Emily Blunt

Sicario (2015) : Pristine Work of Criminal, Another Dennis Villeneuve’s with Bargain Power

Director :  Denis Villeneuve

Writer : Taylor Sheridan

Cast : Emily Blunt, Josh Brolin, Benicio Del Toro

(REVIEW) Di Meksiko, Sicario berarti Hit-man sedangkan di tangan dingin Dennis Villeneuve, Sicario merupakan sebuah sajian yang begitu kabur, brutal, gelap, begitu pelan mendidihkan plot-nya namun ketika batas antara hitam dan putih mulai terlihat, sudah terlalu terlambat untuk keluar. Yah, Sicario is a clean shot, pristine work of criminal, dan menggunakan alam kriminal kartel sendiri yang tak pernah berada di titik trik sederhana, Sicario menjelaskan kegelapan tanpa kehilangan kegelapan itu sendiri.

Dampak emosional, sesuatu yang mungkin jarang dilewatkan oleh Dennis Villeneuve, dan tangan sutradara ini langsung diperpanjang dengan karakter Kate Macer (Emily Blunt). Setiap peluru yang ditembakkan oleh anggota FBI ini dengan seketika membuka sedikit gap untuk karakternya dengan seketika merasa bersalah dengan objek tembakannya. Tanpa kecuali, ketika sebuah adegan penggerebekan, ia menembak seorang anak buah anggota gudang drugs yang berusaha menyerangnya, sebuah peluru yang memperkenalkan kita pada gejolak dalam diri Kate sebagai manusia biasa, sekaligus pada alam film ini bahwa tak ada satupun peluru yang terbuang tanpa memberikan reaksi balik.

(more…)

Advertisements

Annual List (2014) : Best Performances and Best Pictures

2014 memang sudah berakhir satu, hampir dua bulan yang lalu. Dan, dengan semangat menonton satu demi satu film, akhirnya berikut inilah sepuluh film terbaik, dengan lima penampil terbaik di masing-masing kategori, dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Trust me ! Menyortir film dengan banyak treatment yang berbeda mulai dari film yang mulai kabur karena ditonton awal tahun, film yang masih terlihat bagus karena baru saja ditonton, film yang mulai menaikkan impresi dengan multiple viewing, dan juga sebaliknya, sampai pendapat yang terkadang harus diakui terpengaruh dari buzz ekternal.

(more…)

The Devil Wears Prada (2006) : A “Supposed to be Chick Flick” Movie That Refuses To Be “THAT’S ALL”

Director : David Frankel

Writer : Aline Brosh McKenna,  Lauren Weisberger

Cast : Anne HathawayMeryl StreepEmily BluntStanley Tucci

Streep’s Streak Challenge

“This stuff? Oh. Okay. I see. You think this has nothing to do with you. You go to your closet and you select. I don’t know that lumpy blue sweater, for instance because you’re trying to tell the world that you take yourself too seriously to care about what you put on your back. But what you don’t know is that that sweater is not just blue, it’s not turquoise. It’s not lapis. It’s actually cerulean. And you’re also blithely unaware of the fact that in 2002, Oscar de la Renta did a collection of cerulean gowns. And then I think it was Yves Saint Laurent wasn’t it who showed cerulean military jackets? I think we need a jacket here. And then cerulean quickly showed up in the collections of eight different designers. And then it, uh, filtered down through the department stores and then trickled on down into some tragic Casual Corner where you, no doubt, fished it out of some clearance bin. However, that blue represents millions of dollars and countless jobs and it’s sort of comical how you think that you’ve made a choice that exempts you from the fashion industry when, in fact, you’re wearing the sweater that was selected for you by the people in this room from a pile of stuff.” – Miranda Priestly

That is a long one, yeah but I copy-paste it because this is why this movie is so good. Best explanation of fashion I ever heard.

