Adam Wingard

The Guest (2014) : Such an Awesome Mixtape of 80’s Homage Lacks “Blender on The Head” – Euphoria

Director : Adam Wingard

Writer : Simon Barrett

Cast : Dan Stevens, Sheila Kelley, Maika Monroe

God ! How many times I have to tell you : don’t talk to stranger ! Don’t let them in ! Don’t let them sleeping in your house.

(REVIEW) Setelah melakukan permaks total pada karakter Final Girl di You’re Next, pasangan director dan screenwriter – Adam Wingard dan Simon Barret ternyata tidak takut jatuh pada formula yang sama “unique home invasion but now with standard final girl”, namun hal ini mereka lakukan dengan tujuan hanya untuk bersenang-senang lewat music (yang terkadang bizzare untuk didengar namun cukup efektif), bersenang-senang yang menunjukkan bagaimana resourceful-nya mereka lewat property dan set design, dan dengan dukungan beberapa elemen akting yang pas, The Guest merupakan revisiting genre action/thriller yang terkadang berasa campy namun satu hal yang tak bisa dipungkiri : menyenangkan.

Film dibuka dengan sebuah sentuhan yang berbeda dari Adam  Wingard – stylish improvement, mengingat dua karya terakhirnya kelewat masuk ke found footage atau You’re Next yang terkesan biasa dan cenderung mengarah ke mumblecore. Ada sentuhan yang indah lewat tata kamera, atau image-image cantik seperti kengeringan labu Halloween yang dipadukan dengan cantiknya cahaya langit, atau scene awal film yang mengeluarkan effort berupa penampakan seorang laki-laki misterius yang sedang berlari dan disertai dengan judul tiba-tiba “The Guest” – Jreng !

(more…)

Advertisements

You’re Next (2011) : Breaking The Door of Home Invasion with “Fighting Back” Final Girl

Director : Adam Wingard

Writer : Simon Barrett

Cast : Sharni Vinson, Joe Swanberg, AJ Bowen, Wendy Glenn, Nicholas Tucci

About

WHOOPSIE WRONG MOVIE POSTER !!!!!!

BY THE WAY, HAPPY NEW YEAR 2014 ( I know, I know what you guys thinking, I celebrated too (in my way))

This is the right one,

Selama dua tahun berturut-turut, terasa menyedihkan ketika film bergenre horror thriller merupakan film yang mengalami penundaan untuk perilisannya.Jika di tahun 2012, kita mempunyai The Cabin in The Woods yang bisa dikatakan super jenius, di tahun 2011 ini ada You’re Next yang menjadi salah satu film yang paling diantisipasi. Walaupun, sudah malang melintang di berbagai festival di tahun 2011, namun film ini masih banyak yang mencantumkannya ke dalam Top Movie di tahun 2013.

Apa yang terlintas ketika mendengar kata “home-invasion” ? Yah, satu, dua, atau beberapa orang yang kemudian diteror biasanya oleh stranger memakai topeng di rumah sendiri. Walaupun tidak banyak menonton mini genre ini, namun mini-genre ini tetap menjadi hal yang menarik. I like Camilia Belle’s When The Stranger Calls, atau The Strangers, atau yang paling mengecewakan dan tidak mampu mengeksekusi premis menarik, The Purge. You’re Next bercerita tentang sebuah reuni keluarga yang bersamaan dengan anniversary pasangan suami istri (Rob Moran, Barbara Crampton), seketika anak-anak mereka bersama pasangannya pun datang, yaitu Crispian (A.j Bowen) dan Erin (Sharni Vinson), Felix (Nicholas Tucci) dan Zee (Wendy Glenn), Drake (Joe Swanberg) dan yang lainnya. Sebuah adegan makan malam pun berubah seketika menjadi seperti “last supper” ketika sekelompok orang memakai topeng mengarahkan panah demi panah untuk membunuh mereka, yeah mereka dikenal dengan “animal”. Bisa bertahankah mereka ?

“Thank God, someone has a brain.”

Kalau sinopsis hanya sampai situ sepertinya tidak ada yang spesial kecuali satu persatu orang akan terbunuh dengan berbagai macam cara, yeah pure torture, and sometimes guilty pleasure. Mengapa film ini menjadi menarik ? This is it, and this is SPOILER !!!!!

