobe ala Effie Trinket, set production dibuat berwarna dengan mempertahankan banyak sisi “masa sekarang” yang membuat film ini masih terasa dekat, ditambah dengan costume design yang sehangat rajutan nenek Spongebob membuat karakter-karakter di film ini menjadi irresistible. Joaquin Phoenix dengan celana dengan pinggang tinggi, wew ! What a fashion. Plus ternyata peniti tidak akan punah sampai masa depan.

Kemampuan Spike Jonze men-generate scene-scene flashback di setting masa depan, dipadukan dengan “so comforting scoring” merupakan salah satu faktor yang membuat film ini begitu emosional untuk penontonnya. Sangat emosional namun juga begitu indah, seakan-akan film ini tahu cara lain untuk berpuisi. Sebuah cara berpuisi yang tidak kehilangan kata-kata (scene) indah namun juga tetap bisa dimengerti oleh penontonnya.

Berpikir film ini hanya akan berkutat pada stagnant relationship ternyata salah, film ini banyak memberikan bumbu-bumbu romantis tentang sebuah hubungan seperti ekspektasi personal, betrayal, doubt, bahkan sampai sex. Mungkin sedikit terjadi ketimpangan antara paruh pertama dan juga paruh kedua, I am not gonna say it’s in negative perspective. Namun paruh pertama film ini benar-benar menarik perhatian terutama chemistry Theodore dan Samantha yang menjadi hal yang benar-benar refreshing, di paruh kedua sedikit turun terutama ketika Theodore kini harus beinteraksi dengan karakter-karakter yang lain. Film ini adalah sebuah film yang memiliki cara tersendiri untuk menjadi romantis yang didukung oleh semua faktor di film, termasuk brilliant writing of Spike Jonze. Overall, I should add this movie to my favorite movie all the time. Yay !!!!

Sweet but not saccharine.

Trivia

Carey Mulligan harus keluar dari projek ini karena konflik schedule dan harus digantikan oleh Rooney Mara.

Quote

Samantha: It’s like I’m writing a book and it’s a book I deeply love. But I’m writing it slowly now.

American Hustle (2013) : Con Artist, Imposter, Agent, Politician and The Loose Cannon, They’re All The Fighters

Director : David O. Russell

Writer : Eric Singer, David O. Russell

Cast : Christian Bale, Amy Adams, Bradley Cooper, Jeremy Renner and Jennifer Lawrence

What’s so special about this movie ?

“It’s a groovy movie.”

Christian Bale, Jennifer Lawrence, memiliki kesamaan. Bradley Cooper, Amy Adams, memiliki kesamaan. Ketika ditambah dengan Jeremy Renner ??? Hmmm, what a cast ! Nama David O Russel tentu saja tidak lepas dari kesuksesan mereka (berempat), lewat tangan dingin Russel, Bale dan Lawrence menyabet piala Oscar kemudian dilanjutkan nominasi untuk Adams dan Cooper. Setelah tampil mengecewakan lewat I Heart Huckabees, David O Russel bangkit lewat The Fighter dan sejak saat itu setiap film yang ia sutradari sepertinya menembus Oscar.

Salah satu keistimewaan sutradara yang satu ini adalah bagaimana ia mempunyai “cara tersendiri” untuk mengemas sebuah tema. Tema “boxing” yang biasa bisa ia eksplor dengan sedemikian menarik. Tema dalam Silver Linings Playbook lebih istimewa lagi, dikemas seakan-akan simple namun ternyata mampu memuat hal yang complicated. Dan, kali ini David O Russel sepertinya ingin bermain-main dengan politik, FBI, 70’s namun tetap fun.