Andrea or Andy or The New Emily (Anne Hathaway) mendapatkan sebuah pekerjaan barunya yang sama sekali bertolak belakang dengan virtue, karakter atau bahkan pengetahuannya. Walaupun ia seorang jurnalis dengan segudang prestasi dan sangat pintar, namun pengetahuannya tentang fashion sama sekali nol. Nol besar, dia bahkan tidak bisa mengeja G-A-B-A-N-N-A. Menjadi seorang asisten Miranda Prestley (Meryl Streep) tentu saja akan memerlukan hal itu semua, tidak hanya cerdas, fashionable tapi juga harus melakukan yang tidak mungkin menjadi mungkin, termasuk mencari unpublished manuscript of Harry Potter. Tekanan perfeksionist Miranda Prestley ini menjadi memburuk ketika seniornya, Emily or The Real Emily (diperankan oleh EMILY Blunt) sama sekali tidak suportif dan selalu membayang-bayangi kinerjanya, akankah Andy mampu bertahan menjadi seorang asisten chief editor di majalah kelas atas itu ? Atau dia hanya akan RUN(a)WAY ?

Yeah, revision for its title, that’s all with question mark (???) Mengapa demikian ? Jika ditilik kembali, terutama mengenai plot-nya, it’s so chick flick. Seorang gadis yang tidak menyadari bahwa dirinya cantik, kemudian lambat laun berubah dan akhirnya mengalami konflik batin atas perubahan ini. Formulaic ? Yeah ! Ditangan yang salah (dalam hal ini juga termasuk di tangan cast yang salah), film ini hanya akan berakhir menjadi sebuah film-film penghibur cewek-cewek penggila fashion, namun tidak sangka film ini dapat melalui batasan-batasan tersebut. Berikut ini adalah alasannya.

For the chick flick and movie about fashion, film ini pastinya telah memberikan sebuah pondasi yang kuat. Aktris dengan fisik rupawan, tidak tanggung-tanggung sekelas Anne Hathaway yang image “princess”-nya masih melekat kuat, ditambah berbagai style, costume design yang tidak segan-segan memamerkan brand-nya (termasuk di judulnya), Calvin Klein, Chanel, et se te ra, et se te ra. Dari segi costume design-nya saja film ini sudah terlihat above-average dari chick flick biasa. Namun film ini tidak ingin berakhir seperti hanya sebatas film ini saja.

Ingatkah apa yang dikatakan Colin Firth beberapa Oscar yang lalu ? Bahwa, Meryl Streep raises the bar. Yeah, bisa dikatakan film ini adalah salah satu film yang didongkrak oleh kekuatan Meryl Streep sebagai seorang vicious editor dari majalah Runway. Berperan sebagai stylish antagonist, Streep menggunakan semua atribut seperti tata rambut, aksen, body language, dan terutama pasti ekspresi wajahnya. Miranda Pristly tidak akan secemerlang ini jika bukan Streep yang memerankan, sebuah penampilan yang bisa dikatakan selalu eksklusif di tiap scene-nya, mematikan, namun di sisi lain Prestley hanyalah wanita yang terjebak pada sifat obsesi dan perfectionistnya. Penonton yang lebih banyak disuguhkan sudut pandang dari Andy membuat jatah Streep di layar benar-benar begitu dinantikan, dan bukan Streep jika ia tidak memanfaatkan semaksimal mungkin, termasuk pada scene dimana sepertinya Streep akhirnya menanggalkan semua make-upnya dan mulai tersirat untuk terbuka kepada Andy tentang kehidupannya. Jika Miranda Prestley memang benar sebuah karakter fiksi yang didasarkan dari seorang tokoh nyata, seorang editor majalah Vogue, Anna Wintour, sepertinya versi Meryl Streep terlihat lebih vicious dan meyakinkan ketimbang Anna Wintour itu sendiri ( I talk physically).

Another actress ? Yeah, sepertinya Emily Blunt harus dianugerahi sebagai penggunaan eye shadow, eye liner, atau apalah itu yang benar-benar mendukung penampilannya, ditambah dengan aksen Britishnya yang menambah variasi karakter di film ini. Stanley Tucci plus feminim side juga merupakan awal mengapa ia sempurna sebagai Caesar Flickerman, ia juga melebihi ekspektasi. Karakter Emily dan Nigel ini merupakan sebuah representasi slavery dari sebuah pekerjaan.

Fine performance justru dipertunjukkan oleh Anne Hathaway, I am saying a lot, but Anne Hathaway as beautiful good girl ? PLEASE !!! Salah satu sisi paling krusial namun tidak dipertunjukkan adalah semangat ambisi dan passion Andy di dunia non-fashion yang seharusnya “sedikit” dipertunjukkan untuk membuat ending film ini terlihat lebih relevan. Sisi jomplang justru malah dipertunjukkan pada kehidupan personal Andy, ketika ia bersama teman dan pacarnya, sepertinya film ini menjadi redup dan terlalu kehilangan daya tariknya. I hate her whe she’s with Nate, Nate is her boyfriend. Isu klise juga diangkat pada hubungan percintaan Andy dan Nate ini, OH PLEASE, I think everybody agrees Anne Hathaway is beautiful-er as Priestley assistant, FUCK YOU, Nate, and your friend.