Final girl, istilah ini bisa dikatakan sudah sangat lekat dengan genre horror thriller, bahkan The Cabin in The Woods sendiri mengungkap mengapa harus ada final girl dalam setiap peristiwa. Final girl biasanya digambarkan sebagai cewek yang “innocent”, paling baik, manis, dan beruntung, makanya karakter ini biasanya akan bertahan sampai akhir. Siapakah final girl di film ini ? Yep, dia adalah Sharni Vinson aka Erin. Film ini membuktikan bahwa merubah satu karakter saja ternyata mampu merubah sebuah film. Erin bukanlah tipe final girl yang lemah, ia mempunyai “kekuatan” tersendiri, ia pintar, dan ia mampu mengontrol dirinya sendiri di tengah situasi yang sedang genting-gentingnya. Walaupun dari segi akting tidak terlalu spesial, Sharni Vinson berubah menjadi karakter yang paling kick-ass dengan penuh jebakan-jebakan. Karakter inilah yang menjadi karakter pemecah segala klise yang ada pada genre serupa. Bagaimana Erin tanggap dan cepat mengambil keputusan, atau respon cepatnya terhadap “animal”, membuat kita berpikir “Thank God, somebody has a brain.”

Erin bukanlah sekedar karakter. Film yang tergolong komedi ini kemudian membandingkan Erin yang “berotak” dengan para karakter yang sepertinya masih terlihat bodoh untuk keluar dari situasi ini. Yah, mereka berlari ke luar rumah sambil teriak, kemudian meninggalkan seseorang di dalam ruangan sendiri, dan lainnya, membuat karakter Erin jauh terlihat superior. Ekspresi-ekspresi bodoh yang sebenarnya tidak pada tempatnya ini banyak mengundang tawa, yeah, walaupun mereka kebanyakan histeris.

Jika kebanyakan film ini menghadirkan villain atau stranger yang sempurna, You’re Next bisa dikatakan pada titik tertentu akhirnya “memanusiakan” karakter “animal” mereka. Yeah, pada beberapa moment, kita merasa bahwa Animals ini ya masih manusia, bukanlah malaikat pencabut nyawa yang akan hidup lagi setelah ditusuk berkali-kali. Sisi “memanusiakan” ini juga terlihat pada “cara mati” dari karakternya yang bisa dikatakan “yaaa, sadis” namun tidak “berlebihan”. Dengan beberapa sabetan machete, mereka langsung meregang nyawa. Maksudnya, di film ini masih mempertimbangkan batas tubuh manusia terhadap rasa sakit and that’s a rare thing. Sisi buruknya, mungkin untuk para penggila genre yang demanding dengan slasher atau semacamnya, film ini tidak terlalu menonjolkan sisi tersebut walaupun pada salah satu adegan klimax, satu scene benar-benar ngilu untuk dilihat.

Film ini juga menghadirkan seolah-olah “middle twist”, I like this kind of thing. Walaupun middle twist ini masih tergolong “predictable”, namun twist yang satu ini menjawab berbagai adegan di awal yang menunjukkan bahwa sutradara Adam Wingard masih mengutamakan unsur-unsur detail dalam sebuah cerita. Twist yang mengungkap arti “animal” ini sebenarnya sangat standard namun bisa dicover dengan twist yang sebenarnya, yaitu karakter dari Erin.

Film ini memang masih jauh dari sempurna, namun bagaimana film ini meng-combine sisi klise dan antiklise secara bersamaan, harus diacungi jempol.

Trivia

Ti West, Joe Swanberg juga merupakan aktor sekaligus director (untuk film mereka masing-masing). Is this kind of cartel or nepotism ? Haha

Quote

Erin: Why the fuck not?

V/H/S/2 (2013) : Ghosts. Zombies. Pagan-Cult. Alien. One Package

Director : Simon Barrett, Jason Eisener, Gareth Evans, Gregg Hale, Eduardo Sánchez, Timo Tjahjanto, Adam Wingard

Writer : The writer is the director (mostly)

Cast : Hannah Al Rashid, Fachry Albar, Oka Antara, Epy Kusnandar (yep, they are Indonesian)

“More compelling than the previous one, but less thrilling for whole movie, at least there’s a pride here that Safe Haven is a kickass.”