Irving (Christian Bale), seorang con artist akhirnya menemukan partner in crime-nya, Sydney (Amy Adams) wanita yang penuh dengan layer yang tidak hanya memanipulasi orang lain namun juga dirinya sendiri untuk bertahan. Keduannya menggelar operasi “kejahatan” dengan sukses walaupun skalanya masih sangat “terbatas”. Keduannya juga menjalin affair dibalik keberadaan istri Irving, Rosalyn (Jennifer Lawrence) yang sangat tidak stabil namun ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Irving bagaimanapun caranya. Hingga suatu saat, Sydney dan Irving dijebak oleh FBI, Richard (Bradley Cooper) dan dipaksa membantunya untuk menangkap con artist yang lain jika ingin kehidupan Sydney dan Irving bebas. Operasi ini kemudian berkembang menjadi level yang berbeda, ketika Richard mulai ambisius dan ingin menangkap ikan yang lebih besar, yeah, politisi Carmine (Jeremy Renner). Operasi ini seketika berubah ketika satu sama lain memanipulasi keadaan untuk bisa mencapai keadaan yang “lebih baik”, Irving dengan dua wanita di hidupnya, Richard dengan ambisi dan mulai jatuh cinta dengan Sydney, dan juga yang lainnya.

Tidak lengkap untuk me-review film ini namun tidak membahas cast-nya, masing-masing dari mereka berlima sepertinya telah memiliki film dimana mereka lebih dari cukup untuk menyandang leading role, plus dengan predikat A-list.

Christian Bale, berbicara tentang komitmen untuk sebuah peran, hmmm jangan ditanya. Berbagai transformasi ekstrem sepertinya pernah dilakukan Bale. Secara fisik, Irving merupakan kebalikan dari Dicky di The Fighter. Ia gendut, penuh perhitungan, walaupun masih sama-sama botak. Walaupun tidak secermelang perannya sebagai “mantan petinju” di The Fighter yang tidak hanya sekedar transformasi fisik, Irving disini lebih dari cukup untuk membawa film sampai akhir. Sebagai karakter yang terkesan “jahat” karena ia menipu sana-sini namun berjalannya film, karakter Irving ini hanyalah karakter yang terjebak pada sebuah situasi, baik pekerjaan dan percintaannya. Walaupun seorang manipulator, Irving ini digambarkan selayaknya canvas putih yang mudah diwarnai dan dimanipulasi oleh karakter lainnya, oleh istrinya sendiri, oleh Sydney, sampai pada keadaan tertekan oleh agen FBI Richard DiMaso.

Amy Adams, hmm, spesialis supporting role, bisa dikatakan karakter yang paling kompleks di sepanjang film. Amy Adams menginterpretasikan lewat penampilannya yang seketika membuat kita bertanya-tanya, “There’s something about this woman.”. Karakter ini seperti topeng memakai topeng, ia seperti berada pada batas antara ambisi keinginannya dan juga kebingungan dari sebuah situasi secara bersamaan. Ditunjang dengan bra-less wardrobe, bitchy hairdo, Amy Adams benar-benar menjelma sebagai seorang partner seductive dengan aksen British-nya yang sebenarnya memang tidak meyakinkan (namun ternyata itulah memang bagian dari karakternya).

Bradley Cooper, jika melihat karakternya Richard DiMaso memiliki kesamaan dengan Pat Solitano di Silver Linings Playbook. Kombinasi karakter bad guy yang memiliki ambisi, keinginan untuk mencapai lebih, hampir dengan segala cara, namun juga disisi lain ia memiliki sentuhan “good guy” terutama ketika ia berinteraksi dengan karakter Sydney.

Jeremy Renner, I am little bit tired of this actor. Renner memang tidak memberikan penampilan yang bisa dikatakan “memorable” di film ini, namun David O Russel sepertinya jago dalam memilih aktor, ditambah dengan hairdo jambul, plus raut muka Renner dengan sedikit sentuhan “puppy eyes”, Carmine adalah karakter “bait” dengan wajah innocent yang sepertinya terlalu “polos” untuk menyadari apa yang sedang terjadi.

And this is it, Jennifer Lawrence, banyak perdebatan tentang karakter Lawrence ini. Miscast, yeah a little bit, but maybe a little bit not, Rosalyn adalah bom waktu yang siap meledak dan merubah keadaan dalam film ini dan sepertinya lagi, dan lagi, Jennifer Lawrence walaupun tidak memberikan penampilan yang tergolong subtle, namun ia mampu menangkap energi, spontanitas, dan sisi ekspresif dari karakternya. Yeah, harus diakui, setiap scene dimana Jennifer Lawrence masuk, memang keadaan menjadi lebih menarik.