Shallow ? Yes. Light ? Yes. Film ini memang terkesan sangat dangkal, sebuah film yang menyebut jurnalisme dan dunia fashion namun kurang adanya sisi komprehensif tentang dunia tersebut. Satu-satunya scene yang begitu komprehensif hanyalah ketika Miranda Prestley menganalisis sweater biru yang dipakai Andy, and that’s all. Yeah, kembali lagi film ini memang bukan tentang dunia jurnalisme, atau dunia media, atau bahkan fashion, melainkan memang dunia Andy + Prestley + a little bit of Emily and Nigel (Stanley Tucci). Lebih jauh lagi, film ini malah lebih memperlihatkan sisi kejamnya iblis tentang work ethic terutama pada rekan kerja, bagaimana satu karakter men-tackle karakter lain, bagaimana sebuah keputusan yang benar ternyata harus mengorbankan yang lain, dan satu pelajaran dari film ini, IF YOU DON’T LIKE YOUR JOB, QUIT !!!!

Film ini memang terlalu formulaic, dan mudah ditebak, namun di satu sisi, film ini memenuhi salah satu tujuan menonton film, yeah ENTERTAINING, with top notch performance of Streep, membuat film ini sedikit bisa meleluasakan tali “chick-flick”-nya dan dapat ditonton oleh siapa saja. And, label it as one of my favorite movies all the time, yeah it’s perfect movie when my head and brain hurts, I am talking like this “in good way”.

“This chick flick is not just blue, but a little bit cerulian, turquoise, lapis too.”

Sunshine Cleaning (2008) : A Bio Hazard Clean Up (Life Problem) Service of Unreliable Sisterhood

Director : Christine Jeffs

Writer : Megan Holley

Cast : Amy AdamsEmily BluntAlan Arkin

About

Keberhasilan Little Miss Sunshine, yang ditandai dengan menangnya Alan Arkin sebagai Best Performance in Supporting Role dan Abigail Breslin meraih nominasi Oscarsnya dan mengantarkannya ia ke karirnya saat ini, sepertinya ingin diulang dengan membuat film dengan judul yang (hampir) sama, Sunshine Cleaning.

Masih berkutat dengan broken family, Sunshine Cleaning merupakan nama jasa pembersihan crime scene yang dilakukan dua bersaudara, Rose (Amy Adams) yang berkarakter lebih mandiri, single parent, dan seorang pelayan, dan Norah (Emily Blunt), adiknya yang tidak bisa mengurusi dirinya sendiri. Dengan carut marutnya kehidupan mereka, pekerjaan ini sama sekali tidak mudah, karena setiap kali mereka membersihkan crime scene (terutama pembunuhan, atau suicide), mereka (terutama Norah) mengalami hubungan emosional dengan tempat tersebut akibat sebuah ingatan masa lalu yang menyedihkan. Hubungan kakak-beradik ini diuji ketika banyak hambatan yang ada dalam pekerjaan ini.

Berperan pula, sebagai ayah, dan kakek bagi anak Rose, Alan Arkin sebagai Joe Lorkowski, yang sedikit banyak me-reprise perannya sebagai foul mouthed grand father di Little Miss Sunshine, hanya saja di film ini ia menghilangkan segala umpatan dan lebih entrepreneur wanna be untuk membahagiakan cucu semata wayangnya, Oscar (Jason Spevack). Oscar juga mempunyai karakter yang bermasalah seperti halnya karakter Abigail Breslin di Little Miss Sunshine.

“There are quite characters here, though it doesn’t cover its shadow standard, it still amuse me, though the emotional connection is still, on and off.”