Setelah V/H/S cukup menyita perhatian tahun lalu, hadir kembali sekuelnya. Sekuel yang pada awalnya diberi judul S-VHS ini mempunyai segmen yang lebih sedikit sehingga per segmen mempunyai jatah durasi yang lebih panjang. V/H/S/2 terdiri dari empat segmen yang semuanya mewakili empat storyline yang berbeda.

Lebih specialnya, salah satu segmen disutradarai dari hasil kolaborasi dua orang sutradara yang telah melambungkan nama Indonesia ke dunia internasional, Gareth Evans yang melambung lewat film action The Raid, dan Timo Tjahjanto yang mampir beberapa festival international lewat film Macabre / Rumah Dara dan tengah mempersiapkan projek internationalnya yaitu Killers. Iya, iya mereka disejajarkan dengan sutradara Blair Witch Project, You’re Next, etc.)

TAPE 49

Segmen ini merupakan segmen transisi atau penghubung untuk segmen-segmen yang lain. Masih berhubungan dengan segmen transisi di film pertama, segmen ini bercerita tentang pasangan yang mencari seorang remaja yang hilang dengan membobol sebuah rumah (rumah yang sama seperti V/H/S) dan menemukan tape-tape aneh yang mereka mainkan tanpa menyadari bahwa mereka dalam bahaya.

Untuk segmen transisi ini, segmen pada V/H/S jauh lebih thrilling dan fresh (yah tentu saja), walaupun pada akhir film, segmen ini mempunyai twist yang berbeda dengan V/H/S, walaupun masih tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan misteri apakah yang terdapat pada rumah tersebut (sepertinya bakal membuka kesempatan untuk V/H/S/3)

Phase 1 Clinical Trial

Segmen pembuka yang satu ini akan mengingatkan kita pada film The Eye. Setelah mengalami kecelakaan, seorang pria menanamkan sebuah kamera (atau apalah) pada matanya yang selalu mereka apa yang ia lihat. Kejadian menyeramkan mulai terjadi ketika melihat fenomena gaib (oke , setan) yang mulai menunjukkan interaksi dengannya.

Segmen yang satu ini hanya mengandalkan shocking moment tanpa adanya kekuatan horror yang membangun. Dengan konsep cerita yang “sebenarnya” tidak fresh, segmen hanyalah sekedar sebuah appetizer yang berlalu begitu saja.

A Ride in The Park

Seorang sedang bersepeda di sebuah taman (setting tempat mengingatkan pada Walking Dead) dan memasang kamera yang menunjukkan segala aktivitasnya. Ia menemui seorang wanita yang menunjukkan symptom aneh dan “ya” dia tiba-tiba digigit dan akhirnya berubah menjadi zombie.

Hmm, tidak ada yang special dari segmen ini, benar-benar hanya seperti potongan yang sama pada film-film yang lain. Hanya saja, jika berhubungan dengan pengambilan gambar pada film yang berformat footage, segmen ini tahu benar bagaimana cara memaksimalkannya tanpa terkesan memaksakan. Segmen ini mengambil sudut pandang dari si zombie dan menyajikan beberapa adegan intens termasuk adegan perut dibedah. Hmmm, interesting enough ?

Safe Haven

Segmen MAIN COURSE !!!!! Selain made in Indonesia, segmen ini terbukti ampuh dan pantas untuk ditunggu. Dibintangi oleh pemeran yang sudah tidak asing lagi untuk genrenya seperti Hanna Al Rasyid (Modus Anomali, huh !), Epy Kusnandar (segmen Libido di The ABC of Death), Fachry Albar (Kala, Pintu Terlarang) dan Oka Antara (Hantu, The Shaman (is it horror movie?)).

Cerita berkisah tentang tim reporter yang meliput sebuah cult aneh dengan pemimpinnya yang sedikit “gila”. Tanpa tahu cult itu sedang menantikan apa, tim reporter ini tidak tahu apa yang sebenarnya sedang menunggu mereka. Heaven maybe ?