So if I gotta choose, who’s the best performance ? Amy Adams adalah juaranya, yeah walaupun dengan aksen yang kadang mengganggu (namun, lagi dan lagi bagian dari karakternya), Adams membuktikan bahwa ia bukanlah sosok princess Gisselle lagi, ia mampu memberikan penampilan yang dalam dan juga membuat sebuah “tanda tanya” pada karakternya.

That’s it ?

No, American Hustle merupakan perpaduan menarik dari musik, set produksi, tata rambut, tata busana sampai permainan kamera yang mendukung film ini terasa memiliki energi yang begitu groovy dan juga merasakan ada semangat “Back to the 70’s”. Bagaimana film ini membuat scene seperti “on beat” dengan musik di belakangnya harus diacungi jempol, kemudian sisi make up dan rambut yang sepertinya juga menunjang permainan para karakternya.

Bagaimana David O Russel berkonsentrasi pada karakternya juga terlihat dengan multi voice over para pemainnya. Tidak seperti pada film kebanyakan yang menggunakan voice over dari satu sudut pandang saja, atau jika lebih satu, biasanya dilakukan secara terpisah, setiap karakter utama sepertinya berinteraksi dengan sudut pandang mereka masing-masing membuat setiap karakter ini lebih menarik. Dan yeah, untuk beberapa waktu David O Russel berhasil menyampaikan visinya ini, it’s all about character. Plot tentang “ABSCAM” di film ini hanyalah penunjang, bagaimana setiap karakter bertahan dan menanggapi “plot” ini ternyata membawa sisi menarik tersendiri.

Trivia

Karakter Rosalyn memang ditulis Russel spesial untuk Jennifer Lawrence.

Quote

Rosalyn Rosenfeld: Life is ridiculous. And you know that I would never say anything bad about your father in front of you, but your father is a sick son-of-a bitch.

Enchanted (2007) : A Modern, yet Classic Disney Tale, The Real World And The Animated World Collide

Director : Kevin Lima

Writer : Bill Kelly

Cast : Amy Adams, Patrick Dempsey, Timothy Spall, James Marsden, Susan Sarandon

About

Fairy tale, entah sudah berapa kali kita mendengarkan cerita fairy tale mulai dari kita masih kecil. Walaupun Indonesia, juga kaya akan cerita berjenis ini, namun tidak menutup kemungkinan untuk kita mendengar cerita fairytale yang berasal dari luar negeri. Yah, sebut saja Cinderella, atau Snow White, Sleeping Beauty, Rapunzel, dan lain sebagainya. Ceritanya simple dan mudah dicerna, walaupun terkadang formulaic, namun tayangan film baik itu animasi atau live action berbau seperti ini tidak pernah habis untuk dicerotakan kembali. Contohnya saja, kisah Snow White yang tahun kemarin saja mempunyai dua versi Hollywood, atau bahkan tahun depan, ada Maleficent yang menceritakan fairytale dari perspektif villain Sleeping Beauty ini.