Jika dibandingkan dengan Little Miss Sunshine, mungkin Sunshine Cleaning mempunyai lebih sedikit kejutan dengan ending yang cenderung kurang surprise dan biasa saja. Namun banyak karakter disini yang coba ditawarkan, seorang Ibu yang menjadi simpanan pacar SMA-nya, seorang adik yang kurang reliable untuk mengatur hidupnya, seorang anak yang selalu bermasalah namun sebenarnya pintar, dan seorang kakek keren yang mencoba berbisnis apapun untuk membahagiakan cucunya. Itu semua sebenarnya indikasi baik bahwa film ini cukup menokohkan setiap karakternya walaupun dalam dosis yang sangat standar.

Film ini juga lebih ingin bermain pada emosi terutama untuk karakter Norah yang mencoba stalking salah satu keluarga korban, namun terlihat bingung mau apa, sehingga kurang menjadi koneksi yang jelas sepanjang film, kesedihan emosi terkadang terlihat namun terkadang hanya off dan on. Untuk karakter Rose, cerita lebih berkonsentrasi pada “kekecewaan”nya kepada dirinya sendiri di posisi sosialnya, berperan sebagai ibu, pelayan, dan juga mantan cheerleader yang menjadi simpanan orang.

Jika bertanya bagaimana penampilan Adams dan Blunt, sebenarnya mereka mempunyai cukup meyakinkan sebagai kakak beradik, dengan performa “cukup” seperti peran-peran mereka sebelumnya. Rose dengan peran khas Amy Adams, dan Emily Blunt sebagai mean gothic girl yang mengingatkan kita pada perannya di Devil Wears Prada.

Film yang diawali dengan black comedy di awal scene-nya ini mungkin menginginkan sesuatu yang lebih real, lebih nyata, dengan menghadirkan permasalahan yang tidak berlebihan, dengan solusi yang tidak muluk-muluk pula, namun terkadang audience needs more, sehingga film  ini terlihat tidak generic, dan bisa diingat. Walaupun begitu, film ini masih enganging dari awal sampai akhir.

This movie is really about life is messy business, with messy job, messy family, messy life, messy son, messy sister, messy friend, all about messy.

Trivia

Feature kedua, setelah Emily Blunt dan Amy Adams bermain di Charlie Wilson’s War, dan sebelum mereka dipertemukan kembali di The Muppets.

Quote

Joe Lorkowski : It’s a business lie, it’s different from a life lie.

Your Sister’s Sister (2012) : Complicated Triangle Situation Happens on A Remote Island

Sutradara : Lynn Shelton

Penulis : Lynn Shelton

Pemain : Emily Blunt, Rosemarie DeWitt and Mark Duplass

Tagline : A comedy about doing the right thing with the wrong person

“A simple premise is executed by warm way and anchored by trio with strong bond and improvised performances.”

About

Ketika hidup Jack (Mark Duplass) berantakan paska kematian kakaknya, sahabat terbaiknya, Iris (Emily Blunt) mengirimnya ke sebuah pulau terpencil, tanpa tv, tanpa koneksi internet, untuk menenangkan diri. Di sebuah kabin pinggir danau, Jack bertemu dengan Hannah (Rosemarie DeWitt), kakak Iris yang baru saja putus dari pacar lesbiannya. Mereka menghabiskan kebersamaan mereka di suatu malam dengan cara yang tidak biasa, menciptakan sebuah masalah ketika Iris tiba-tiba ikut datang ke pulau tersebut.

The trio is involving each other, creating very an adult triangle situation.

Premis yang terkesan biasa dan pasaran ini berhasil dieksekusi dengan mengejutkan, sebuah sentuhan yang memberi pesan tentang persaudaraan, pertemanan dan sebuah hubungan dewasa diantara ketiganya. Ditambah, penampilan dari trio actor yang benar-benar sangat mengalir dan sebenarnya penuh improvisasi membuat film ini sangat tidak membosankan. Akting mereka terkesan natural namun tidak datar, menampilkan emosi yang tidak berlebihan. Blunt dan Dewitt yang berhasil menciptakan chemistry benar-benar seperti kakak beradik yang telah membentuk ikatan puluhan tahun, Duplass yang selalu memberikan kesan charming sama halnya seperti pada film terbarunya Safety Not Guaranteed atau penyutradaraanya dalam film Jeff, Who Lives At Home.

Premis juga berhasilkan dikembangkan dengan memberikan sedikit twist sebagai konflik puncak di akhir film ditambah dengan ending film cukup special, berbeda seperti film rom-com pada umumnya.