Pantas saja segmen ini menjadi klimaks, semua unsur yang penonton cari ada disini. Ada darah, ada misteri, ada gore. Jika dibandingkan dengan segmen lainnya, segmen inilah yang paling punya cerita dan paling sabar dalam melakukan proses “revealing”, namun ketika bell sudah dibunyikan “high paced” mulai terasa (yep, we know it’s edited by Gareth Evans, am I right ? ). Untuk penampilan para aktornya, Epy Kusnandar memberikan penampilan yang sengaja kaku (entah apa itu comical) namun weird enough untuk menyajikan lontaran-lontaran yang aneh dan sangat menggambarkan seorang pemimpin (yeah, teringat Lia Eden lah). Beberapa dialog bahasa Inggris masih terkesan kaku dan kurang lancar dan mengingatkan pada dialogue di film Modus Anomali.

Segmen ini juga diselipi dengan efek visual yang sebenarnya sangat lumayan untuk ukuran local.

Yep, segmen ini semoga dibuat versi panjangnya. Count me in. Twist di endingnya, hmmm, tak terduga.

Sumber Party Alien Abduction

Yep, segmen terakhir, menjadi segmen yang terlemah, bercerita tentang anak-anak dan remaja yang ditinggal orang tua mereka dan melakukan kekonyolan khas remaja dan kemudian harus berlari-larian karena dikejar alien.

Hmm, below mediocre, yep, it is ! It’s very cold dessert.

Trivia

Ending Rumah Dara berakhir dengan adegan Dara VS Julie Estelle di mobil. Hmmm, Safe Haven juga hampir sama.

Quote

Something : Papa (haha, is it a quote ?)

V/H/S (2012) : Bad and Good Apples In One Basket Labelled “Horror”

Sutradara : Ti West, Adam Wingard, Joe Swanberg, Radio Silence, Glenn McQuaid, David Bruckner

Tagline : The Collection is Killer

“The best thing is you don’t need wait for the last one third part, just to get the final climax.”

About

V/H/S adalah film horror berupa mockumenter antologi yang berisi beberapa segmen film pendek dan bergabung menjadi satu. Film Amerika yang masih direlease secara terbatas ini turut disutradarai oleh Ti West dan beberapa sutradara lainnya.

Tape 56 menjadi segmen yang menyatukan segmen-segmen yang lain, diawali dengan gerombolan berandalan yang memasuki sebuah rumah kosong. Ketika semua anggota sibuk menjarah, salah satu anggota ditugaskan untuk menonton terlebih dahulu kaset-kaset yang isinya ternyata melebihi dari yang mereka duga.

Amateur Night menjadi pembuka yang cukup berhasil, dikisahkan tiga orang pemuda amatir membawa dua gadis misterius ke sebuah motel. Salah satu gadis yang mereka bawa sejak awal telah berperilaku aneh dan benar, dia bukanlah gadis biasa. Segmen ini cukup menegangkan dan menonjol disbanding segmen lain, menampilkan gore yang tidak terlalu berlebihan namun cukup efektif untuk membuat penonton merasa ngilu.

Second Honeymoon dengan alur khas Ti West, bisa dikatakan sangat lambat. Jika menyukai karya terakhir Ti West, The Innkeepers, mungkin akan menyukai film ini. Jalan ceritanya ringan dan merupakan paling realistis dari semua segmen, berkisah tentang pasangan yang menjalani road trip sebagai bulan madu mereka. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan gadis misterius yang meminta dengan ‘aneh’ untuk sebuah tumpangan. Segmen in tentunya bukan segmen untuk semua orang, dengan durasi yang cukup lama.

Tuesday, The 17th adalah segmen paling lemah. Mungkin inilah alasan mengapa Drew Goddard/Joss Whedon membuat film The Cabin In The Woods. You will know the story. Empat orang sahabat dengan karakter formulaic pergi berlibur ke sebuah danau bekas lokasi pembunuhan.

The Sick Thing That Happened to Emily When She Was Younger, inilah versi paranormal activity namun kedua actornya menggunakan media webcam. Emily dan James adalah pasangan jarak jauh yang menggunakan webcam sebagai media komunikasi. Masalah datang ketika Emily mengatakan bahwa apartmentnya sedang dihantui dan meminta bantuan James untuk menolongnya via webcam. Twist yang disajikan cukup memuaskan pada segmen ini.

Dan segmen terakhir adalah 10/31/98, sebagai segmen penuh dengan efek visual, bercerita tentang sekumpulan pemuda yang memasuki rumah kosong pada haloween. Tanpa mereka sadari, mereka terlalu dalam menelusuri rumah hingga menemukan misteri di didalamnya.

Quote

I like you