Sebagai studio besar, Disney adalah salah satu bagian penting dalam pengangkatan fairy tale ke film. Salah satunya adalah Enchanted, sebuah film yang berusaha me-reimagining fairy tale ke dalam sebuah tayangan yang lebih modern. Enchanted sendiri masih menerapkan basic formula dalam sebuah fairy tale lewat keberadaan seorang putri atau princess yang kemudian jatuh cinta pada seorang pangeran atau prince charming, namun pasti selalu saja pihak yang menghalangi, let’s say tokoh ibu tiri. Yah begitulah, Enchanted. Giselle (Amy Adams), seorang gadis biasa yang hidup dalam sebuah dunia animasi fantasi akhirnya menemukan pangeran dambaanya, Prince Edward (James Marsden). Keduannya siap menikah walaupun baru bertemu dalam sehari saja. Seperti biasa, cinta mereka dihalangi oleh trik yang dikeluarkan Ibu tiri Edward, Queen Narissa (Susan Sarandon). Giselle dikirim ke dunia dimana ending “happily ever after” tidak pernah ada, yaitu tidak lain tidak bukan adalah dunia nyata. Seketika tokoh kartun ini menjelma menjadi tokoh manusia dan harus berjuang di kehidupan kota New York. Giselle yang naif dan polos pun akhirnya bertemu dengan Robert (Patrick Dempsey) dan anak perempuannya yang menyediakan tempat tinggal sementara untuknya. Mengetahui Giselle hilang ke dunia nyata, Edward pun menyusul dan mencarinya, sementara Queen Narissa juga mengutus Nathaniel (Timothy Spall) untuk membunuh Giselle lewat apel beracunnya.

Smartly writen, consistently entertaining, tale in new height with self parody which makes it smarter and smarter. Okay, where’s the sequel ? Bring it on !

Pujian pertama sepertinya harus dilontarkan pada penulis atau screenwriter yang bisa secara apik meng-compile berbagai referensi cerita tale mulai dari Cinderella, Putri Tidur, sampai Snow White ke dalam satu screenplay yang solid dan menghibur. Screenplay dari Bill Kelly ini tidak hanya menghadirkan cerita tale, namun juga berhasil berimprovisasi dengan celah antara dialog fantasi ala tale tradisional dengan doalog yang lebih modern, dan itu menimbulkan kelucuan yang luar biasa.

Departemen casting juga harus diacungi jempol. Sepertinya tidak mudah untuk menemukan seorang putri yang harus bernyanyi, bertutur kata sampai mempunyai tampilan fisik yang benar-benar seperti seorang putri. Pilihan mereka pun jatuh pada Amy Adams, yang notabene pada tahun 2007 belum terkenal sseperti sekarang, walaupun pada saat itu ia sudah mengantongi nominasi Oscar untuk penampilannya di Junebug. Amy Adams pun menjelma sebagai seorang putri lewat penampilan fisiknya yang ditunjang dengan kostum, serta kemampuan menyanyi dan menarinya yang tidak lepas dari kata magical. Karakter Giselle yang pada animasi bisa dikatakan merupakan karakter yang simple, berhasil dihidupkan  ke dunia nyata hampir dengan sempurna. Karakter Giselle ini sangat menarik, dari seluruh film, karakter Giselle ini bukanlah karakter yang stabil dan cenderung sederhana. Giselle mengalami pengembangan karakter setelah setengah jam durasi berjalan yang juga tidak lepas dari plot cerita. Giselle yang berkepribadian malaikat dan super princess, berubah menjadi pribadi yang lebih real terhadap reality tanpa mengurangi sisi elegan dari karakter itu sendiri. Disinilah sebuah keistimewaan ketika sebuah karakter simple diperlakukan secara lebih real, sehingga adaptasi film dari fairy tale ini juga mempunyai elebih banyak emosi yang dapat dirasakan, walaupun penonton semua tahu bahwa film ini akan berakhir happy ending. Peran Edward dan Robert juga merupakan karakter yang sangat menarik karena keduannya merupakan karakter yang sangat berlawanan. Edward, pangeran polos dengan sentuhan narsis sedangkan Robert sebagai sosok pengacara yang sekaligus single parent yang tidak percaya dengan cerita berbau “fairy tale”. Villain yang diwakili Timothy Spall dan juga Susan Sarandon juga lebih dari cukup untuk mengimbangi sisi charming dan enchanting dari Giselle dan Prince Edward.

Berbagai referensi disertai self parody (yang membuat film ini terlihat seperti film meta) merupakan point utama mengapa film ini berbeda dan menghibur di sepanjang film. Tubrukan pandangan antara Giselle dan Robert tentang dunia mereka menjadi bahan jokes yang terus berhasil membuat penonton tertawa.