Film yang berdurasi sekitar 90 menit ditambah settingan waktu dalam film yang mengambil sekitar 3 hari ini tidak berkesan monoton karena ketiga actor tersebut berhasil membentuk hubungan segitiga yang dinamik, penuh dialog biasa yang cepat dilontarkan dan diimprovisasi namun kaya makna.

Trivia

Rachel Weisz meninggalkan projek untuk mengerjakan film The Deep Blue Sea.

Quote

Jack : Here’s the deal. New rule. No talking behind anybody’s backs in this house, all right ?

Looper (2012) : Levitt Versus Willis in Time Travel Flick

Sutradara : Rian Johnson

Penulis : Rian Johnson

Pemain :  Joseph Gordon-LevittBruce Willis, Emily Blunt, Paul Dano

Tagline : Hunted by your future. Haunted by your past.

“Puzzles which will haunt even after the credit rolls. Easy on yourself, fuck it ! It’s still a solid entertainment.”

About

Tahun 2012 bisa dikatakan sebagai tahunnya Joseph Gordon Levitt. Setelah sukses besar menemani Batman menyelamatkan Gotham City dalam The Dark Knight Rises dan mengobrak abrik kota Manhattan dengan sepeda tanpa remnya dalam Premium Rush, Joseph Gordon Levitt kembali hadir dalam film Sci-Fi “Looper’. Looper sendiri adalah kolaborasi ketiga antara Joseph Gordon Levitt dan Ryan Johnson setelah mereka bekerja sama dalam Brick dan uncredited role Levitt dalam The Brothers Bloom. Selain berperan sebagai actor, Levitt juga menjabat sebagai executive producer dalam film ini.

Pada tahun 2074, sebuah mesin waktu ditemukan untuk mengirim kembali manusia ke masa lalu. Di tahun 2044 inilah, Joseph Gordon Levitt berperan sebagai Joe, sang pembunuh yang disebut looper. Looper sendiri adalah pembunuh bayaran yang bertugas membunuh orang-orang yang dikirim dari masa depan oleh organisasi mafia. Ketika Older Joe, diperankan Bruce Willis, dikirim dari masa depan untuk dihabisi dirinya sendiri, maka inilah saatnya Joe untuk mengakhiri kontrak sebagai looper (closing the loop). Namun, sepertinya Joe ‘sedikit’ membuat masalah akan hal itu.

It’s Haunting Even After Credit Rolls

Looper mendapatkan banyak pujian setelah film ini diputar dalam Festival Film Toronto 2012 yang sekaligus menyebabkan hype dan ekspektasi yang sangat tinggi akan film ini. Benar saja, film ini mampu membuktikan sebagai hiburan menawan tentang time travel yang telah sering diangkat oleh Hollywood. Diawali dengan premise yang menarik, film ini mulai menebar puzzle-puzzle di tengah film. Saat itulah penonton mulai berpikir kemanakah arah cerita akan diarahkan. Tidak mudah memang, namun film ini masih sangat bisa dinikmati hingga akhir cerita. Plus, penonton akan masih dibuat berpikir akan possibility-possibility yang kemungkinan terjadi setelah ending. Pikiran akan terus berputar-putar mengingat cerita film ini tentang time travel dimana kejadian masa sekarang akan mempengaruhi masa depan. Fuck it ! adalah solusi setelah film ini karena memang akan banyak interpretasi akan film ini.

Film ini menyajikan action yang tidak berlebihan dan beberapa adegan terasa sangat intens dan thrilling untuk ditonton. Ditambah performance dari pemainnya, terutama Emily Blunt, yang sangat meyakinkan sedangkan penampilan Bruce Willis masih biasa saja dan ada yang aneh dengan penampilan Levitt (mungkin karena factor make up-nya). Satu lagi yang memukau adalah penampilan dari actor cilik, Pierce Gagnon, yang berhasil memberikan ekspresi ‘kengerian’ dan misteri dalam plot.

Kesimpulannya, film ini adalah hiburan yang sukses menghantui penontonnya bahkan setelah film selesai di bioskop, terutama dari sisi plot-nya.

Trivia

Emily Blunt bersedia membintangi film tanpa tahu karakter apakah yang akan ia mainkan.

Quote

Joe : ….. then I change it.

The Five Year Engangement (2012) : Be Longer, More Problems

Sutradara : Nicholas Stoller

Penulis : Jason Segel, Nicholas Stoller

Pemain : Jason Segel, Emily Blunt, Chris Pratt

“It’s just about ‘too high’ expectation, this engagement is very long and flat though there’s a lot of ‘more observation’-thing about relationship.”