Salah satu adegan yang paling menghibur adalah adegan menyanyi yang tentu saja merupakan acara wajib pada sebuah musical. Tdak perlu banyak-banyak, scene menyanyi disini hanya terdiri dari tiga lagu namun ketiganya berhasil dimaksimalkan untuk menciptakan atmosfer magical dalam film. Ditulis oleh Alan Menken dan Stephen Schwartz, ketiga lagu ini berhasil masuk pada Oscars walaupun tidak berhasil menyabetnya. Ketiga lagu itu adalah Happy Working Song, That’s How You Know, dan So Close. Moment musikal juga ditambah oleh satu lagu yang sering dinyanyikan dalam sepanjang film yaitu True Love’s Kiss.

Film ini berhasil merangkul penonton dewasa dan juga anak-anak. Anak-anak akan tertarik dengan cerita yang simple, mudah dicerna, fantasi serta visualnya, sedangkan orang dewasa juga akan menikmatinya lewat dialog-dialog cerdas serta twist yang dibuat berbeda dan mengejutkan. Sebuah twist yang masih berada pada track fantasi ala fairy tale.

Take a fairy tae in new height ? Yes. Into real deal ? Yes, this is a formulaic happy ending as usual, yet surprising.

Trivia

Karakter Giselle sebenarnya berambut blonde, namun mengalami perubahan menjadi redhead.

Quote

Robert Philip: There’s no way of helping her. She’s done for true love’s kiss.

Prince Edward: What?

Robert Philip: It’s the most powerful thing in the world.

Sunshine Cleaning (2008) : A Bio Hazard Clean Up (Life Problem) Service of Unreliable Sisterhood

Director : Christine Jeffs

Writer : Megan Holley

Cast : Amy AdamsEmily BluntAlan Arkin

About

Keberhasilan Little Miss Sunshine, yang ditandai dengan menangnya Alan Arkin sebagai Best Performance in Supporting Role dan Abigail Breslin meraih nominasi Oscarsnya dan mengantarkannya ia ke karirnya saat ini, sepertinya ingin diulang dengan membuat film dengan judul yang (hampir) sama, Sunshine Cleaning.

Masih berkutat dengan broken family, Sunshine Cleaning merupakan nama jasa pembersihan crime scene yang dilakukan dua bersaudara, Rose (Amy Adams) yang berkarakter lebih mandiri, single parent, dan seorang pelayan, dan Norah (Emily Blunt), adiknya yang tidak bisa mengurusi dirinya sendiri. Dengan carut marutnya kehidupan mereka, pekerjaan ini sama sekali tidak mudah, karena setiap kali mereka membersihkan crime scene (terutama pembunuhan, atau suicide), mereka (terutama Norah) mengalami hubungan emosional dengan tempat tersebut akibat sebuah ingatan masa lalu yang menyedihkan. Hubungan kakak-beradik ini diuji ketika banyak hambatan yang ada dalam pekerjaan ini.

Berperan pula, sebagai ayah, dan kakek bagi anak Rose, Alan Arkin sebagai Joe Lorkowski, yang sedikit banyak me-reprise perannya sebagai foul mouthed grand father di Little Miss Sunshine, hanya saja di film ini ia menghilangkan segala umpatan dan lebih entrepreneur wanna be untuk membahagiakan cucu semata wayangnya, Oscar (Jason Spevack). Oscar juga mempunyai karakter yang bermasalah seperti halnya karakter Abigail Breslin di Little Miss Sunshine.

“There are quite characters here, though it doesn’t cover its shadow standard, it still amuse me, though the emotional connection is still, on and off.”

Jika dibandingkan dengan Little Miss Sunshine, mungkin Sunshine Cleaning mempunyai lebih sedikit kejutan dengan ending yang cenderung kurang surprise dan biasa saja. Namun banyak karakter disini yang coba ditawarkan, seorang Ibu yang menjadi simpanan pacar SMA-nya, seorang adik yang kurang reliable untuk mengatur hidupnya, seorang anak yang selalu bermasalah namun sebenarnya pintar, dan seorang kakek keren yang mencoba berbisnis apapun untuk membahagiakan cucunya. Itu semua sebenarnya indikasi baik bahwa film ini cukup menokohkan setiap karakternya walaupun dalam dosis yang sangat standar.