About
Tom (Jason Segel) melamar Violet (Emily Blunt) hanya berselang satu tahun setelah mereka bertemu. Namun, ada saja hal yang membuat keduannya menunda pernikahan hingga mereka menyadari bahwa hubungan mereka kini telah mulai berubah dan tidak semudah seperti dulu lagi.

Ditulis oleh Jason Segel sendiri, diproduseri Judd Appatow dan disutradarai oleh Nicholas Stoller, sutradara dari Forgetting Sarah Marshall.

It’s kind of laboratory of relationship
Setelah sukses duet menulis mereka dalam The Muppets, Segel dan Stoller kembali berduet dalam film ini. Disertai dengan embel-embel nama Judd Apatow merupakan hal yang sangat wajar jika film ini mempunyai ekspektasi yang tinggi dari penonton. Ekspektasi yang timbul mungkin lebih ke film yang sangat menggugah tawa seperti Bridesmaid atau penuh dengan jokes segar ala The Muppets.

Namun tidak, The Five Year Engangement selayaknya laboratorium hubungan antara 2 orang dengan durasi yang tergolong panjang demi mendapatkan sebuah ending yang sebenarnya bisa diprediksi.

Namun film ini memberikan peluang bagi penonton untuk lebih memikirkan hal-hal baru dalam sebuah relationship yang membuat film ini berbeda dari komedi romantis dengan formulaic plot yang ada. Selain chemistry Segel dan Blunt yang cukup kuat dengan ke’bland’an dari segel dan ke’charming’an dari Blunt.

Trivia
Emily Blunt muncul sebagai cameo di The Muppets dimana ia memparodikan perannya di film Devil Wears Prada.

Quote
Violet : Are you pregnant ?
Suzie : Just a little bit.

Salmon Fishing in The Yemen (2012) : Rom-com in Sheik’s ‘Impossible’ Project

Sutradara : Lasse Hallström

Penulis : Simon BeaufoyPaul Torday (novel)

Pemain : Ewan McGregorEmily Blunt and Kristin Scott Thomas

Tagline : Make The Improbable Possible

“Not like it’s boring title, this movie is good enough rom-com.”

About                                                     

Dengan jaminan penulis dari Slumdog Millionaire dan 127 Hours, ditambah sutradara yang kerap menggarap cerita melankolis seperti Dear John dan ditambah pemain-pemain yang sudah dikenal, film ini bercerita tentang sebuah projek visionary yang ingin diwujudkan seorang Syeik dengan bantuan Dr. Jones (Mcgregor) dan konsultannya, Harriet (diperankan Blunt). Sebuah projek mustahil dan penuh filosofi untuk membangun sebuah pemancingan di tengah gersangnya Yemen.  Keyakinan mereka diuji ketika masing-masing masalah pribadi dalam hidup mereka turut ikut campur dalam pembangunan projek ‘mustahil’ ini.  Ditambah intrik yang  turut diperankan oleh artis kawakan Kristin Scott Thomas yang memerankan tokoh eksentrik, Patricia Maxwell.

Nice chemistry, nice screenplay, cliché ending

Tidak seperti judulnya yang sudah berkesan membosankan, dua penampilan dari leading role British membuat komedi romantic ini terasa menyenangkan dan mengalir, ditambah cerita yang tidak hanya berkutat pada percintaan, namun dibumbui dengan hal-hal imliah dan intrik seputar projek ini membuat komedi romantic ini terasa berbeda dari cerita kebanyakan. Ditambah, penampilan Kristin Scott Thomas yang malah sering membawa jokes segar disertai dengan screenplay yang cerdas membuat film ini menjadi menyenangkan.

Hanya saja ending cerita ini terkesan sangat klise, mudah ditebak, dan kurang menunjukkan emosi karakter yang sebenarnya menjadi hal yang terlalu umum seperti pada film kebanyakan walaupun untuk penonton yang tidak berharap lebih, ending ini akan sangat memuaskan. Namun, karena film ini merupakan adaptasi dari novel, ending ini sangat menunjukkan sisi melankolis dari novel bersangkutan.

Quote

Dr. Alfred Jones       : It’s theoretically possible in the same way as a manned mission to Mars is theoretically possible.