Film ini juga lebih ingin bermain pada emosi terutama untuk karakter Norah yang mencoba stalking salah satu keluarga korban, namun terlihat bingung mau apa, sehingga kurang menjadi koneksi yang jelas sepanjang film, kesedihan emosi terkadang terlihat namun terkadang hanya off dan on. Untuk karakter Rose, cerita lebih berkonsentrasi pada “kekecewaan”nya kepada dirinya sendiri di posisi sosialnya, berperan sebagai ibu, pelayan, dan juga mantan cheerleader yang menjadi simpanan orang.

Jika bertanya bagaimana penampilan Adams dan Blunt, sebenarnya mereka mempunyai cukup meyakinkan sebagai kakak beradik, dengan performa “cukup” seperti peran-peran mereka sebelumnya. Rose dengan peran khas Amy Adams, dan Emily Blunt sebagai mean gothic girl yang mengingatkan kita pada perannya di Devil Wears Prada.

Film yang diawali dengan black comedy di awal scene-nya ini mungkin menginginkan sesuatu yang lebih real, lebih nyata, dengan menghadirkan permasalahan yang tidak berlebihan, dengan solusi yang tidak muluk-muluk pula, namun terkadang audience needs more, sehingga film  ini terlihat tidak generic, dan bisa diingat. Walaupun begitu, film ini masih enganging dari awal sampai akhir.

This movie is really about life is messy business, with messy job, messy family, messy life, messy son, messy sister, messy friend, all about messy.

Trivia

Feature kedua, setelah Emily Blunt dan Amy Adams bermain di Charlie Wilson’s War, dan sebelum mereka dipertemukan kembali di The Muppets.

Quote

Joe Lorkowski : It’s a business lie, it’s different from a life lie.

Julie & Julia (2009) : Two True Culinary Stories in One Movie

Sutradara : Nora Ephron

Penulis : Nora Ephron (screenwriter)

Pemain : Amy AdamsMeryl Streep, and Stanley Tucci

“There’s no something wrong with Julia’s segment, but Meryl Sreep makes Julie’s segment is like a magnet.”

 

About       

Dua buah cerita nyata yang menceritakan tentang Julia Child (Meryl Streep) dan Julia Powell (Amy Adams). Julia Child adalah seorang wanita biasa dengan kehidupan yang membosankan sebelum ia berkenalan dengan dunia kuliner yang membuatnya sebagai wanita yang memperkenalkan masakan Perancis ke Amerika. Beberapa decade kemudian, Julia Powell, dengan kehidupan yang cenderung membosankan menemukan sebuah tantangan untuk memasak semua masakan dalam buku Julia Child dalam kurun waktu satu tahun untuk ia publish di blog pribadinya.

Karya ini menjadi karya terakhir Nora Ephron sebelum ia meninggal.

Streep is magnet, Adams is good

Film yang mengandung dua segmen cerita ini terasa bahwa segmen Julia jauh mempunyai daya tarik yang luar biasa, didukung oleh penampilan Meryl Streep dan chemistry-nya dengan Stanley Tucci membuat film ini jauh dari kesan mediocre. Sedangkan Amy Adams dalam segmen Julie-nya membuat segment ini ‘charming’, masih, walau kemampuan acting Adams tidak terlihat menonjol.

Film manis dan sangat ringan ini akan mengocok perut, dan karena ‘ringan’ itu, film ini terkesan kurang berklimax namun sangat menghibur.

Trivia

Meryl Streep pernah bekerja sama dengan Amy Adams lewat Doubt dimana keduannya mendapatkan nominasi Oscars, dan pernah bekerja sama dengan Stanley Tucci lewat Devils Wears Prada.

Quote    

Julia Child : Incidentally, my father is horrified I’m going to cooking school. Offered to give me extra money to hire a cook.